• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Jumat, 17 April 2015

doa ketika mendapat kesenangan dan keburukan

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 21.16 No comments
                                                                    Do’a ketika mendapatkan kesenangan dan keburukan

كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا أتاه الأمر يسره قال الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات و إذا أتاه الأمر يكرهه قال الحمد لله على كل حال
“Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam apabila mendapatkan hal yang menyenangkannya berkata; ‘Segala puji bagi Alloh yang dengan nikmatNya sempurnalah kebaikan-kebaikan”, dan apabila mendapatkan hal yang dibenci beliau berkata; ‘Segala puji bagi Alloh dari segala hal”
[HR. Ibnu As Sunni, Al Hakim, dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shohihul Jami' 4/201 no.4640]

Do’a ketika mendapatkan kesesangan

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ.
“Segala puji bagi Alloh yang dengan nikmatNya sempurnalah kebaikan-kebaikan”

Do’a ketika mendapatkan hal yang tidak menyenangkan

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji bagi Alloh dari segala hal”

Penjelasan hadits:

Orang yang meriwayatkan hadits di atas adalah ‘Aisyah

Arti sabda Nabi shallallohu’alaihi wa sallam “dengan nikmatNya” adalah nikmat yang khusus yaitu melihat sesuatu yang menyenangkannya, oleh karenanya beliau bersabda; “dengan nikmatNya sempurnalah kebaikan-kebaikan” yakni segala hal kebaikan yang berkaitan dengan kebaikan dunia dan akhirat.

Arti dari perkataan ‘Aisyah “dan apabila beliau mendapatkan hal yang tidak menyenangkan” dan dibenci bersabda; ‘segala puji bagi Alloh dari segala hal’ yakni ketika senang dan susah, bahagia dan sengsara, kefakiran dan kekayaan, sehat dan sakit, dan seluruh keadaan, perbuatan, dan waktu.

Di dalam hadits tersebut terdapat pelajaran bahwasanya selayaknya seorang hamba memuji kepada Alloh Ta’ala pada setiap keadaan baik senang dan susah. 
[Syarh Hishnul Muslim oleh Majdi bin Abdul Wahhab] 

Minggu, 05 April 2015

Pesantren, Antara Kualitas dan Kuantitas

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 01.47 No comments
Tarbiyah bukan sekedar Ta’lim

إنَّ الحمد للّه، نحمدُه ونستعينه ونستغفره، ونعوذُ باللّه من شرورِ أنفسنا، وسيئاتِ أعمالِنا، من يهدِهِ الله فلا مضل له، ومن يضللْ فلا هاديَ له، وأشهدُ أن لا إله إلا اللّه وحدَه لا شريك له، وأشهدُ أن محمداً عبدُه ورسولُه.
" يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ".
" يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ".
" يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ".
أما بعد، فإن أصدقَ الحديث كتابُ اللّه، وأحسنَ الهَدي هديُ محمد - صلى الله عليه وسلم -، وشرَّ الأمور محدثاتُها، وكل مُحْدَثة بدعةٌ ، وكل بدعة ضلالةٌ، وكل ضلالة في النار.
Kaum muslimin sidang Jum’at rahimani wa rahimakumulloh..

Segala puji hanya bagi Alloh, yang telah memberikan kepada kita nikmat yang sangat banyak dan tak terhingga jumlahnya. Semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam, keluarga beserta para sahabatnya yang setia kepada ajaran beliau.
Sungguh menggembirakan dan melegakan hati ketika ada di sekitar kita orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan-kebaikan berupa ibadah, muamalah, serta pola hidup tentram damai dan harmonis di atas bimbingan syariat Islam menurut dua pokok hukum Islam yakni Al Qur’an dan As Sunnah secara kaffah atau menyeluruh.

