• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Kamis, 04 Juni 2015

Bekal menuju Ramadhan

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.41 No comments
MENUJU RAMADHAN PENUH BERKAH

Segala puji bagi hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan karunia yang banyak kepada segenap makhluq-Nya terkhusus kepada orang-orang yang beriman. Semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam yang telah membimbing umat manusia dari zaman kegelapan yang penuh kemungkaran dan maksiat menuju jalan terang benderang yaitu Islam.

Saudaraku seiman pembaca yang budiman, sebentar lagi kita akan dinaungi oleh tamu agung, bulan ketakwaan dan penuh berkah yakni bulan Ramadhan. Bulan yang dinanti-nanti kedatangannya oleh orang-orang yang beriman dan berat terasa ketika berpisah dengannya.
Bulan yang penuh berkah dikarenakan di dalamnya penuh dengan kebaikan-kebaikan yang hakiki berupa amal shalih serta ketaatan dan sekaligus sebagai madrasah yang melatih kita agar senantiasa meredam hawa nafsu syaitan yang selalu membisikan manusia kepada perbuatan maksiat.

Gembira dengan kedatangan Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau dahulu memberi berita gembira kepada para Sahabatnya dengan kedatangan Ramadhan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
Dari Abu Hurairah berkata, ‘telah bersabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya;“Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa didalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu neraka, dan syetan-syetan dibelenggu.Di dalamnya juga terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ada orang yang terhalang dari mendapatkan kebaikan itu” (HR. Ahmad no. 8991)
Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْوَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِوَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ .
“Dan ada orang yang berseru, ‘Wahai pencari kebaikan terimalah, wahai pencari keburukan tahanlah. Dan bagi Allah pembebasan dari api neraka yakni pada setiap malam”.
HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan An Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam Shohih At Targhib wa At Tarhib 2/68.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Termasuk petunjuknya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan adalah memperbanyak melakukan amal ibadah. Malaikat Jibril ‘alaihisshalatu wassalam mengajarkan Al Qur’an kepadanya di bulan Ramadhan, beliau ketika dijumpai JIbril lebih banyak melakukan kebaikan melebihi angin yang berhembus, beliau adalah orang yang paling dermawan terutama di bulan Ramadhan, memperbanyak sedekah, berbuat ihsan, membaca Al Qur’an, sholat, dzikir, dan i’tikaf. Mengistimewakan Ramadhan dengan melakukan ibadah tidak sepertipada bulan-bulan lainnya, sampai terkadang menyambung ibadah pada waktu-waktu malam dan siangnya”.

Istighfar dan Taubat

Termasuk diantara inti pokok ibadah puasa yakni bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, dengan menyesali perbuatan dosa-dosanya, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi, kemudian segera melakukan berbagai macam amal ibadah.Taubat tidak boleh ditunda-tunda, dikarenakan apabila nyawa sampai tenggorokan dan matahari terbit dari barat maka tertutuplah pintu taubat.
Allah Ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. QS. Al Maidah: 74
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Dalam ayat di atas dan lainnya terdapat himbauan agar kita segera bertaubat kepada Allah Ta’ala pada setiap waktu dan keadaan sebelum ajal menjemput terlebih pada bulan Ramadhan dimana istighfar dan taubat adalah termasuk amalan yang diharapkan oleh Ramadhan.
Rasulullah Nabishallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَليه رَمَضَان لَمْ يُغفرَ لَه . فَقُلْتُ : آمينَ
“Kemudian ia (Jibril) berkata; ‘Celakalah seorang hamba yang ia ketika memasuki Ramadhan akan tetapi tidak diampuni’, Aku (Nabi) berkata: ‘Amin”.
HR. Ahmad, Al Baihaqi, Tirmidzi, Al Bazzar. Al Albani di dalam Al Adab Al Mufrod no. 646 “Hasan Shohih”.

