• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Senin, 05 Desember 2016

Mimpi buruk tidak diceritakan

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 19.00 No comments


Mimpi buruk, kok diceritakan?

Pertanyaan.
Apakah ada larangan dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang menceritakan mimpi buruk sampai tidak terwujudkan? 


  Jawaban.

🔹Yang paling benar pada masalah ini adalah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم *melarang kita menceritakan mimpi buruk* baik itu terwujudkan atau tidak. 
Oleh karenanya Imam Bukhori membuat bab tentang "Apabila ia mimpi buruk maka jangan diceritakan dan jangan disebutkan"

Kemudian membawakan hadits Abu Salamah, berkata, 'Aku pernah mimpi yang membuatku sakit, sampai aku mendengar Abu Qotadah berkata, 'Sungguh aku pernah bermimpi hingga membuatku sakit hingga aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

الرُّؤْياَ الحَسَنًةُ مِنَ اللهِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلَا يُحَدِّثْ بِهِ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفِلْ ثَلَاثًا وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

"Mimpi yang baik dari Alloh. Apabila salah seorang dari kalian bermimpi baik maka jangan diceritakan kecuali kepada orang yang ia cintai. Siapa yang bermimpi yang tidak disukainya, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan dari kejahatan setan, dan hendaklah meludah tiga kali dan jangan menceritakannya kepada seorang pun, niscaya mimpi itu tidak membahayakannya.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

🔹 Adapun Hadits Abu Razin tentang sabda Nabi صلى الله عليه وسلم ;"Mimpi seorang muslim adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian....
akan tetapi dlm hadits itu dhoif.

🔹Yang namanya mimpi adalah mimpi artinya ia bukanlah berwujud  zahir aslinya pada setiap keadaan...

(Adab-adab tidur dan bermimpi sudah banyak tersebar, tinggal diaplikasikan dengan benar, teguh, dan jangan lupa jauhi maksiat-maksiat - _pentrj_ ) Wallahu A'lam


diterjemahkan oleh Abu Abdillah Riza Firmansyah dari situs berbahasa arab ahlalhdeeth.com

Selasa, 01 November 2016

FATWA DEMO 4 NOVEMBER 2016 (3)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 16.32 No comments
Teks chat bersama beliau:

Pertanyaan saya:

السلام عليكم يا فضيلة شيخنا أريد أن أسأل سماحتكم عن أمر يَهُمّ  جميع المسلمين الإندونسين وهو إن رئيس مدينة جاكرتا يستهزء بالقرآن وعلماء المسلمين وهو كافر يدين النصرانية. وفي الرابع من نوفمبر سوف تقام المظاهرة لطلب محاكمته. هل يجوز لنا الخروج عليه علما بأنه كافر لا طاعة له.  والمظاهرة يراعى فيها الأدب وعدم إفساد المرافقة العامة وغير ذالك. هل يجوز لنا المشاركة في هذه المظاهرة؟ أفيدونا يافضيلة شيخنا أفادكم الله وجزاكم خيرا

“Assalamu alaikum wahai syaikh kami. Saya ingin bertanya kepada yang mulia tentang sebuah perkara yang sangat penting bagi seluruh kaum muslimin Indonesia. Perkara tersebut adalah bahwasanya Gubernur Jakarta mencela Al-Quran dan ulama islam sedangkan dia adalah kafir memeluk agama nashrani. Dan pada tanggal 4 november akan diadakan demo untuk meminta agar dgubernur tersebut diadili. Apakah kita boleh ikut keluar berdomo menimbang bahwasanya dia adalah kafir yang tak perlu ditaati. Dan di dalam demo tersebut juga akan dijaga adab-adab dan tidak merusak fasilitas umum, dsb. Apakah boleh bagi kami untuk mengikuti demo ini? Berikan kepada kami faidah wahai syaikh kami yang mulia. Semoga Allah memberikan faidah pula kepadamu dan membalasmu dengan kebaikan”.

