• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Selasa, 10 Januari 2017

Ketika krisis itu datang menyapa

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 01.26 No comments
ISTIGHFAR SOLUSI PENGHAPUS KRISIS

Segala puji hanya bagi Allah ta’ala, semoga shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, keluarga beserta para sahabatnya.
Tidak ada satupun manusia yang hidup di muka bumi ini melainkan pasti akan diuji oleh Allah Ta’ala. Maka seorang muslim jika beriman dengan sebenar benarnya, niscaya ia akan menjumpai hikmah yang berharga dari setiap kejadian yang menimpanya.

Maka hendaklah ia ridho dengan taqdir yang baik maupun taqdir yang buruk dan menyikapinya dengan syariat ilahi agar setiap keladian bernilai pahala disisi Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya”. HR. Muslim

Musibah yang menimpa seorang hamba termasuk krisis perekonomian tidaklah bisa dituntaskan dengan mendatangkan pakar ekonomi akan tetapi kembalilah kepada Dzat yang menciptakan segalanya.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :"Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!".

Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan :"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. 
[Tafsir Al-Khazin, 7/154. Lihat pula, Ruhul Ma'ani, 29/73]
Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.

اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai". 
QS. Nuh: 10-12 
[Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula Al-Muharrar Al-Wajiz, 16/123]

Semoga Allah Ta’ala menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat kita semua. Amiin ya Rabbal ‘Alamin


Ditulis oleh Abu Abdillah Riza Firmansyah

Jumat, 16 Desember 2016

Klarifikasi Tentang Perkataan Persatuan Kebon Binatang

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.25 No comments
Klarifikasi Tentang Perkataan Persatuan Kebon Binatang

بسم الله الرحمن الرحيم

Guru kami Ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawashafizahullah berkata:
Persatuan nisbi bukan untuk sesuatu yang kekal (yakni akhirat), Inilah persatuan kebon binatang….
1) Maksudnya persatuan yang dipaksakan karena adanya tembok dan jeruji besi, karena seandainya tembok dan jeruji besi itu tidak ada niscaya akan saling menerkam. Jadi kalimat tersebut hanyalahperumpamaan atas persatuan semu lagi nisby.
Persatuan seperti ini bukanlah persatuan yang diinginkan oleh Islam, Islam menginginkanpersatuan yang kuat yang dibangun di atas Tauhid, Sunnah dan Manhaj yang benar.
Persatuan yang tidak dibangun di atas Manhaj yang benar tetap saja nisby, karena jika persatuan tersebut benar-benar bersifat ukhrawi (baca: yang kekal) niscaya akan dibangun di atas dasar al-Qur’an, as-Sunnah dengan manhaj yang benar.

Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Ali Imran [3]: 103).

Para ulama tafsir menafsirkan kata Hablullah (tali Allah) dengan beberapa makna, ada yang mengatakan Al-Qur’an, adapula yang mengatakan agama Allah, dan yang lainnya. Ibnul Arabi dan Ibnu Katsir menguatkan bahwa, makna Hablullah adalah al-Qur’an, walaupun semua makna tersebut tidak bertentangan.

Dan jika kita diperintahkan untuk memegang teguh al-Qur’an, maka itu pun berarti memegang teguh Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tidak mungkin kita mengamalkan al-Qur’an tanpa mengamalkan hadits.

Setelah Allah memerintahkan untuk memegang teguh tali Allah, lalu Allah melarang perpecahan. Ini menunjukan bahwa, dengan memegang teguh al-Qur’an dan as-Sunnah maka kita bisa bersatu, sebaliknya dengan meninggalkan al-Qur’an dan as-Sunnah maka kita bercerai berai, dalam hal ini Abdullah bin Abbas berkata:
حِينَ تَبْيَضُّ وُجُوهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوهُ أَهْلِ البِدْعَة وَالْفُرْقَةِ
“Yakni hari ketika putih wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan hitam wajah ahli bid’ah dan perpecahan”. (Tafsir Ibnu Katsir II/92.)

Lihat bagaimana Abdullah Ibnu Abbas mensandingkan kata bid’ah dengan perpecahan, ini menunjukan bahwa, memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah adalah pokok persatuan, dan meninggalkannya adalah pokok perpecahan.
2) Kemudian, sangat buruk ‘persatuan’ yang tidak dibangun di atas landasan al-Qur’an dan as-Sunnah, sangat buruk ‘persatuan’ yang hanya dibangun di atas perasaan apalagi dengan tujuan duniawi yang fana, ialah ‘persatuan’ yang sebenarnya tidak menyatukan, tidak saling menyayangi, juga tidak akan pernah saling membantu untuk mewujudkan tujuan hidup, yakni Ubudiyah, bagaimana bisa sementara mereka sendiri berbeda dalam makna dan perincian ubudiyah, ada yang gemar melakukan kesyirikan adapula yang suka melakukan perkara bid’ah.
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata:
لا يمكن الاجتماع مع اختلاف المنهج والعقيدة
“Tidak mungkin bersatu sementara manhaj dan akidahnya berbeda”. (al-Al-Ajwibah al-Mufidah : 223).