Puasa dan Ikhlas

Bagi orang yang akan menjalani ibadah puasa hendaklah selalu menekuni ikhlas. Ikhlas dalam artian membersihkan amalan dari kotoran-kototan yang akan membuatnya keruh. Poros pokok dari ikhlas adalah ketika seorang yang ingin beramal hendaklah mengharapkan pahala dari Allah dan jangan ia keruhkan amalan tersebut dengan keinginan-keinginan jiwa yang negatif, seperti; berharap mendapat simpati pada hati orang lain, mencari pujian, pengagungan, mencari harta, bantuan dan belas kasih orang lain, atau penyakit-penyakit jiwa lainnya yang akan memalingkannya dari ikhlas kepada Allah.
Ikhlas sangatlah penting dan menjadi kebutuhan setiap hamba, diantara peran penting dari ikhlas yang paling besar adalah bahwasanya ikhlas merupakan syarat diterimanya amalan disamping mencontoh sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. QS. Al Bayyinah: 5
Nabishallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
يَقُوْلُ اللهُ -تَعَالَى- : "أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ؛ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلًا فَأَشْرَكَ فِيْهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيْءٌ، وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ
“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku yang paling kaya dan tidak butuh kepada sekutu, barangsiapa yang melakukan sebuah amalan kemudian membuat sekutu selain Aku, maka Aku berlepas diri darinya dan ia milik sekutu tersebut”. HR. Muslim
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika berbicara tentang ikhlas, keutamaan da arti pentingnya mengatakan: Bahkan mengikhlaskan agama kepada Allah itu adalah agama yang diterima darinya dan bukan selainnya. Itulah ajarannya para Rasul yang terdahulu dan belakangan, dan menurunkan dengan ajaran ikhlas pada semua kitab suci. Menjadi kesepakatan para imam Ahli iman, ia juga merupakan inti ajaran dakwah Nabi, juga sebagai pokok dari Al Qur’an”.
Dan seraya melanjutkan “Allah Ta’ala berfirman tentang Yusuf; “Demikianlah kami palingkan darinya kejelekan dan perbuatan keji, sesungguhnya ia termasuk dari hamba-hamba Kami yang ikhlas”, Maka dalam hal ini Allah memalingkan hambaNya dari kejinya perbuatan-perbuatan yang diharamkan serta kekejian, dengan ikhlasnya kepada Allah. Oleh karenanya ini terjadi sebelum ia merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepadanya ketika sebelumnya ada keingingan dorongan hawa nafsu. Maka apabila ia merasakan lezatnya ikhlas dan kuat hatinya ia lepas tanpa obat”. [Durus Ramadhan oleh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd]
Inilah yang harus dijadikan pegangan oleh orang-orang yang akan melaksanakan ibadah puasa, ketika ikhlas itu memberika pengaruh yang agung bagi tarbiyahnya hati sehingga tidak menoleh kepada tujuan-tujuan niat kepada selain Allah.
Hal itu dikarenakan orang yang berpuasa senantiasa meninggalkan makan dan minumnya semata-mata hanya mencari pahala dari Allah.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang bangkit (ibadah) pada malam lailatul qadar didasari iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. HR. Bukhari

Memperbanyak membaca Al Qur’an, mengkhatamkan, serta mentadabburinya.

Ibnu Rajab bekata: Dalam hadits Fathimah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau mengabarkan kepadanya:

أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يُعَارِضُهُ القُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً وَأَنّهُ عَارَضَهُ فِي عَامِ وَفَاتِهِ مَرَّتَيْنِ

"Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam menyimak Al-Qur’an yang dibacakan Nabi sekali pada setiap tahunnya, dan pada tahun wafatnya Nabi, Jibril menyimaknya dua kali". (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dan dalam hadits Ibnu ‘Abbas:


أَنَّ الْمُدَارَسَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جِبْرِيْلَ كَانَتْ لَيْلاً

"Bahwasanya pengkajian terhadap Al-Qur’an antara beliau dengan Jibril terjadi pada malam bulan Ramadhan". (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya memperbanyak membaca Al-Quran pada malam bulan Ramadhan, karena waktu malam terputus segala kesibukan, terkumpul pada malam itu berbagai harapan, hati dan lisan pada malam bisa berpadu untuk bertaddabur, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْءاً وَأَقْوَمُ قِيلاً
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”. QS. Al-Muzzammil: 6

Bulan Ramadhan mempunyai kekhususan tersendiri dengan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. QS. Al-Baqarah: 185
[Latha’iful Ma’arif hal. 315].

Oleh kerena itulah para Ulama Salaf dari kalangan Para Sahabat, Tabi’in dan Atba’uttabi’in rahimahumullah sangat bersemangat untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang dijelaskan dalam Siyar A’lamin Nubala’, di antaranya:

* Dahulu Al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap dua malam, beliau tidur antara Magrib dan Isya’. Sedangkan pada selain bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan Al Qur’an selama 6 hari.

* Malik bin Anas jika memasuki bulan Ramadhan beliau meninggalkan pelajaran hadits dan majelis ahlul ilmi, dan beliau beralih kepada membaca Al Qur’an dari mushaf.

* Sufyan Ats-Tsauri jika datang bulan Ramadhan beliau meninggalkan orang-orang dan beralih kepada membaca Al Qur’an.

* Said bin Zubair mangkhatamkan Al-Qur’an pada setiap 2 malam.

* Zabid Al-Yami jika datang bulan Ramadhan beliau menghadirkan mushaf dan murid-muridnya berkumpul di sekitarnya.

* Al-Walid bin Abdil Malik mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 malam, dan mengkhatamkannya sebanyak 17 kali di bulan Ramadhan.

* Abu ‘Awanah berkata : Aku menyaksikan Qatadah mempelajari Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.

* Qatadah mengkhatamkan Al-Qur’an pada hari-hari biasa selama 7 hari, jika datang bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya selama 3 hari, dan pada 10 terakhir Ramadhan beliau mengkhatamkannya pada setiap malam.

*Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: Dahulu Al-Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan sebanyak 60 kali, dan pada setiap bulan lain sebanyak 30 kali.

* Waki’ bin Al-Jarrah membaca Al-Quran di bulan Ramadhan setiap malam khatam dan ditambah sepertiga dari Al Qur’an, shalat 12 rakaat pada waktu dhuha, dan shalat sunnah sejak ba’da zhuhur hingga ashar.