Beliau hafidzahullah menjawab:

لا أنصح بالمظاهرات مطلقا وان ربك لبالمرصاد

“Aku tidak menasihati kamu untuk berdemo secara mutlak. Dan sesungguhnya RabbMu selalu mengawasi mereka”.

(Teks chating melalui WA oleh Abdurrahman al amiry dengan Syaikh Ali hasan) alamiry.net

Fatwa demo 4 november 2016 (2)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 16.24 No comments
FATWA DEMO 4 NOVEMBER
SYAIKH ‘ABDUL MUHSIN AL-‘ABBAD -hafizhahullaah-
(sekarang beliau berusia 85 tahun -hitungan tahun Hijriyyah-):

قَالَ: رَئِيْسُ مَدِيْنَةِ جَاكَارْتَا يَسْتَهْزِئُ بِالْقُرْآنِ وَعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَهُوَ نَصْرَانِيٌ، وَفِي رَابِعِ نُوْفِمْبَر: سَتُقَامُ الْمُظَاهَرَةِ لِطَلَبِ الْمَحَاكَمَةِ. هَلْ يَجُوْزُ لَنَا الْخُرُوْجُ؟ عِلَمًا بِأَنَّهُ كَافِرٌ لاَ بَيْعَةَ لَهُ، وَالْمُظَاهَرَةُ يُرَاعَى فِيْهَا الأَدَبُ، وَعَدَمُ إِفْسَادِ الْمَرَافِقِ الْعَامَّةِ.

[قَالَ الشَّيْخُ]: الْمُظَاهَرَاتُ وَالْمُشَارَكَةُ فِيْهَا: غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَلٰكِنْ يَعْمَلُوْنَ مَا يُمْكِنُهُمْ مِنْ غيْرِ الْمُظَاهَرَاتِ؛ يُكْسِبُوْنَ وَيَذْهَبُوْنَ يَعْنِيْ يَذْهَبُ أُنَاسٌ لِمُرَاجَعَةِ الْمَسْؤُوْلِ الأَكْبَرِ…

(Penanya) berkata: Gubernur Kota Jakarta mengolok-olok Al-Qur’an dan Ulama kaum muslimin, dia seorang Nashrani. Dan pada tanggal 4 November akan diadakan Demonstrasi untuk meminta agar dia dihukum. Bolehkah kita ikut keluar (berdemo)? Dan kita ketahui bahwa dia adalah kafir, yang kita tidak wajib untuk membai’atnya. Dan juga: di dalam Demonstrasi tersebut akan dijaga adab-adabnya dan tidak ada perusakkan terhadap fasilitas umum.

(Syaikh menjawab): “Demonstrasi dan ikut serta di dalamnya: TIDAK DIBENARKAN. Akan tetapi mereka (kaum muslimin) bisa melakukan usaha dengan (mengutus) beberapa orang untuk pergi menasehati pimpinan terbesar (Presiden)…”

Ditanyakan oleh sebagian Mahasiswa Madinah -yang kami cintai karena Allah-, pada waktu Maghrib, 31 Oktober 2016 M (semoga Allah membalas semuanya dengan kebaikan).
Sumber: Grup WA Kajian Islam Ilmiah Bontang - darussalaf

Minggu, 30 Oktober 2016

FATWA DEMO 4 NOVEMBER 2016 (1)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 22.39 No comments

