• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Rabu, 15 Juli 2015

AIR MATA BAHAGIA DI HARI RAYA

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.59 No comments




Segala puji bagi Alloh dengan limpahan nikmat-Nya terkhusus nikmat dimudahkannya kita memasuki bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fithri. Semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam, keluarga beserta Para Sahabat yang setia.

Para Pembaca yang berbahagia,
Berjuta kenangan indah dengan segala kebaikan, keutamaan, dan nikmatnya ibadah telah terukir pada bulan Ramadhan yang takkan terlupakan sepanjang masa menjadikan Ramadhan bulan yang agung dan selalu dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya bagi orang-orang yang beriman.

Berjuta kenangan terindah karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia ketika mereka dulunya tersesat.

Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.QS. Al Baqarah: 185

Berjuta kenangan terindah karena Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya syetan-syetan.
Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila telah datang Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu”. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, dll)

Berjuta kenangan terindah karena Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan dimana pahala ibadah dilipat gandakan menjadi seribu bulan.

Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. QS. Al Qadr: 1-5

Dan masih banyak lagi berjuta kenangan terindah tak terlupakan yang telah dikabarkan oleh Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam.

Maka beruntunglah orang-orang beriman yang dapat merasakan manisnya kenangan-kenangan terindah tersebut ketika terkumpul di dalam sanubarinya dua hal yang dituntut oleh Syariat, yang pertama yakni berharap agar seluruh amal kebaikan yang dia usahakan dapat diterima oleh Alloh Ta’ala, dan yang ke dua yakni khawatir apabila amal-amal yang telah ia usahakan tidak diterima di sisi Alloh Ta’ala.

Seorang yang beriman tidak perlu bersedih dengan kepergian Ramadhan akan tetapi hendaklah ia jelang dan hadapi bulan-bulan berikutnya dengan berusaha istiqomah seperti yang ia telah amalkan pada bulan Madrasah yakni bulan Ramadhan. Seorang yang beriman hendaklah selalu memohon kepada Alloh Ta’ala agar ia dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.
Imam Ibnu Rajab berkata di dalam kitab Lathaiful Ma’arif  1/232: “Sebagian Salaf (Ulama Sholih terdahulu-pen) mereka berdoa memohon kepada Alloh selama 6 (enam) bulan agar bertemu dengan bulan Ramadhan kemudian berdoa juga 6 (enam) bulan berikutnya agar Alloh menerima ibadah mereka”.
Mu’alla bin Al Fadhl berkata: “Mereka (para Salaf)  berdoa kepada Alloh selama 6 (enam) bulan agar Alloh mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan".   [Ad Durrul Mantsur  1/454 oleh As Suyuthi, Wazhaif Ramadhan hal. 21]

Zakat Fitrhi Sebagai Pembersih

Saatnya kaum muslimin sedikit berbagi makanan pokok kepada orang-orang miskin ketika menjelang lebaran sebagai pembersih dari kesalahan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan.
Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنَ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ .
 “Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri gunanya sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan maksiat, juga untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (ied) maka ia zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka ia adalah sedekah biasa dari beberapa macam sedekah”.  [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani]

Bahagia di Hari Raya

Ketika hari Raya telah tiba Alloh Ta’ala mengizinkan kaum muslimin untuk bergembira dan bersenang-senang sesuai batas-batas syar’i, yakni dikarenakan Fadhilah (karunia) dan Rahmat dari Alloh Ta’ala. Sebagaimana mereka juga berbahagia dengan ibadah-ibadah lainnya terutama yang diamalkan oleh kaum muslimin pada bulan suci Ramadhan.
Alloh Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". QS. Yunus: 58

Hari Raya Iedul Fithri adalah bentuk kasih sayang Alloh Ta’ala kepada kaum muslimin, mereka menampakkan kesenangan dan kebahagiaan dengan makan dan minum serta bermain-main bersama kerabat dan teman-teman.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلِأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Dari Anas berkata, ‘Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam memasuki Madinah, sedangkan penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main padanya. Beliau berkata: “Aku menjumpai kalian sedangkan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain-main padanya, Maka sesungguhnya Alloh telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya yakni hari Raya Fithri dan Hari Raya Sembelihan (Adha)”. [HR. Ahmad 3/103,178,230, Abu Dawud 1134, An Nasa’I 3/179, dan Al Baghawi 1098].