* Muhammad bin Ismail Al-Bukhari mengkhatamkan Al Qur’an pada siang bulan Ramadhan setiap harinya dan setelah melakukan shalat tarawih beliau mengkhatamkannya setiap 3 malam sekali.

* Al-Qasim bin ‘Ali berkata mensifatkan ayahnya Ibnu ‘Asakir (pengarang kitab Tarikh Dimasyq): Beliau adalah seorang yang selalu menjaga shalat berjama’ah dan rajin membaca Al-Qur’an, beliau mengkhatamkannya setiap Jum’at, dan mengkhatamkannya setiap hari pada bulan Ramadhan serta beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syarqiyyah.

Faidah Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: Bahwasanya larangan mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari itu adalah apabila dilakukan secara terus menerus. Adapun pada waktu-waktu yang terdapat keutamaan padanya seperti bulan Ramadhan terutama pada malam-malam yang dicari padanya Lailatul Qadr atau pada tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti Makkah bagi siapa saja yang memasukinya selain penduduk Negeri itu, maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, dalam rangka memanfaatkan waktu dan tempat tersebut. Ini adalah pendapat Ahmad, Ishaq, dan selainnya dari kalangan Ulama’ .(Latha’iful Ma’arif 1/183).
Wallahu A’lam
ditulis oleh Abu Abdillah (http://hidayahsalaf.blogspot.com/)

Maraji’:
1.       Al Quran dan Terjemahan.
2.       Lathaiful Ma’arif
3.       Durus Ramadhan
4.       http://www.alimam.ws/ref/222
5.       http://www.3llamteen.com/2012/11/26/s79/
6.       http://saaid.net/mktarat/ramadan/22.htm
7.       Maktabah Syamilah

Untuk yang kembali ke ahlussunnah bag.II

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.39 No comments
WASIAT BERHARGA
BAGI ORANG-ORANG YANG KEMBALI KE SUNNAH (BAG. II)


Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam dan sholawat serta salam semoga tercurahkan atas Nabi Muhammad , beserta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.
Pada bagian pertama telah kita sebutkan 2 wasiat yang berisi dua langkah pertama yang mesti dilakukan oleh orang-orang yang kembali kepada Sunnah Rasululloh . Kedua wasiat itu yakni: Pertama: Mensyukuri nikmat Alloh , dan Kedua: Menuntut ilmu. Berikut ini wasiat selanjutnya, semoga Alloh  memberi kita taufik untuk mengamalkannya dan istiqomah di atasnya.
Wasiat Ketiga: Mulailah dengan mempelajari Ushul (pokok-pokok ajaran) Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Saudaraku – semoga Alloh  memberi Anda taufik menuju ketaatan kepada-Nya – bahwa yang kami maksud dengan Ushul di sini bukan hanya Tauhid dengan ketiga bagiannya. Namun, termasuk pula pokok-pokok ajaran lainnya yang menjadi landasan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan membedakan mereka dengan Ahli Bid’ah Wal Furqoh (para pelaku bid’ah lagi berpecah belah).
Ushul atau pokok yang kami maksud adalah seperti Al-Wala’ Wal Baro’ (loyalitas dan dan berlepas diri), Amar ma’ruf nahi munkar, sikap terhadap para Sahabat , menghormati dan membela mereka. Sikap terhadap pemerintah. Sikap terhadap para pelaku maksiat dan dosa besar. Sikap terhadap para pelaku bid’ah, membicarakan mereka dan bermu’amalah dengan mereka. Dan pokok-pokok lainnya yang menjadi landasan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka cantumkan semua itu dalam kitab-kitab akidah mereka. Untuk menampakkan kebenaran dan membedakan diri dengan orang-orang yang menyimpang, menebar fitnah, mengikuti hawa nafsu dan berpecah belah. Meskipun pada asalnya semua masalah itu merupakan amaliyah, bukan akidah.
Jika Anda menguasai masalah dan ushul ini, maka Anda – dengan izin Alloh  - telah terbentengi dalam menghadapi berbagai syubhat yang menyambar kiri kanan.
Namun, ketika banyak dari kalangan orang-orang yang bertaubat melalaikan masalah ini, tanpa mempelajari ushul atau pokok dan manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam mengawali taubat mereka. Merekapun goyah tak tentu arah karena syubhat yang paling kecil sekalipun. Hanya kepada Alloh kita memohon keselamatan.
Bagi yang memperhatikan keadaan mereka akan mendapati banyak bentuk dan banyak contoh kebingungan tersebut. Di antaranya sebagai berikut:
Contoh Pertama: Anda akan mendapati seorang yang bertaubat, pada awal mula sangat bersemangat untuk menjauhi Ahli Bid’ah dan Furqah selama beberapa waktu. Kemudian tatkala dia mendangar sebuah syubhat yang dilontarkan oleh orang yang berkedok salafi, yang kesimpulannya:
Bahwa menjauhi Ahli Bid’ah, tidak bergaul dengan mereka adalah tidak benar. Dan hal itu menghilangkan banyak maslahat. Dan bahwasanya tidak seorangpun yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) selain Rasululloh . Bahkan para sahabat  pun pernah salah.
Ketika dia mendengar syubhat seperti itu, muncul penyakit dalam hatinya. Dia menelan begitu saja syubhat itu lebih cepat dari ia menelan air. Akhirnya dia malah berkumpul dengan Ahli Bid’ah, lembek dalam menerapkan Ushul Salaf atas nama Salafiyyah. Hal ini terjadi tiada lain disebabkan oleh karena dia tidak mempelajari Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf yang menjadi pendahulu umat ini. Tidak pula mempelajari Ushul atau Pokok-Pokok Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Sebab jika dia mempelajari perkara ini, niscaya dia akan mengetahui bahwa semua syubhat di atas adalah batil. Bertentangan dengan keadaan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bersama Ahlul Ahwa’ Wal Bida’, baik di zaman dahulu maupun sekarang. Niscaya dia akan mengetahui pula bahwa ucapan orang yang berkedok salafi itu bahwa tidak ada yang ma’shum selain Rasululloh , dan semua orang bisa salah. Dia akan mengetahui bahwa ucapan tersebut memang benar, namun dimaksudkan untuk kebatilan. Sebab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, jika salah seorang dari mereka salah, sesungguhnya kesalahan itu tidak muncul dari hawa nafsu. Bukan pula karena tidak pernah mempelajari dan meneliti Sunnah. Bukan pula karena menakwil nash-nash Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Bukan pula karena mengikuti nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mutasyabih (samar). Seperti halnya para pelaku bid’ah. Namun penyebabnya adalah karena tidak tahu dalil. Atau dia mengetahuinya namun menganggapnya tidak shahih. Atau alasan-alasan lainnya yang merupakan uzur baginya.
Pada merekalah dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan diterapkan sabda Nabi :
“Jika seorang hakim memutuskan perkara dan berijtihad, kemudian dia benar, maka dia mendapatkan dua pahala. Namun jika memutuskan perkara dan berijtihad, kemudian dia salah, maka dia mendapatkan satu pahala.” [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].
Berbeda dengan Ahlul Bid’ah Wal Furqoh. Sesungguhnya mereka tidak peduli dengan dalil. Mereka lebih mengedepankan akal mereka di atas dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah. Bahkan mereka membuat ushul atau pokok ajaran sendiri yang bertentangan dengan Ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka ini tidaklah bisa diberikan udzur. Yaitu udzur yang dilontarkan oleh orang yang berkedok salafi itu. Tidaklah memasukkan mereka ini dalam deretan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah melainkan orang yang jahil, atau pelaku bid’ah yang menentang.
Contoh Kedua: Terkadang pada awal taubatnya, seseorang bersemangat untuk membantah Ahli Bid’ah, namun tanpa rambu-rambu dan tanpa ilmu. Kemudian sikapnya tersebut berlangsung beberapa waktu. Sehingga ketika dia mendengar syubhat dari orang yang mengakut salafi:
Bahwa kritikan atau bantahan bukanlah manhaj (metode) atau jalan yang digariskan oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah!
Dan bahwa kritikan atau bantahan membuat hati menjadi keras!!
Dan bahwa fulan pernah mengkritik beberapa jama’ah, akibatnya dia berbalik dan berubah keadaannya ke yang lebih buruk. Ketika dia mendengar syubhat ini, diapun berbalik dan mengingkari ushul atau pokok agung yang menjadi pondasi penegak agama ini. Bahkan bisa jadi Anda setelah itu melihatnya mengajak orang-orang untuk meninggalkan ushul ini dengan alasan bisa membuat hati menjadi keras. Yang benar adalah bahwa perkara ini merupakan ushul atau pokok yang agung. Tegak di atasnya agama yang lurus ini. Dan merupakan pintu kokoh yang melindungi Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari penyelewengan. Lebih dari itu perkara ini merupakan ibadah yang agung. Mampu menambah iman seorang muslim. Tapi, ketika terpenuhi syarat-syaratnya: seperti ikhlas dan lainnya. Sehingga perkara ini tidak ada bedanya dengan ibadah lainnya, yaitu bisa menambah keimanan.
Maka aibnya bukanlah terletak pada Ushul atau Pokok ini. Namun sesungguhnya aibnya terletak orang yang menerapkan ushul ini tanpa rambu-rambu. Ketika syubhat mendapatkan sambutan dalam hatinya, dia malah mengingkari ushul ini. Bukannya mengingkari dirinya yang tidak menerapkan ushul ini dengan benar.
Karena itu, dalam diri para sahabat, tabi’ini dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, tidaklah kita lihat melainkan kezuhudan, ketakwaan dan rasa takut kepada Alloh  serta kelembutan hati. Padahal mereka sering mengkritik dan mengomentari para rawi dan kelompok.
Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in, Ali bin Madini, Abu Hatim Ar-Rozi, Al-Bukhori dan lainnya. Sejarah mereka disinari oleh kezuhudan, kewara’an, rasa takut dan ketakwaan.
Ketidak jelasan dan kebingungan ini disebabkan oleh tidak adanya keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat kepada Alloh . Serta tidak mempelajari ushul atau pokok ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terlebih dahulu.
Karena itu – wahai saudaraku yang bertaubat – Anda harus waspada terhadap semisal ketergelinciran yang membahayakan ini. Ketahuilah bahwa tidak ada jalan selamat dari syubhat-syubhat dan ketergelinciran ini melainkan jika Alloh  memberikan Anda taufik dan Anda memulai dengan mempelajari ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bersemangatlah dalam masalah ini, kerahkan tenaga dan tanamkan azam yang kuat