Sebagai contoh ketika adzan telah dikumandangkan maka segala aktifitas keduniaan di tunda sementara waktu guna menjawab seruan syariat hayya ‘alassholah bersegera menuju masjid. Ketika bermuamalah dan bergaul saling mengayomi, saling bantu membantu dalam hal ketaatan dan kebaikan, saling memaafkan apabila ada kesalahan, berbaik sangka kepada orang yang sholeh dan tidak mengumbar aib mereka.

Pesantren adalah salah satu wadah atau sarana diantara beberapa sarana untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang unggul dalam hal pembentukan kepribadian yang baik  atau SDM. Apabila kita memperhatikan bagaimana Rasul Kita Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam dalam mentarbiyah sungguh padanya terdapat suri tauladan yang baik dan cukup bagi orang-orang yang benar-benar beriman. Sehingga lahirlah generasi unggul yang mengharumkan nama Islam seantero negeri, nama-nama murid Beliau dari kalangan para sahabat seperti Abu Bakr Asshiddiq yang memiliki keimanan yang tinggi selalu membenarkan dan melaksanakan sabda Rasululloh Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam tanpa menimbang dan membandingkan dengan ilmu-ilmu kedunian yang disadur dari barat seperti yang ada saat sekarang ini, Umar bin Khotthob yang memiliki ketegasan dalam bersikap sehingga jelas darinya mana yang haq dan mana yang batil tanpa ada syubhat atau kerancuan pola fikir yang dibuat-buat oleh manusia, begitu pula para sahabat lainnya yang unggul dan berani mengorbankan jiwa dan raga untuk membela Islam di atas muka bumi ini.

Bandingkan dengan keadaan seperti saat sekarang ini yang jauh dari ilmu agama yang benar, jauh dari tarbiyah yang benar, jauh dari orang-orang berilmu dan orang-orang sholeh, sebaliknya mereka lebih banyak menimba ilmu-ilmu yang lainnya daripada ilmu Al Qur’an dan As Sunnah seperti yang difahami oleh para Salafussholeh dari kalangan para Sahabat, Tabi’in, At ba’uttabiin.

Ilmu hanya sekedar diajarkan dan dipelajari, nilai atau ijazah dan rapot menjadi patokan utama keberhasilan, Al Qur’an hanya sekedar dihafal dan diperlombakan, Al Hadits hanya sekedar dihafal dan diperlombakan, bahasa arab hanya dijadikan sebagai percakapan dan bukan untuk memahami kitab-kitab para Ulama’, Akhlaq sudah mulai memudar, dan tarbiyah hanya sekedar nama yang dipajang tanpa kefaqihan dan pemahaman yang benar.

Perhatikanlah ketika islamnya ‘Umair bin Wahb radhiyallohu’anhu, Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
فَقِّهُوا أَخَاكُمْ فِي دِيْنِهِ, وَأَقْرِئُوْهُ القُرْآنَ
“Fahamkanlah saudara kalian dalam agamanya, dan ajarkanlah Al Qur’an kepadanya”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Abdirrohman berkata: ‘Telah mengkhabarkan kepada kami orang yang telah mengajarkan Al Qur’an kepada kami dari Para Sahabat Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam, bahwasanya mereka belajar Al Qur’an dari Rasululloh Shallallohu’alaihi wa sallam sepuluh ayat akan tetapi tidak melanjutkan ayat lainnya sampai mereka mengetahui pada (sepuluh ayat) ini dari ilmu dan amal, mereka berkata: “maka kami dulu diajarkan ilmu dan beramal”.

Dan adalah para salaf kita yang sholeh mereka menamakan orang yang mengajarkan anak-anak dengan sebutan Muaddib (orang yang mengajarkan adab) dan Murobbi (orang yang mentarbiyah).  
                                   