Bahkan dari hadits Aisyah Radhiyallohu’anha pernah menyebutkan dua orang gadis mendendangkan alunan suara dengan iringan rebana pada hari Raya yang hal itu disaksikan langsung oleh Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam menunjukkan bolehnya bagi kaum seperti mereka dan tidak selainnya dikarenakan hari Raya adalah hari bersenang-senang, makan minum, dan bermain.
Ketika hal itu diingkari oleh Abu Bakar, maka Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam seraya menjelaskan; “wahai Abu Bakr, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari Raya, dan inilah Hari Raya kita”. [HR. Bukhori dan Muslim].

Adapun dendangan dan lantunan lagu-lagu dengan kata-kata yang tidak pantas dan mengarah kepada cinta dan maksiat serta menampakkan kemungkaran maka hal ini diharamkan. [Ahkamul ‘Iedain hal. 17 oleh Syaikh ‘Ali Hasan Al Halabi Al Atsari]

Bermain-main, menampakkan kegembiraan, berkumpul dan saling berkunjung kepada sesama kerabat dan teman hal ini asalnya mubah (boleh).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dan di dalam hadits ini (hadits ‘Aisyah) terdapat beberapa faidah diantaranya; disyariatkannya berlapang dada kepada keluarga pada hari-hari Raya dengan berbagai macam hal yang dapat mewujudkan hati yang lapang dan badan yang sehat dari ibadah itu. Dan menjauhkan diri dari hal itu lebih utama. Dan di dalamnya (hadits) bahwasanya menampakkan kegembiraan ketika hari-hari Raya termasuk Syiar agama”. [Fathul Bari 2/443, Ahkamul ‘Iedain hal. 18]

Kaum muslimin pada hari Raya menampakkan hal-hal yang menyenangkan tersebut karena Rahmat Alloh Ta’ala dan sebagai perwujudan syukur mereka akan nikmat Alloh Ta’ala yang begitu indah.

Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:

 لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengannya; ketika berbuka ia gembira, dan ketika berjumpa dengan Tuhannya ia gembira dengan puasanya”. [HR. Bukhori & Muslim].
Ibnu Rajab mengomentari hadits tersebut mengatakan: “Adapun kegembiraan orang yang berpuasa ketika berbuka dikarenakan jiwa itu tabiatnya condong kepada makanan, minuman, nikah (hubungan suami istri). Maka apabila suatu saat ia tidak mendapatkan hal itu atau dilarang kemudian dibolehkan pada waktu lainnya maka ia gembira dari tadinya dilarang terlebih lagi ketika ia sangat butuh kepada hal tadi”. [Durus Ramadhan hal.13]

Beliau (Ibnu Rajab) juga berkata: “Adapun kegembiraannya ketika berjumpa dengan Tuhannya, gembira karena mendapatkan pahala yang tersimpan di sisi Alloh”. [Durus Ramadhan hal.14]
Bahkan ada diantara kaum muslimin termasuk orang awam yang saking gembiranya dengan mudah bagi mereka meneteskan air mata dan tidak dapat menahannya di hari Raya yang penuh dengan kegembiraan yang dihalalkan oleh Syariat. Demikianlah mudahnya syariat Islam agama Fitrah yang sempurna dan paripurna ini yang dimana tangisan seperti itu tidaklah bertentangan dengan agama Fitrah yakni Islam.

Al Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh menyebutkan di dalam Zadul Ma’ad  bahwasanya tangisan itu terbagi menjadi 10 (sepuluh) macam:
1.       Tangisan Khauf (takut) dan Khosyah (Khawatir)
2.       Tangisan Rahmat (kasih sayang) dan kelembutan
3.       Tangisan cinta dan rindu
4.       Tangisan gembira dan senang
5.       Tangisan keluh kesah dari adanya rasa sakit dan tidak mampu menahannya.
6.       Tangisan sedih
7.       Tangisan karena lemah
8.       Tangisan nifaq
9.       Tangisan sandiwara
10.   Tangisan ikut-ikutan.
Syaikh Sholih bin ‘Awad Al Maghamisi hafizhahullohu Ta’ala  pernah ditanya tentang apa hukum bersedih dari berpisah dengan Ramadhan, ia berkata: “Tidak selayaknya bersedih dari berpisah dengan Ramadhan karena Alloh Ta’ala berfirman (artinya): “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. Maka Alloh memerintahkan kita untuk bertakbir, dan takbir tidaklah terjadi melainkan karena bahagia.