Serta jujur dan ikhlaslah : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69).
Yakinlah dengan firman Alloh ta'ala (artinya) : Dan Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS. An-Nisa’: 66-68).
Hati-hatilah, jangan sampai lemah dan berbalik arah gara-gara sesuatu menimpanya di jalan Alloh. Jangan lupakan firman Alloh ta'ala:
Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imron: 146).
Wasiat Keempat: Jangan Mengambil Ilmu Kecuali Dari Orang Yang Dikenal Di Atas Sunnah.
Imam Muhammad bin Sirin berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau juga berkata: “Dahulu mereka (ulama Salaf-pent) tidak bertanya tentang sanad. Namun ketika terjadi fitnah, mereka berkata: “Sebutkan perawi-perawi kalian.” Jika dari Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima. Namun jika dari Ahli Bid’ah maka haditsnya tidak diterima.”
Ketika sebagian orang yang bertaubat melalaikan ushul dan rambu-rambu ini, mereka menjadi sasaran syubhat dan bahan permainan orang-orang bertopeng ilmu dan sunnah. Ketika seseorang datang, mengaku berilmu dan menampakkan diri memiliki hubungan dengan para ulama besar Ahlus Sunnah. Maka Anda mendapati saudara-saudara yang taubat ini berkumpul di sekelilingnya tanpa meneliti hakikat dan sepak terjangnya. Ketika dia melihat pengikutnya telah banyak dan para penggemarnya telah mabuk kepayang, dia mulai menampakkan apa yang selama ini dia sembunyikan. Diapun mulai mengajak untuk membangun kekuasaan atau lainnya yang bertentangan dengan ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Ketika itulah mereka yang bertaubat menjadi bingung. Dan mereka terbagi menjadi dua atau tiga bagian: ada yang mendukung, ada yang menentang dan ada yang netral. Sesungguhnya kebingungan ini terjadi karena dua sebab:
Pertama: Tidak mempelajari ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu tentang ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Padahal ilmu melindungi pemiliknya dari ketergelinciran.
Lupakah Anda bagaimana ilmu memelihara Abu Bakrah  pada Perang Jamal. Ketika orang-orang memajukan Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu 'anha (sebagai pemimpin). Dia  berkata: “Alloh memelihara aku dengan satu hal yang aku dengar dari Rosulillah  ketika Kisra meninggal. Beliau bertanya: “Siapa yang mereka angkat sebagai penggantinya?” Para sahabat berkata: “Anak perempuannya.” Nabi  lantas bersabda: “Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan kekuasaannya kepada seorang wanita.”
Abu Bakrah berkata: “Ketika Aisyah datang – yaitu ke Basrah – aku mengingat sabda Rosulillah  ini. Maka Alloh pun memelihara aku dengannya.”
Kedua: Tidak merujuk kepada Ulama. Sebab yang paling utama adalah bertanya kepada Ulama dan para penuntut ilmu Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mengenal orang yang ingin diambil ilmunya tersebut. Hendaklah bertanya:
“Apakah dia termasuk penuntut ilmu yang salafi ataukah bukan?”
“Apakah dia pernah belajar ilmu yang shahih sehingga pantas untuk belajar padanya ataukah tidak?”
Jika jawabannya tidak, maka perkaranya selesai walhamdulillah. Jika jawabannya Iya, maka bisa mengambil ilmu darinya namun tanpa ghuluw terhadapnya. Namun hendaklah menyikapinya sesuai dengan kedudukan dan martabatnya.
Ini merupakan point yang penting. Yaitu memilah antara Ulama’ Robbani yang merupakan rujukan ilmiah dan perkara-perkara baru. Seperti Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahumulloh. Demikian pula para ulama yang masih hidup seperti Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan lainnya yang memiliki martabat ulama dan mufti dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Termasuk pula memilah para penuntut ilmu robbani yang dikenal memiliki ilmu dan bahwa mereka berada di atas Sunnah, yang bisa dilihat dari tulisan-tulisan mereka dan rekomendasi para ulama untuk mereka.
Kemudian para penuntut ilmu yang berada di bawah mereka, yang dikenal salafi dan mampu mengajar.
Wasiat Kelima: Keharusan Untuk Kembali Kepada Ulama Senior Dalam Masalah-Masalah Besar dan Penting.
Kepada para ulama besar robbanilah kita kembali dalam masalah-masalah besar dan penting. Terutama yang mendatangkan maslahat bagi umat Islam. Jika Anda memperhatikan keadaan generasi awal dari kalangan Salafus Shalih, niscaya Anda akan mendapati mereka sangat bersemangat untuk merujuk kepada para ulama senior yang sezaman dengan mereka. Terutama dalam masalah hukum-hukum yang berkaitan dengan pembid’ahan dan pengkafiran.
Perhatikanlah Yahya bin Ya’mar Al-Bashri dan Humaid bin Abdurrahman Al-Himyari Al-Bashri. Ketika muncul Qadariyah di zaman mereka dan mulai tampak perbedaan antaranya dengan ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang bisa membuat mereka (Qadariyah) dihukumi kafir, atau bid’ah atau dikeluarkan dari lingkaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Mereka berdua tidaklah tergesa-gesa dalam menghukumi mereka. Namun mereka mendatangi rujukan ilmiyah dari kalangan para ulama dan mufti, yaitu Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhuma. Mereka berdua mengabarkan kepadanya tentang Qadariyah. Mereka sebutkan bahwa mereka menganggap tidak ada takdir, segala hal terjadi tiba-tiba. Ibnu Umarpun memberikan fatwa atas kesesatan dan penyimpangan Qadariyah.
Ibnu Umar berkata: “Jika engkau bertemu dengan mereka, katakanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Alloh yang dengan nama-Nya Abdullah bin Umar bersumpah, seandainya salah seorang dari mereka menyedekahkan emas seukuran gunung Uhud. Niscaya Alloh tidak akan menerimanya hingga mereka beriman kepada takdir.”
Kemudian, perhatikanlah Zubaid bin Harits Al-Yami. Ketika muncul Murji’ah di zamannya, dan dia melihat ada penyimpangan pada mereka terhadap Ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang membuat mereka bisa dikeluarkan dari lingkaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dia tidaklah tergesa-gesa menghukumi mereka. Bahkan dia mendatangi rujukan ilmiyah di zamannya dari kalangan ulama dan mufti yang menimba ilmu dari para sahabat senior. Yaitu Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah Al-Asadi Al-Kufi. Zubaid memberitahukan kepadanya tentang apa yang terjadi. Abu Wa’ilpun memberikan fatwa dengan nash dari Rosululloh  yang menunjukkan batilnya syubhat Murji’ah dan menyimpangnya mereka dari Sunnah. Zubaid berkata: “Ketika muncul Murji’ah, aku mendatangi Abu Wa’il dan menyebutkan hal itu padanya. Dia berkata: “Abdullah telah menyampaikan hadits kepadaku bahwa Nabi  bersabda:
“Mencerca seorang muslim adalah perbuatan fasik sedang membunuhnya adalah perbuatan kufur.”
Jika Anda bandingkan antara keadaan mereka bersama para ulama zaman mereka, dengan keadaan orang-orang bingung di zaman kita ini, niscaya Anda akan mendapatkan perbedaan yang sangat jauh.
Para Salaf berusaha keras untuk berada di atas rambu ini. Mereka tidak tergesa-gesa menghukumi orang yang terlihat menyimpang di zaman mereka. Hingga mereka mengajukan masalah tersebut kepada para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ketika mereka telah mendengar fatwa, mereka pegang teguh fatwa tersebut dan memisahkan diri dengan para penyimpang yang menyelisihi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Adapun hari ini, akan jarang Anda dapati orang seperti itu. Sebaliknya yang Anda dapati adalah orang yang tidak menghiraukan ucapan para ulama yang mengingatkan untuk mewaspadai Ahlul Ahwa’ Wal Bida’. Mereka malah memerangi fatwa para ulama dan menyelewengkannya. Kita memohon keselamatan dari Alloh.
Sebagai penutup, kami nasihatkan kepada setiap orang yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat untuk berpegang teguh dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Agar selamat dari segala syubhat yang menyesatkan. Hendaklah mereka jujur dalam bertaubat, mantap dan kokoh dalam menjalankan sebab yang membantu untuk istiqamah. Tawakkal kepada Alloh. Berserah dirilah kepada Alloh, berdo’alah kepadanya. Mintalah pertolongan dan taufik kepada-Nya.
(diterjemahkan secara bebas dari Al-Washaya As-Saniyyah Lit Ta’ibin Ilas Salafiyyah karya Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Asy-Syihhi).
abu abbas