Ibnul Mubarok berkata:
تَعَلَّمْنَا الأَدَبَ ثَلاَثِيْنَ عَامًا, وَتَعَلَّمْنَا العِلْمَ عِشْرِيْنَ
“Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan belajar ilmu selama dua puluh tahun”
Ibnu Sirin berkata:
كَانُوا يَتَعَلَّمُوْنَ الهُدَى كَمَا يَتَعَلَّمُوْنَ العِلْمَ
“Mereka mempelajari petunjuk (Ketaqwaan/adab) sebagaimana mempelajari ilmu”
Ibnul Mubarok meriwayatkan dari Ibnul Hasan berkata:
نَحْنُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنْ حَدِيْثٍ
“Kami lebih banyak membutuhkan adab daripada banyak hadits”
Semoga khutbah yang pertama ini bermanfaat...
أقول قول هذا وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب, فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

[Khutbah ke 2]

Kaum muslimin sidang jum’at rahimani wa rahimakumulloh

Marilah kita tadabbur firman Alloh yang satu ini dan jangan sampai kita lalai sebagaimana Alloh akan melalaikan kita di akhirat kelak

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ}
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. QS. At Tahrim: 6

Ibnu Katsir rahimahulloh berkata di dalam tafsirnya: “Perintahkanlah mereka kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar dan janganlah tinggalkan mereka begitu saja, sehingga akan dimakan oleh api neraka” [Tafsir Ibnu Katsir 3/154]

Kenyataan yang kita saksikan adalah sebagian orang yang telah mengajarkan orang lain atau dipanggil sebagai orang yang alim akan tetapi ia sendiri masih memiliki banyak kerancuan-kerancuan atau syubhat, syahwat sehingga ditemukan seorang penghafal Al Qur’an tidak lagi sering berinteraksi dengan hafalannya, malas, mencari ilmu yang menimbulkan syubhat, dan terang-terangan nonton film dengan iringan musik di hadapan temannya. Kita berlindung dari hal yang semacam ini. Dan semoga Alloh mengampuni dosa dan menerima taubat kita. Amin

ألا وصلوا وسلموا رحمكم الله على خير البرية وأزكى البشرية فقد أمركم الله بذلك فقال : إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليماً )
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم..
أسأل الله تبارك وتعالى أن يجعل هذا العمل في ميزان حسناتنا, وأن يجعله حجة لنا لا علينا, وأن ينفع به طلاب العلم في كل مكان, وأن يغفر لي ولوالدي ولأساتذتي وجميع من لهم حق علي, ولسائر المؤمنين والمؤمنات, إنه ولي ذلك والقادر عليه, وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العلمين.
  Disusun oleh Abu Abdillah Riza
www.hidayahsalaf.blogspot.com




Jumat, 03 April 2015

hawa nafsu

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 19.40 No comments
Nestapa Pengekor Hawa Nafsu

Oleh:Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al Maidani

Sesungguhnya di dunia ini bagi manusia hanya ada dua jalan; jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan hawa nafsu merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan sebagai musuh manusia guna menimbun bahan bakar api neraka pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alihi wasallam tatkala menerangkan tentang petunjuk, acap kali mengingatkan pula tentang bahaya hawa nafsu.
Hawa nafsu berarti ‘kecenderungan manusia kepada perkara yang di suka oleh jiwanya’. Hawa nafsu yang tercela adalah hawa nafsu yang menyelisihi petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para salaf menggelari sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu atau ibadah sebagai pengikut hawa nafsu, karena mereka menyelisihi petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Petunjuk Allah yaitu ilmu agama yang diwahyukan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada nabi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Dawud ’alaihis salam:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Shad: 26)

Hawa nafsu menjalar pada diri seseorang laksana sebuah penyakit yang sangat ganas, bahkan lebih berbahaya dari rabies pada seekor anjing. Hawa nafsu lebih berbahaya karena tidak disadari oleh pengidapnya tetapi lebih mematikan. Jika rabies dapat membinasakan jasad manusia maka hawa nafsu bisa menghancurkan jiwanya. Sehingga hatinya pun mati dan gelap gulita. Pada akhirnya, dia tak lagi mampu menerima petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam menghadapi hawa nafsu sangat dibutuhkan kesabaran. Seorang yang ingin bertahan di atas jalan Allah harus memiliki nyali yang besar untuk melawan hawa nafsu. Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan urusannya itu melempui batas.” (Al-Kahfi: 28)
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa tak ada jalan yang ketiga bagi manusia. Di sana hanya ada dua jalan yaitu jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu.