Fatwa Mengingkari Gubernur Kafir Penista Al Quran

Segala puji hanya milik Allah, semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam beserta keluarga dan para Sahabatnya. Amin
Semoga Allah Ta'la selalu menjaga Islam, negara kita Indonesia, serta seluruh kaum muslimin di seantero jagat raya.
Dari sekian pertanyaan yang saya lontarkan kepada beberapa Ulama kami termasuk kepada Syaikh Sholih Al Fauzan tentang hukum mengingkari pemimpin kafir penista agama dengan cara unjuk rasa, jawabannya hanya sedikit yang mengisyaratkan bahwa hindari ikut campur dalam demo dan itupun jawabannya secara umum dan ringkas dan menunjukkan kehati-hatiannya.
Saya berhusnuzzhon kepada para Ulama yang tidak sempat menjawab pertanyaan tersebut karena itulah kebiasaan para Ulama ketika disodorkan pertanyaan yang menyangkut orang banyak, darah, kehormatan, stabilitas negara jarang merespon dan seringnya diam dan itulah ILMU. Diamnya Ulama adalah DALIL agar ummat juga harus banyak diam, dan berhati-hati.

 السلام عليكم ورحمة الله 

فضيلة الشيخ كيف يكون إنكار المنكر لمن استهزأ بالقرآن ووصفه بالكذب. وقد صدر هذا القول من الأمير النصراني للعاصمة جاكرتا وأنكره كل مسلم وأقاموا المظاهرات يتطالبون بمحاكمة هذا الكافر.
                                            ------------------
تلميذك الفقير الى عفو ربه أبو عبد الله ريزا الاندونيسي

Tanya: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 

Wahai Fadhilatus-Syaikh, bagaimanakah cara mengingkari kemungkaran terhadap orang yang mengolok-olok Al Qur'an dan menuduhnya sebagai kebohongan. Ucapan seperti ini telah diucapkan oleh Gubernur Ibukota Jakarta yang beragama Kristen. Semua muslim mengingkari perbuatannya dan melakukan demonstrasi menuntut pengadilan untuk orang kafir ini. 

Dari murid anda yang faqir kepada ampunan Tuhan nya, Abu Abdillah Riza Al Indunisi

الجواب:
وعليكم السلام ورحمة الله.. كل ينكر بحسب موقعه وقدرته فصاحب السلطان بالقضاء والسلطان وصاحب العلم باللسان والحجة والبيان

Jawaban Fadhilatu Syaikh DR. 'Ishom As Sinani -hafizhahullahu Ta'ala- 
(Murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin, Dosen sekaligus Anggota Dewan Istisyar penanganan Kelompok2 sesat di Qashim KSA)
Waalaikumussalam warahmatullahi...masing-masing orang memiliki cara pengingkaran sesuai kedudukan dan kemampuannya.
Adapun jika ia seorang yang memiliki kekuasaan maka mengingkari dengan keputusan (pengadilan) serta kekuasaan. jika ia memiliki ilmu maka mengingkari dengan lisan, hujjah, dan penjelasan.

(soal jawab via WA pada Rabu malam, 19 oktober 2016)

Faedah Fatwa:
1. Ringkasnya Jawaban Syaikh menunjukkan kehati-hatian Beliau dalam masalah umat banyak terlebih jika hal itu dapat memicu kepada hal yang lebih berbahaya.
2. Beliau tidak menjawab bolehnya demonstrasi karena demonstrasi tidak diperbolehkan oleh Islam.
3. Wajib mengingkari kemungkaran, akan tetapi dengan metode yang baik dan benar sesuai Al Qur'an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Para Salaf.
4. Mengingkari orang yang menghina Al Qur'an atau menghina Allah adalah kewajiban.
5. Jika penghujat dan penghina Al Qur'an adalah seorang pemimpin maka ini adalah kewajiban Ulama untuk menasehatinya dengan empat mata sebagaimana dalam hadits.
6. Bagi yang memiliki Jabatan tinggi semisal Presiden, Menteri, Hakim dan semisal mereka hendaklah menegakkan hukum bagi penista Al Qur'an.
Wallahu A'lam.