Takbir Sebagai Wujud Rasa Syukur di Hari Raya

Gema takbir berkumandang pada hari Raya sebagai wujud rasa syukur kita kepada Alloh Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. QS. Al Baqarah: 185

Di dalam sebuah Atsar  dari Az Zuhri bahwa Nabi shallallohu’alaihi wa sallam:
كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
“Adalah beliau keluar pada hari Raya Fithri kemudian bertakbir sampai tiba di lapangan tempat shalat dan sampai menunaikan shalat, maka apabila beliau telah tunaikan shalat beliau berhenti bertakbir”. [HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al Mushonnaf dan Al Mahamili di dalam Kitab Sholat Al ‘Idain dengan sanad yang shohih akan tetapi mursal akan tetapi ia memiliki saksi-saksi yang menguatkannya, lihat Al Silsilah Al Ahadits Ash Shohihah 170]

Al Imam Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahulloh  berkata: “Di dalam hadits itu terdapat dalil tentang disyariatkannya takbir dengan jahar sebagai kebiasaan kaum muslimin di jalan menuju lapangan tempat shalat walaupun sebagian orang ada yang meremehkan sunnah ini”. [Ahkamul ‘Iedain 27]

Syaikh ‘Ali Hasan Al Halabi Al Atsari hafizhahulloh menyebutkan: “Jahar yang tidak dibolehkan di sini adalah jahar dengan satu suara dan berjamaah sebagai yang diamalkan oleh sebagian kaum muslimin”. [Ahkamul ‘Iedain hal. 28]

Tentang kapan dimulainya takbir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata: “...dan disyariatkan bagi setiap orang untuk menjaharkan takbir ketika keluar ke (lapangan) ied, dan ini adalah kesepakatan Imam yang empat”. [Majmu’ al Fatawa 24/220]
Dari Ibnu Mas’ud berkata ketika menerangkan sifat takbir yang terkandung di dalamnya dakwah Tauhid: “Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa ilaaha illallohu wallohu Akbar, Allohu Akbar walillahil Hamd”. HR. Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan sanad yang shohih

Berharap Diterimanya Amal Ibadah di Bulan Ramadhan

Para Ulama’ terdahulu (Salaf) berharap agar amal ibadah yang mereka selama bulan Ramadhan diterima oleh Alloh Ta’ala sehingga diantara mereka saling mendoakan agar diterima.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang ucapan selamat di hari Raya: “Adapun ucapan selamat pada hari Raya sebagian mereka dengan sebagian lainnya ketika berjumpa setelah shalat ied: “Taqabbalallohu minna wa minkum (semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan juga kalian), dan semoga Alloh menyempurnakan bagimu, atau semisalnya. Maka hal ini telah diriwayatkan oleh sekelompok Shahabat bahwasanya mereka mengamalkannya, adapun sebagian Imam meringnkan hal itu seperti Ahmad dan selainnya. Akan tetapi Ahmad berkata: “Saya tidak memulai kepada seorangpun, apabila ada orang yang memulainya maka akan Saya jawab, karena menjawab ucapan selamat adalah wajib. Adapun memulai dengan ucapan selamat itu bukanlah sunnah yang diperintahkan dengannya tidak juga dilarang. Barangsiapa yang mengamalkannya maka ia adalah pemberi tauladan, dan orang yang meninggalkannya juga sebagai tauladan, Wallohu A’lam”.
Dan telah dibawakan oleh Al Jalal as Suyuthi di dalam Risalahnya Wushul Al Amani Bi Ushul At Tahani beberapa atsar dari Salaf tentnag penyebutan ucapan selamat, dan telah dicetak pada Al Hawi Lil Fatawi 1/81,82.