Melawan hawa nafsu berarti mengikuti jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kesabaran. Yaitu kesabaran bersama orang-orang yang ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak membebek kepada orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan bahwa hawa nafsu merupakan bahaya laten bagi orang-orang yang berilmu. Karena mereka bisa saja menjadi sesat walaupun berilmu. Sebabnya tak lain adalah karena mengikuti hawa nafsu. Sehingga ilmu yang turun dari Allah tak mampu membuatnya teguh di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu, (yang mana) Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya lalu meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah?” (Al-Jatsiyah: 23)
Semua ini menunjukkan bahaya hawa nafsu bagi manusia. Semoga Allah menyelamatkan kita dari cengkraman maut berbagai hawa nafsu.
Berbicara mengenai hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan sejumlah dalil Al-Qur’an maupun As-sunnah yang membeberkan tentang betapa tercelanya hawa nafsu. Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk berhati-hati terhadap hawa nafsu. Karena setiap detik, setiap menit, dan setiap waktu, kita terancam dengan hawa nafsu. Jika kita tidak mewaspadai hawa nafsu, maka kita akan terjebak dengan jeratnya tanpa kita sadari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan dalam hadits bahwa termasuk yang dikhawatirkan atas umatnya adalah ‘hawa nafsu yang bisa menyesatkan’. Sudah berapa banyak, kalau kita mau menghitung, orang-orang yang menjadi korban hawa nafsu.
Sebagai bukti autentik yang bisa kita ungkap yaitu keberadaan ahlus sunnah yang demikian sedikit. Realita ini menandaskan bahwa yang selain ahlus sunnah dalam jumlah besar adalah orang-orang yang termakan oleh hawa nafsu. Namun kadar diantara mereka tentunya berbeda antara satu dengan yang lain, ada yang banyak, dan ada pula yang sedikit.

Orang-orang yang menyelisihi ahlus sunnah adalah ahlul ahwa` yang mengikuti hawa nafsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Dari tujuh puluh tiga golongan, hanya satu yang selamat. Mereka itu adalah yang mengikuti sunnah Nabi dan para sahabatnya. Oleh karenanya, mereka pun dikenal dengan sebutan ahlus sunnah. Adapun yang selain mereka adalah orang-orang sesat yang dicap sebagai ahlul ahwa` (pengekor hawa nafsu).
Hawa nafsu itu bisa berupa pemahaman atau syahwat. Pemahaman yang telah dikebiri oleh hawa nafsu akan menggelincirkan seseorang ke dalam pemikiran sesat yang menyimpang. Sementara syahwat yang telah dikuasai oleh hawa nafsu akan menjahtuhkannya ke dalam kemaksiatan yang nista. Na’udzu billahi min dzalik (kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu).
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dijauhkan dari kejahatan hawa nafsu. Wallahu a’lam bish shawab.

https://alhujjah.wordpress.com

Minggu, 01 Maret 2015

Jahil adalah Tabir Hidayah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 23.54 No comments
Jahil tentang Agama adalah Penghalang Kebenaran

Kejahilan, kebodohan atau ketidak tahuan adalah lawan dari ilmu.

Alloh Ta’ala telah mengabarkan di dalam Al Qur’an tentang kejahilan atau kebodohan pada beberapa Surat, diantaranya:

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”. QS. Al Baqoroh ayat 273

Dalam ayat yang lain:

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. An Nahl ayat 119

Dalam ayat yang lain:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. QS. Al Hujurot ayat 6

Dan ayat-ayat yang semisal seperti pada Surat Ali Imron 153-154, Al An’am 111.