Abu Abdillah Riza http://hidayahsalaf.blogspot.co.id/

Rabu, 19 Oktober 2016

PEMIMPIN KAFIR? TAFSIR SURAT AL MAIDAH:51

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 06.46 No comments
HARAM MENGANGKAT PEMIMPIN KAFIR (TAFSIR AL MAIDAH : 51)

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” QS. Al Maidah: 51

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى الذين هم أعداء الإسلام وأهله ، قاتلهم الله ، ثم أخبر أن بعضهم أولياء بعض ، ثم تهدد وتوعد من يتعاطى ذلك فقال : ( ومن يتولهم منكم فإنه منهم [ إن الله لا يهدي القوم الظالمين ] )
قال ابن أبي حاتم : حدثنا كثير بن شهاب حدثنا محمد - يعني ابن سعيد بن سابق - حدثنا عمرو بن أبي قيس عن سماك بن حرب عن عياض : أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد ، وكان له كاتب نصراني ، فرفع إليه ذلك ، فعجب عمر [ رضي الله عنه ]وقال : إن هذا لحفيظ ، هل أنت قارئ لنا كتابا في المسجد جاء من الشام؟ فقال : إنه لا يستطيع [ أن يدخل المسجد ] فقال عمر : أجنب هو؟ قال : لا بل نصراني . قال : فانتهرني وضرب فخذي ، ثم قال : أخرجوه ، ثم قرأ : ( يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء [ بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين ] )
Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan Surat Al-maidah ayat 51 diatas : Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yg beriman utk loyal kpd orang2 Yahudi & Nasrani. Mereka itu musuh Islam & sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bhw mereka itu adl auliya thp sesamanya. Kemudian Allah mengancam & memperingatkan bagi orang mu’min yg melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tdk memberi petunjuk kpd orang2 yg lalim.(Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/132).

Lalu Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab -radhiyallahu'anhu- Bahwasanya Umar bin Khathab  -radhiyallahu'anhu- memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari -radhiyallahu'anhu- bhw pencatatan pengeluaran & pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yg beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya utk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dgn hasil pekerjaannya. Ia berkata: Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam utk membacakan laporan-laporan di depan kami? Abu Musa menjawab: Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram. Umar bertanya: Kenapa? Apa karena ia junub? Abu Musa menjawab: bukan krn ia seorang Nasrani. Umar pun menegurku dgn keras & memukul pahaku & berkata: pecat dia!. Umar lalu membacakan ayat diatas.

Keberadaan orang kafir yg menguasai orang2 beriman maka ia akan bertindak dzalim bahkan ia akan memusuhi umat Islam (lihat QS.Al-baqarah ayat 120).

Kamis, 13 Oktober 2016

Para da'i jangan mengabaikan dakwah Tauhid (Nasehat Ulama)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 07.31 No comments
Wahai Para da’i, jangan abaikan dakwah Tauhid (Nasehat Ulama)

Memulai dakwah Tauhid dan meninggalkan syirik membuat orang lari, memecah belah umat...
Memulai materi akhlaq dan fiqih atau semisalnya adalah wasilah saja...
maksudnya agar orang akrab dengan dakwah kita...
materi dakwah yang sedang booming adalah fiqih...
ente jangan iri ya akhii karena pengikut ane banyak...

ini diantara sekian banyak alasan banyak para Da'i yang tidak akan ada ujungnya.


لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا 
رَسُولُ اللَّهِ

“Tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman bersabda: 
“Sungguh 
kamu akan menjumpai kaum Ahli kitab, maka ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.
HR. Bukhari & Muslim

Pelajaran Hadits:
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan di dalam kitabnya yang berjudul I’anatul Mustafid Bisyarhi Kitab At Tauhid (cet. Ke-3 Muassasah Ar Risalah thn 1423/2002) 
mengatakan:

-          Dalam hal ini bahwa wajib bagi para Da’i agar mengetahui keadaan orang yang akan didakwahi. Ini adalah metode dakwah, ketika ia akan berdakwah kepada masing-masing individu maka hendaklah menggunakan bahasa yang cocok. Sebagaimana ketika ia berbicara kepada Ulama maka pilihlah bahasa yang sesuai, demikian pula kepada orang awam. Dikarenakan masing-masing manusia tidaklah sama semuanya dalam hal ini, tidaklah pantas seorang berbicara kepada Ulama seperti ia berbicara kepada orang yang bodoh, sebaiknya berbicara kepada orang bodoh tidaklah pantas menggunakan bahasa seperti ketika berbicara kepada Ulama.
Demikian juga halnya ketika ia berbicara dengan para pemimpin tidaklah pantas menggunakan bahasa seperti bicaranya kepada orang awam atau sebaliknya. Jadi masing-masing individu hendaknya diajak bicara dengan menggunakan bahasa yang lebih mendekati kebenaran.
Allah Ta’ala pernah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mendakwahkan Fir’aun;
فَقُولا لَهُ قَوْلاً لَيِّناً لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". QS. Thaha: 44

-       Ajakan kepada kalimat Syahadat di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa dakwah hendaklah dengan cara bertahap atau berangsur-angsur, memulai dari perkara yang paling penting kemudian berlanjut kepada perkara penting lainnya karena ini adalah metode para Rasul yakni memulai dakwah dengan menjelaskan kalimat Syahat Lailaha illallah yang merupakan dasar pokok dan pondasi agama. Jika makna kalimat Syahadat ini sudah terwujud maka sudah memungkinkan untuk mengajarkan hal lainnya. Sebaliknya jika belum terwujudnya hakekat makna La ilaha illallah maka perkara lainnya tidaklah berguna. Maksudnya janganlah kamu mendahulukan masalah shalat sedangkan orang itu masih berbuat syirik, demikian pula ibadah lainnya seperti puasa sedekah zakat, silaturrahim dan lainnya sedangkan mereka masih menyekutukan Allah karena kamu belum membangun pondasi yang pertama.

-       Metode ini sangatlah berbeda dengan kebanyakan para Da’i dewasa ini yang tidak terlalu memberikan porsi yang besar kepada dakwah La ilaha illallah, yang mana mereka mengutamakan dakwah agar orang meninggalkan riba dan muamalah yang baik, berhukum dengan hukum Allah dan lain-lain. Akan tetapi mereka tidaklah menyebutkannya dan tidak memperhatikannya seolah-olah dakwah Tauhid tidaklah wajib. La haula wala quwwata illa billah.

Ditulis oleh Abu Abdillah Riza http://hidayahsalaf.blogspot.co.id/



  

Minggu, 18 September 2016

Godaan Setan, Halus dan Terprogram

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 00.57 No comments
Godaan Setan, Halus dan Terprogram

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Ini adalah pedoman pokok yang harus dipegang dan tidak boleh dilupakan. Munculnya perpecahan, adu domba, ghibah, hasad, fitnah, maksiat-maksiat, bid’ah, bahkan kesyirikan yang semarak di tengah umat merupakan perwujudan visi dan misi setan di atas muka bumi ini dan tidak sampai di situ saja sampai ia akan menyeret manusia agar masuk ke dalam neraka.
Setan memusuhi manusia bukanlah semata dengan cara menampakkan wujud aslinya dan mengajak manusia untuk bertarung. Akan tetapi sungguh langkah-langkah setan sangatlah terprogram sehingga jurus yang paling ampuh sekalipun sudah dirancang untuk menggiring manusia setahap demi setahap sehingga menyesatkan manusia dan menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran.
Ingatlah bahwa iblis telah berikrar di hadapan Allah Ta’ala:
“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. QS. Al Hijr: 39
Bapak kita Adam ‘Alaihissalam selaku Nabi pun berhasil digoda oleh Iblis, apalagi kita yang bukan Nabi. Iblis menggoda Bapak kita Nabi Adam ‘Alaihissalam bukanlah dengan peperangan dan kejelekannya akan tetapi dengan bumbu menarik yang berbahan racun.
Ketika manusia diciptakan, dia dibekali hasrat dan syahwat yang mendorongnya untuk meraih segala manfaat, dianugerahi amarah untuk meng-counter segala yang menyakiti, dan dikarunia akal yang mendidiknya ibarat guru, memerintah manusia secara adil apa yang perlu dilakukan dan apa yang harus dijauhi.
   Setan diciptakan untuk menggoda manusia secara totalitas dalam dua aspek tersebut (untuk melakukan apa yang mestinya ditinggal, dan meninggalkan apa yang mestinya dilakukan). Adalah suatu keniscayaan bagi orang yang berakal untuk mewaspadai sang musuh (setan) yang telah memproklamirkan permusuhannya sejak zaman Adam ‘Alaihissalam. Setan telah menyerahkan seluruh hidup dan jiwanya untuk menghancurkan sepak terjang anak cucu Adam.
         Allah -Subhanahu wa Ta'ala-  memerintahkan kita untuk bersikap waspada terhadap setan.  Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji, dan mengatakan yang tidak kamu ketahui tentang Allah". QS. Al Baqarah: 168-169