Persatuan yang tidak dibangun di atas landasan al-Qur’an dan as-Sunnah sejatinya adalah perpecahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وَهَذَا التَّفْرِيقُ الَّذِي حَصَلَ مِنْ الْأُمَّةِ عُلَمَائِهَا وَمَشَايِخِهَا ؛ وَأُمَرَائِهَا وَكُبَرَائِهَا هُوَ الَّذِي أَوْجَبَ تَسَلُّطَ الْأَعْدَاءِ عَلَيْهَا . وَذَلِكَ بِتَرْكِهِمْ الْعَمَلَ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Perpecahan ini, yakni yang terjadi antara umat, ulama dan para masayikhnya, demikian pula para penguasanya, ialah perpecahan yang menjadikan musuh-musuh Islam menguasai mereka, itu semua disebabkan karena mereka tidak mentaati Allah dan RasulNya”. (Al-Washiyatul Kubra: 28).

3) Lalu, persatuan yang memang mempunyai banyak kepentingan. Apakah bentuknya uang, atau proyek, atau jabatan, atau kedudukan dan semua persatuan yang tujuannya duniawi. Yang pada akhirnya nanti mereka akan saling berebut (ini maksud dari perumpamaan dengan cakar-cakaran). Allah Ta’ala berfirman :
تَحْسَبُهُمْ جَمِيْعًا وَقُلُوْبُهُم شَتَّى
“Kamu kira hati mereka itu bersatu padahal hati mereka itu terpecah belah. ” (Qs. Al Hasyr: 14)
Yang perumpamaan ini tidak ada kaitannya dengan aksi demo sama sekali.

Kesimpulan penting:
*Guru kami ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawas, mengungkapkan kata-kata di atas setelah menjelaskanbagaimana memegang teguh al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, yang merupakan inti agar kaum muslimin bisa bersatu secara haqiqi.*

*Kemudian ceramah tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan aksi demo yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka sangat disayangkan bagi seseorang yang telah memelintirnya dan mengaitkan potongan ceramah dengan aksi tersebut.*
Oleh karena itu, alangkah baiknya jika ceramah tersebut didengarkan secara lengkap dan utuh.Dan itulah kewajiban kita dalam hal seperti ini, bukankah Allah memerintahkan kita untuk Tabayyun, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat [49]: 6)
Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak akan ada yang mampu memberikan hidayah kepadanya.

https://www.facebook.com/images/emoji.php/v6/fcc/1/16/1f4dd.png📝 Ditulis oleh : Ustadz Beni Sarbeni Abu Sumayyah, Lc
Mudir Pondok Pesantren Sabilunnajah, Bandung

Sumber: https://www.facebook.com/MocHaMmAd.HILMAN.aLfiQhY/posts/10208052763180353

Simak Video Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas yang tidak dipotong : https://youtu.be/5oQu5geHfBA





Senin, 05 Desember 2016

Mimpi buruk tidak diceritakan

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 19.00 No comments


Mimpi buruk, kok diceritakan?

Pertanyaan.
Apakah ada larangan dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang menceritakan mimpi buruk sampai tidak terwujudkan? 


  Jawaban.

🔹Yang paling benar pada masalah ini adalah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم *melarang kita menceritakan mimpi buruk* baik itu terwujudkan atau tidak. 
Oleh karenanya Imam Bukhori membuat bab tentang "Apabila ia mimpi buruk maka jangan diceritakan dan jangan disebutkan"

Kemudian membawakan hadits Abu Salamah, berkata, 'Aku pernah mimpi yang membuatku sakit, sampai aku mendengar Abu Qotadah berkata, 'Sungguh aku pernah bermimpi hingga membuatku sakit hingga aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

الرُّؤْياَ الحَسَنًةُ مِنَ اللهِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يُحِبُّ فَلَا يُحَدِّثْ بِهِ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَلْيَتْفِلْ ثَلَاثًا وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

"Mimpi yang baik dari Alloh. Apabila salah seorang dari kalian bermimpi baik maka jangan diceritakan kecuali kepada orang yang ia cintai. Siapa yang bermimpi yang tidak disukainya, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya dan dari kejahatan setan, dan hendaklah meludah tiga kali dan jangan menceritakannya kepada seorang pun, niscaya mimpi itu tidak membahayakannya.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

🔹 Adapun Hadits Abu Razin tentang sabda Nabi صلى الله عليه وسلم ;"Mimpi seorang muslim adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian....
akan tetapi dlm hadits itu dhoif.

🔹Yang namanya mimpi adalah mimpi artinya ia bukanlah berwujud  zahir aslinya pada setiap keadaan...

(Adab-adab tidur dan bermimpi sudah banyak tersebar, tinggal diaplikasikan dengan benar, teguh, dan jangan lupa jauhi maksiat-maksiat - _pentrj_ ) Wallahu A'lam


diterjemahkan oleh Abu Abdillah Riza Firmansyah dari situs berbahasa arab ahlalhdeeth.com

Cari Artikel Hidayahsalaf