Demikian pula Ibnu hajar menyebutkan bahwa para Shahabat Nabi shallallohu’alaihi wa sallam mengucapkan Taqabbalallohu minna wa minka. [Fathul Bari 2/446]
Di dalam Wazhaif Ramadhan Ibnu Rajab berkata: “Para Salaf, mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan dan memperbaiki amalan mereka. Kemudian setelah itu mereka sangat memperhatikan agar amalan mereka diterima, mereka takut jika amalannya tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”. QS Al Mu’minun: 60
Diriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata: “Hendaklah kalian lebih memperhatikan agar amalan kalian diterima (setelah beramal), daripada perhatian kalian terhadap amalan kalian (tatkala sedang beramal). Apakah kalian tidak mendengar firman Alloh:
“Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27

Dari Fadhalah ia berkata: “Saya mengetahui, bahwa Alloh menerima amalan saya walaupun sekecil biji sawi lebih saya sukai daripada dunia dan seisinya karena Alloh berfirman: “Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27”.
Abu Darda’ berkata: “Saya mengetahui, bahwa Alloh telah menerima dariku satu shalat saja lebih aku sukai daripada bumi dan seisinya, karena Alloh berfirman: “Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27”. [Tafsir Ibnu Katsir]
Malik bin Dinar berkata: “Perasaan takut jikalau amalan tidak diterima, lebih berat daripada beramal”.
‘Atha’ As Sulami berkata: “Waspadalah, jangan sampai amalanmu bukan karena Alloh”.
Abdul Azizi bin Abi Ruwwad berkata: “Aku mendapati mereka (para Salaf) sangat bersungguh-sungguh tatkala beramal shalih. Namun jika mereka telah selesai beramal, mereka ditimpa kesedihan dan kekhawatiran apakah amalan mereka diterima atau tidak?”
Oleh karena itu para Salaf setelah enam bulan berdoa agar dipertemukan oleh Alloh dengan Ramadhan. Mereka juga berdoa setelah Ramadhan selama enam bulan agar amalan mereka diterima oleh Alloh.

Istiqomah Setelah Ramadhan Berlalu

Terkadang ada yang merasa rindu dengan kepergian Ramadhan padahal Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam telah memberikan solusi yang tepat untuk mengobati rasa rindu tersebut yakni dengan melaksanakan puasa selama enam hari di bulan syawal sehari setelah hari Raya.
Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti oleh puasa enam hari pada bulan syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa selama setahun”. [HR. Muslim 3/169, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dll]

Tanda-tanda Diterimanya Ibadah Puasa Ramadhan

Syaikh Abdur Razzaq Al Badr di dalam khutbahnya membawakan perkataan para Ulama tentang tanda-tanda diterimanya amal ibadah puasa dan menegakkan ibadah shalat pada bulan Ramadhan yaitu; Hendaklah keadaan seorang hamba setelah bulan Ramadhan lebih tenang, bersyukur, berbuat baik dan patuh kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Apabila seorang hamba dalam keadaan tersebut maka inilah tanda-tanda diterimanya amal dan kebaikan. Adapun sebaliknya wahai para hamba Alloh, apabila keadaan seorang hamba yang tadinya di bulan Ramadhan taat beribadah kemudian meninggalkannya, kembali bermaksiat, maka hal itu bukanlah tanda kebaikan. Ulama’ Salaf terdahulu ketika dikabarkan tentang keadaan sebagian orang yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan dan ketika berlalu mereka meremehkan ibadah, berkata Salaf: ‘Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Alloh melainkan ketika Ramadhan”.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menggugah kembali semangat kita dalam beribadah di bulan syawal dan bulan-bulan indah lainnya. Dan semoga Alloh Ta’ala menerima amal ibadah kita semua dan mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan serta rintihan istighfar dan permohonan ampun dari kekeliruan kita dan kelemahan kita sebagai manusia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wallohu Ta’ala A’lam. 

Abu Abdillah Riza

Referensi:
-          Al Qur’an dan Terjemahannya
-          Ahkamul ‘Iedain
-          Durus Ramadhan
-          Lathaiful Ma’arif
-          Maktabah Syamilah
-          Beberapa situs berbahasa Arab seperti; ahlalhdeeth.com –saaid.net –islamek.net -dll    



Sabtu, 11 Juli 2015

Tanda-tanda malam lailatul qadar

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 10.15 No comments

LAILATUL QADAR

Defenisi Lailatul Qadar:
Sebuah malam dari malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, diturunkan di dalamnya takdir-takdir seluruh makhluk ke langit dunia, Allah mengabulkan doa di dalamnya dan ia adalah malam yang telah diturunkan Al Quran yang Agung. Lihat Mu'jam lughat al-Fuqaha, hal: 326.

قَالَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - : إِنِّي كُنْتُ أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، ثُمَّ نُسِّيتُهَا ، وَهِيَ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ ، وَهِيَ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ ، كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا يَفْضَحُ كَوَاكِبَهَا لاَ يَخْرُجُ شَيْطَانُهَا حَتَّى يَخْرُجَ فَجْرُهَا."
 Rasululloh shallallohu`alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya aku diperlihatkan lalilatul Qadar kemudian dilupakan dariku dan ia ada di sepuluh terakhir (dari bulan Ramadhan) dan ia adalah malam yang baik dan cerah, tidak panas dan tidak pula dingin, seakan-akan di dalamnya ada bulan purnama yang menerangi bintang-bintang, syetan-syetan tidak keluar sampai terbit fajar". HR. Ibnu Khuzaimah, 3/330 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam koreksian beliau akan shahih Ibnu Khuzaimah, 3/330.
ليلة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة
Artinya: "Lailatul Qadar tidak panas tidak juga dingin matahari pagi harinya bersinar lemah kemerah-merahan". HR. Ibnu Khuzaimah, 3/332 dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami', no. 5351.


Merahasiakan Lailatul qadar bagi yang mendapatkannya
Para Ulama telah sepakat bahwasanya dianjurkan bagi orang yang melihat lailatul qadar agar merahasiakannya”
[Fathul Bari 4/268, Al Majmu` 6/461, Ibnu Abidin 2/137
Dan hikmah dari merahasiakannya sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar ketika menukil Al Hawi bahwasanya hal itu merupakan karomah dan karomah selayaknya dirahasiakan dikarenakan orang tidak aman dari riya`”.[Al Muhadzdzab fi Tafsir Juz `Amma oleh Ali bin Nayif Asy Syahud 1/835]

Disebutkan juga oleh sebagian Ulama tentang tanda-tanda lainnya:
Yakni cahaya akan bertambah terang pada malam itu, ketenangan hati, dan kelapangan dada seorang mukmin”

Tanda-tanda yang tidak benar:
Al Hafizh berkata: “Ath Thobari telah menyebutkan tentang sekelompok orang bahwa pohon-pohon pada malam itu jatuh ke tanah kemudian kembali ke tempat tumbuhnya, dan segala sesuatu akan bersujud pada malam itu”.
Dan sebagian mereka menyebutkan bahwasanya air asin berubah menjadi manis pada malam lailatul qadar. ini tidak benar.
Dan sebagian mereka menyebutkan bahwasanya anjing-anjing tidak menggonggong pada malam itu dan tidak terlihat bintang-bintang. Dan ini tidak benar.
[I`anatul Muslim Fi Syarhi Shohih Muslim oleh Sulaiman bin Muhammad Al Luhaimid 1/83]

Faedah:
- Jika demikian, maka tidak perlu mencari-cari tanda lailatul qadar karena kebanyakan tanda yang ada muncul setelah malam itu terjadi. Yang mesti dilakukan adalah memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, niscaya akan mendapati malam penuh kemuliaan tersebut. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2: 149-150)

-Jangan Memilih Malam Ganjil, Malam Lailatul Qadar Bisa Jadi di Malam Genap

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa sepantasnya bagi seorang muslim untuk mencari malam lailatul qadar di seluruh sepuluh hari terakhir. Karena keseluruhan malam sepuluh hari terakhir bisa teranggap ganjil jika yang dijadikan standar perhitungan adalah dari awal dan akhir bulan Ramadhan. Jika dihitung dari awal bulan Ramadhan, malam ke-21, 23 atau malam ganjil lainnya, maka sebagaimana yang kita hitung. Jika dihitung dari Ramadhan yang tersisa, maka bisa jadi malam genap itulah yang dikatakan ganjil. Dalam hadits datang dengan lafazh,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
Carilah malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Bisa jadi lailatul qadar ada pada sembilan hari yang tersisa, bisa jadi ada pada tujuh hari yang tersisa, bisa jadi pula pada lima hari yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021).
Jika bulan Ramadhan 30 hari, maka kalau menghitung sembilan malam yang tersisa, maka dimulai dari malam ke-22. Jika tujuh malam yang tersisa, maka malam lailatul qadar terjadi pada malam ke-24. Sedangkan lima malam yang tersisa, berarti lailatul qadar pada malam ke-26, dan seterusnya (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25: 285).


Cari Artikel Hidayahsalaf