Langkah-langkah setan untuk menyesatkan manusia banyak sekali diantaranya:
Langkah pertama: Diajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya.
Seperti megingkari kebenaran Al Quran, ragu akan ayat-ayat al Qur’an, menjauhkan diri dari mempelajari al Qur’an. Meniru gaya hidup orang-orang kafir, cara berpakaiannya, bangga dengan ajaran dan metode orang-orang kafir.
contoh memusuhi Allah dan
Rasul-Nya yakni dengan menentang perintah dan laranganNya, tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul Nya, bangga dengan pendapatnya daripada pendapat Allah dan Rasul Nya, mencela dan merendahkan orang-orang yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul Nya.
Langkah kedua: Diajak pada perbuatan bid’ah
Seperti membuat ajaran baru berupa perayaan serta dzikir-dzikir tertentu yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi  Rasulullah  -Shalallahu’alaihi Wasallam- dan para Sahabat karena di dalamnya terdapat sebuah makna bahwa Rasulullah Rasulullah  -Shalallahu’alaihi Wasallam- menyembunyikan syariat dan belum menuntaskannya.
Ketika manusia itu memiliki aqidah Tauhid dan selamat dari bid’ah maka setan akan mendatanginya dari langkah berikut
Langkah ketiga: Diajak pada dosa besar

Dosa besar itu banyak dan bermacam-macam, diantaranya; meninggalkan shalat, puasa, zakat, dosa membunuh, dosa berzina, dosa minum khamr, dan lainnya. Maka bagi kebanyakan muslim mudah untuk menjauhinya. Akan tetapi ketika dosa itu berkaitan dengan lisan yang tak bertulang seperti; ghibah, namimah, fitnah, ataupun dosa yang berkaitan dengan hati berupa; dosa rasa dengki, iri hati (hasad), gengsi, sakit hati, mengikuti nafsu syahwat maka jarang sekali orang terbebas dari hal itu. Na’udzubillah
Langkah keempat: Diajak dalam dosa kecil

Seperti memandang hal-hal yang mungkar, senang kepada nyanyian, tasyabbuh (mengikuti dan menyerupai) gaya hidup dan metode orang-orang kafir, dan lainnya.
Langkah kelima: Disibukkan dengan perkara mubah (yang sifatnya boleh, tidak ada pahala dan tidak ada sanksi di dalamnya)
contohnya ponsel HP, asalnya mubah akan tetapi apabila HP digunakan untuk tolong-menolong dalam berbuat dosa, maksiat dan permusuhan maka dapat beralih kepada keharaman. HP digunakan untuk ghibah, namimah, dan memfitnah maka hal itu juga dapat bernilai haram.
Langkah keenam: Disibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal

Contohnya seseorang sibuk dengan shalat sunnah sedangkan iqamat untuk shalat fardhu berjamaah dilalaikan. Contoh lainnya sibuk rapat membahas perdagangan dan hal keduniaan lainnya serta melalaikan shalat berjamaah tepat pada waktunya. Contoh lainnya sibuk membicarakan kekurangan orang lain akan tetapi lalai dari membicarakan dan menasehati kekurangannya sendiri, sehingga itupun akan mengarah kepada keharaman.