Di dalam sebuah Riwayat menjelaskan

عَنْ أَنَسِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا.
Dari Anas berkata; Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah dicabutnya ilmu, kokohnya kebodohan, diminumnya khamr, dan nampaknya perzinahan”.
HR. Bukhori no. 80, Muslim no. 6956,  Ahmad, dll

Ibnul Qoyyim di dalam Hidayatul Hiyari hal. 18 mengatakan:

“Dan sebab-sebab yang mencegah orang mendapatkan kebenaran banyak sekali, diantaranya bodoh akan kebenaran, ini adalah sebab yang paling sering dialami setiap jiwa. Barangsiapa yang tidak mengetahui tentang sesuatu maka ia akan memusuhinya dan juga memusuhi pelaku kebenaran”.

Rujukan:
Al Qur’anul Karim, Kitab Ash Showarif ‘Anil Haq (edisi Arab), Al Maktabah Asy Syamilah.
Ditulis oleh Abu Abdillah Riza


Sabtu, 07 Februari 2015

baiat sunnah dan bid'ah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 16.02 No comments
HUKUM BAIAT

Pertanyaan:

Apakah baiat itu wajib, sunnah, ataukah mubah? Dan apa kedudukannya terhadap jama’ah dalam hal mendengar dan taat?

Jawaban:

Wajib baiat kepada pemimpin kaum muslimin untuk patuh dan taat ketika diangkat menjadi pemimpin menurut al Qur’an dan As Sunnah, adapun orang yang mereka harus berbaiat kepadanya adalah para Ahli Ulama’ dan pemimpin.
Adapun selain mereka adalah rakyat yang harus mengikuti mereka, mengharuskan taat dengan membaiat mereka dan baiat tidaklah dicari dari setiap individu di kalangan rakyat. Karena kaum muslimin adalah jama’ah yang satu yang diwakili atau dipimpin oleh Pemimpin mereka dan Para Ulama’.
Inilah yang dianut oleh para pendahulu yang sholeh (salaf) dari umat ini sebagaimana baiat kepada Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallohu’anhu dan selainnya dari para Pemimpin kaum muslimin.
Bukanlah baiat itu diperoleh dengan cara yang kebimbangan seperti pemilu yang dilakoni oleh Negara-negara kafir, serta Negara-negara arab yang mengekor negeri barat yang dibangun atas persamaan suara, pengakuan dusta yang kebanyakan jiwa-jiwa polos menjadi korban.

Baiat menurut cara Islam diperoleh dengan cara berkumpul  dan bersatu yang mewujudkan adanya keamanan yang tetap tanpa adanya tambahan dan cara-cara pencarian suara yang membingungkan, yang dapat memberatkan dan menjadikan beban pada masyarakat, dan juga munculnya pembunuhan dan lainnya.

-fatwa Ma’ali Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan-

Dari kitab Al Ajwibah Al Mufidah ‘An As ilatil Manahij Al Jadidah hal. 218-222 

Hafal quran tidak cukup untuk dakwah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 15.23 No comments
Hafalan Al Qur’an Tidak Cukup Untuk Berdakwah

Ilmu itu adalah dengan menghafal nash-nash serta memahami maknanya, maka tidak cukup dengan hanya menghafal al nash-nash. Tidak cukup bagi seseorang hanya sekedar menghafal nash-nash Al Qur’an dan hadits-hadits akan tetapi ia harus memahami makna-maknanya dengan benar.

Adapun sekedar menghafal nash-nash tanpa memahami makna-maknanya maka hal ini tidak menjadikan seseorang ahli dalam berdakwah.
Adapun yang diajarkan pada madrasah-madarasah apabila di dalamnya terdapat hafalan nash-nash dan memahami makna-maknanya maka ini cukup.

Jika ia menghafal nash-nash tanpa memahami makna-maknanya, maka ini tidak menjadikan seseorang ahli dalam berdakwah, yang mungkin ia lakukan adalah hanya mengajarkan hafalan nash-nash kepada orang lain yang telah ia hafal, kemudian sekedar membacakan dan tanpa menjelaskan makna-maknanya, membacakan kepada orang lain dan menyimaknya.