      Allah juga berfirman dalam ayat-ayat Nya yang lain,
"Setan menjanjikan  (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan  menyuruh kamu berbuat keji (kikir)".
QS. Al Baqarah: 268
"Dan    setan    bermaksud   menyesatkan    mereka    (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya". QS. An-Nisaa: 60
"Setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?". QS. Al Maidah: 91
"Sungguh, dia (setan) adaslah musuh yang jelas menyesatkan". QS. Al Qashas: 15
Pada ayat yang lain Allah -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah dia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala". QS. Faathir: 6
"Dan jangan   sampai kamu   terpedaya   oleh  penipu  dalam (menaati) Allah". QS. Luqmaan: 33
"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu". QS. Yasin: 60
Dan, masih banyak lagi ayat-ayat yang semisalnya.
    Sudah selayaknya kita tahu bahwa Iblis, adalah makhluk pertama yang melakukan pembangkangan. la menolak bersujud kepada Adam, sebagaimana diperintahkan secara jelas dan lugas dalam dalil nash Al Quran. la justru membandingkan dirinya dengan Adam. la berkata:
“ Aku lebih  baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". QS. Shaad: 76
Iblis   selanjutnya   mengadukan   hal   itu   kepada   Allah -Subhanahu Wa Ta'ala-   Iblis rnenyatakan:
'Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan aku?" QS. Al Israa: 62
Maksudnya,    "Jelaskan   kepadaku,    mengapa   Engkau   lebih memuliakan   dia    ketimbang    aku?"     Pengaduan    tersebut    telah  menjerumuskan Iblis pada sikap, bahwa tindakan yang diambil Allah -Subhanahu Wa Ta'ala-  tidak bijaksana.     Kemudian     Iblis     bersikap     sombong,     dengan berkata :
"Aku lebih baik daripadanya". QS. Shaad: 76

Iblis menolak perintah Allah -Subhanahu Wa Ta'ala- . Maka, Allah pun merendahkan dia yang membanggakan diri dengan laknat dan adzab.
       
    Jabir bin Abdullah  -Radhiyallahu ‘anhu-  Meriwayatkan, dia berkata bahwa Rasulullah -Shalallahu’alaihi Wasallam- bersabda:
"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya. Pasukan yang posisinya berada paling dekat bertugas paling berat untuk menerbarkan fitnah. Salah satu dari mereka datang lalu berkata, 'Aku telah melakukan ini dan itu ' Iblis berkata, 'Engkau belum melakukan apa pun. '
Rasulullah melanjutkan, "Salah seorang dari mereka datang, lalu bekata, 'Aku tidak meninggalkannya sebelum aku berhasil menceraikan orang dari istrinya’.  Iblis menghampirinya, "   lanjut beliau atau beliau bersabda,     "la  menyetujuinya",    "seraya    berkata,     'Engkau   yang terbaik".  HR. Muslim no. 2813
Jabir  -Radhiyallahu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Nabi -Shalallahu’alaihi Wasallam-   bersabda:
"Sungguh, Iblis telah putus asa atas orang-orang yang shalat, untuk mau menyembahnya ( iblis ). Akan   tetapi,    dia   selalu   menebar kedengkian diantara manusia“. HR. Muslim 1816
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari segala macam program-program iblis. Wallahu A’lam

Ditulis oleh Abu Abdillah Riza Firmansyah



Cari Artikel Hidayahsalaf