-Fatwa Ma’ali Asy Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan-

[dari kitab Al Ajwibah Al Mufidah ‘an As ilatil Manahij Al Jadidah hal. 41 cet. Dar Al Minhaj] 

Kamis, 08 Januari 2015

tanda kiamat

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 09.12 No comments
Tuntutlah ilmu sebelum diangkat 
 Kiamat sudah semakin dekat, perhatikan di dalam hadits berikut munculnya beberapa kemungkaran, zina yang merajalela terlebih di zaman internet ini berawal dari berkurangnya orang-orang yang bersimpuh lutut hadir di majelis ilmu mempelajari Al Qur’an dan Sunnah dan bersimpuh kepada selainnya.
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبُو التَّيَّاحِ حَدَّثَنِى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
Anas bin Malik berkata,’telah bersabda Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam : “Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yg meminum minuman keras, & zina dilakukan dengan terang-terangan.
Makna hadits:
Diangkatnya ilmu:
-          Wafatnya para Ulama’, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim berikut
 ((إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يَبْق عالما- وفي رواية- لم يُبْق- اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلو(( 
“Sesungguhnya Alloh tidaklah mencabut ilmu dengan mencabut langsung dari para hamba. Akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama’, sehingga apabila tidak tersisa seorang alimpun. Maka orang banyak akan mengangkat orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan”.
-          Diangkatnya ilmu juga berarti berkurangnya Ulama’, wafat, dan menjadi sedikit.
-          Diangkatnya ilmu juga berarti tidak disampaikannya kebenaran oleh para Ulama’ walaupun jumlah mereka banyak.
-          Bukanlah yang dimaksud adalah ilmu tentang dunia akan tetapi ilmu tentang halal dan haram. Berkurangnya Ilmu tentang al Qur’an dan Sunnah.
Sekarang telah ada ilmu, contohnya orang yang mengambil al Qur’an akan tetapi ditafsirkan dengan akalnya sendiri tidak sesuai dengan ushul tafsir.
Maksud dari Kebodohan adalah:
-          Kebodohan dalam urusan agama, sebagaimana hadits riwayat Ath Thobroni:
"يأتى على الناس زمان لا يُدْري فيه ما صلاة؟ ما صيام؟ ما صدقة؟".
“Akan dating kepada manusia sebuah zaman yang tidak dikenal lagi padanya apa itu sholat, apa itu puasa, dan apa itu sedekah”.
-          Ketika banyak orang yang mempelajari ilmu dunia
-          عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ فِتْنَةٌ يَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ وَيَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ إِذَا تُرِكَ مِنْهَا شَيْءٌ قِيلَ تُرِكَتْ السُّنَّةُ قَالُوا وَمَتَى ذَاكَ قَالَ إِذَا ذَهَبَتْ عُلَمَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ جُهَلَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ وَالْتُمِسَتْ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ
-          Dari ‘Alqomah berkata Bagaimana sikap kalian jika ditimpa ketidakberesan, yg tua menjadi pikun & yg kecil menjadi dewasa. Dan jika ketidakberesan itu ditinggal, akan dikatakan: 'sunnah telah ditinggalkan', mereka bertanya: 'Kapan hal itu terjadi? 
', ia menjawab: 'Jika telah pergi para ulama` kalian, & semakin banyak orang-orang bodoh dari kalian, jika semakin banyak orang yg pandai membaca tetapi sedikit yg ahli fikih, & semakin banyak para pemimpin kalian tetapi sedikit yg amanah, serta dunia sudah dicari dgn amalan akhirat & ia diperdalam tetapi bukan untuk (kepentingan) agama'. [HR. Darimi No.188].

dirangkum dari khutbah Syaikh Abdul Qodir al Arnauth rahimahulloh di dalam situs sahab.net

dan situs alukah.net dan lainnya
 

Cari Artikel Hidayahsalaf