Untuk yang kembali ke Ahlussunnah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.37 No comments
WASIAT BERHARGA BAGI ORANG YANG KEMBALI KE SALAF


Segala puji bagi Alloh  atas segala nikmat-Nya yang melimpah. Segala nikmat yang telah Dia karuniakan atas umat ini secara umum. Dan atas Ahlus Sunnah Wal Jama’ah secara khusus. Dia terangi jalan mereka, sehingga mampu melihat dengan jelas dan menjadi tenang dengannya.
Bagaimana tidak demikian? Sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari Kitabulloh dan Sunnah Nabi mereka  . Dengan dilandasi oleh pemahaman Salafus Shalih, dari kalangan para sahabat dan tabi’in yang merupakan generasi utama. Padahal banyak orang tersesat dari jalan ini. Banyak orang bingung untuk menjalani jalan ini. Sehingga mereka terjebak dan tenggelam dalam syubhat (ketidak jelasan) yang menyesatkan. Wal ‘iyaadzu billaah.
Meski demikian, alhamdulillah masih banyak orang tergerak untuk kembali kepada Alloh, di atas Manhaj (jalan) para Salafus Shalih. Lari meninggalkan kelompok-kelompok sesat dan syubhat-syubhat merusak. Yang membuat akal dan hati mereka menjadi sakit selama bertahun-tahun. Dan menghilangkan kekuatan mereka dalam masa yang panjang.
Keadaan merekapun berubah. Bukan orang partai, bukan pula pergerakan. Bukan Jama’ah Tabligh, bukan pula penganut tasawwuf. Bukan Ikhwanul Muslimin, bukan pula Sururi Quthbi. Namun menjadi pengikut Sunnah Nabi  .
Tidak diragukan lagi jika kembalinya mereka menuju Manhaj Salaf menggembirakan kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ahlah orang yang paling mengasihi manusia, seperti halnya mereka paling mengenal kebenaran.
Bagaimana mereka tidak bahagia? Sedangkan mereka sering mendengar sabda Nabi mereka  :
لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيْرِهِ وَ قَدْ أَضَلَّهُ فِيْ أَرْضٍ فَلاَةٍ
“Sungguh Alloh lebih bahagia dengan taubat hamba-Nya daripada kebahagiaan salah seorang dari kalian yang menemukan untanya padahal dia telah kehilangannya di tengah padang.” [Diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Anas bin Malik  (6309) dan Muslim (6896). Ini merupakan lafazh riwayat Bukhari].
Dan juga sabda beliau  :
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [Diriwayatkan oleh Bukhari (13) dan Muslim (162)].
Hanya saja, kebahagiaan ini disertai pula oleh rasa sedih dan kasihan terhadap keadaan sebagian orang yang bertaubat menuju Sunnah. Seperti kebingungan dan kegoncangan. Bisa disebabkan oleh banyaknya syubhat-syubhat (kerancuan) yang disebarkan oleh para pelaku kebatilan. Sehingga orang-orang yang bertaubat tersebut menjadi goyah. Dan bisa pula karena mereka tidak bertanya kepada ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam masalah tersebut.
Karena itulah kami menerbitkan risalah yang berisi wasiat-wasiat untuk orang-orang yang bertaubat menuju Sunnah ini.
Wasiat Pertama:
۞ Pujilah Alloh  atas nikmat sunnah ini dan bersyukurlah kepada-Nya.
Sesungguhnya nikmat sunnah ini merupakan nikmat yang sangat besar. Alloh berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Maka baguslah dalam mensyukuri dan mengamalkannya. Ingatlah bahwa:
Betapa banyak orang yang tenggelam dalam syubhat (ketidak jelasan) tanpa dia tahu jalan keluarnya.
Betapa banyak orang terjebak nafsu syahwat tanpa dia tahu kapan dia akan bebas darinya.
Karena itu bersyukurlah kepada Alloh . Ketahuilah bahwa nikmat ini hanyalah datang dari Alloh  semata. Sesungguhnya Anda tidak memiliki kemampuan ataupun usaha untuk mendapatkannya, kecuali dengan pertolongan Alloh . Alloh  lah yang telah mengasihi Anda dan memberi Anda hidayah. Bersyukurlah bahwa Alloh  tidak mematikan Anda dalam keadaan tenggelam dalam syubhat atau syahwat. Hanya milik Alloh sajalah segala pujian di dunia dan di akhirat. Alloh lah yang telah menuntun Anda. Dia mudahkan untuk Anda orang yang menuntun Anda menuju Manhaj Salaf. Betapa banyak nikmat-Nya yang telah Dia berikan kepada kita semua. Alloh  berfirman:
       [إبراهيم: 34]
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah. (QS. Ibrahim: 34).
Jangan sampai Anda lupa diri dan sombong. Ingatlah firman Alloh  :
       •  [النساء: 94]
Begitu jugalah Keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. (QS. An-Nisaa’: 94).
Jangan sampai Anda merendahkan orang lain yang diuji oleh Allah dengan kegelapan yang Anda telah diselamatkan oleh Alloh darinya. Sebaliknya, pujilah Alloh  bahwa Dia telah selamatkan Anda tanpa menimpakan kepada Anda apa yang menimpa mereka. Jika Anda melihat orang yang ditimpa ujian, katakanlah:
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَ فَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً
“Segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan aku dari apa yang menimpamu. Dan memberiku kelebihan di atas banyak makhluk.”
Berbelas kasihlah atas mereka. Berharaplah bahwa Alloh  akan memberikan kebaikan dan hidayah seperti yang telah diberikan-Nya kepada Anda.
Kemudian ketahuilah -semoga Alloh  memberimu taufiq- bahwa Anda haruslah menjalani sebab-sebab yang membantu Anda untuk memperbaiki taubat Anda dengan sunguhh-sungguh dan ikhlas. Hal pertama yang harus Anda mulai adalah:

Wasiat Kedua:
۞ Sesungguhnya ilmu merupakan perkara asasi dalam memperbaiki taubat Anda. Karena dua alasan:
Pertama: Umumnya kerancuan dan ketidak jelasan (syubhat) yang ada melekat dalam dada dan fikiran Anda. Jika Anda tidak mengoreksinya dengan ilmu yang bermanfaat, maka Anda akan mendapati diri Anda tidak lepas dari syubhat-syubhat ini dalam ucapan, perbuatan dan keadaan Anda, Bahkan dalam dakwah Anda. Seperti halnya kebanyakan orang-orang yang baru bertaubat kemudian langsung terjun ke medan dakwah. Merekapun menyerukan Dakwah Salafiyah, namun bercampur dengan syubhat-syubhat Ikhwanul Muslimin, ataupun Quthbiyah Takfiriyah (kelompok yang gemar dan gampang mengkafirkan umat) ataupun Sururiyah Hizbiyyah. Sehingga, bentuk luarnya Salafi namun rasa dan wanginya bukan. Akhirnya, dakwah salafiyah mereka mencakup kriteria-kritreria tertentu. Dasarnya syubhat-syubhat yang terbawa semenjak sebelum bertaubat dan belum diperbaiki.
Akhirnya ada yang mengajak untuk membentuk kekuatan dakwah, ada yang meninggalkan sebagian pokok (ushul) Manhaj Salaf, dengan alasan hal itu dapat mengeraskan hati atau memutuskan ikatan persaudaraan. Ada pula yang mendukung pemikiran Quthbiyah, ada yang mengajak kepada Hizbiyah (berkelompok dan fanatik kepadanya). Ada pula yang membawa pemikiran-pemikiran teroris. Semuanya atas nama Salafi. Hanya kepada Alloh  sajalah kita mengadu. Kita semua milik Alloh  dan kepada-Nya kita akan kembali.
Kedua: Bisa jadi Anda dipengaruhi oleh satu syubhat yang merubah jalan Anda dalam bertaubat menuju Sunnah. Akibatnya, Anda kebingungan atau malah mendakwahkan syubhat tersebut karena mengiranya sebagai kebenaran padahal kesesatan murni.
Betapa banyak orang-orang yang mengaku Alim Salafi mempermainkan para pemuda yang bertaubat menuju Alloh . Penyebabnya tidak lain hanyalah karena mereka tidak menuntut ilmu yang bermanfaat, tidak pula bertanya kepada Ulama' Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
Karenaitu wahai saudaraku yang bertaubat –semoga Alloh  memberi Anda taufik-...Anda harus menuntut ilmu yang bermanfaat. Karena itulah yang membuat taubat Anda benar dan meluruskan jalan Anda. Dengannya Anda akan selamat dari syubhat dan ketergelinciran, Anda akan selamat dari jerat-jerat dan perangkap dengan izin dan taufik Alloh .
Adapun dalil-dalil tentang keutamaan ilmu dan pemiliknya sangatlah banyak dan bukanlah suatu hal yang asing lagi. Saya sebutkan diantaranya firman Alloh :
                   
"Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".[QS. Ali 'Imran: 18].
Demikian pula firman Alloh :
       
"Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".[QS. Fthir: 28].
Dan firman Alloh :
         
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat".[QS. Al-Mujaadilah: 11].
Demikian pula firamn Alloh  yang menyebutkan kepada Nabi-Nya  tentang Al-Kitab dan Hikmah yang telah diberikan-Nya kepadanya, serta pemeliharaan yang diberikan-Nya atasnya dari orang-orang yang ingin menyesatkannya.
Alloh  berfirman(artinya):
"Sekiranya bukan karena karunia Alloh dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. dan (juga karena) Alloh telah menurunkan kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Alloh sangat besar atasmu".[QS. An-Nisa': 113].
( Sumber: Al-Wshaya As-Saniyyah Lit Taa-ibiin ilas Salafiyyah. Karya: Abu Abdillah bin Ahmad bin Muhammad Asy-Syihhi ).

HADITS LEMAH DAN PALSU

1.
(( اُطْلبُوُا العِلْمَ وَ لَوْ باِلصِّيْنِ )) 2.
"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina"
Batil. Diriwayatkan oleh Ibnu 'Adi 207/2, Abu Nu'aim di dalam Akhbar Ashbahan 2/106, Ibnu 'Ulaik An-Naisaburi di dalam Al-Fawa-id 241/2, Abu Al-Qasim Al-Qushairi di dalam Al-Arbain 151/2, Al-Khathib di dalam At-Tarikh 9/364 dan di kitab Ar-Rihlah 1/2, Al-Baihaqi di dalam Al-Madkhal 241/324, Ibnu 'Abdil Barr di dalam Jami' Bayan Al-Ilmi 1/7-8, dan Adh-Dhiya' di dalam Al-Muntaqa 28/1 .[Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al Maudhu'ah oleh Imam Al-Bani 1/600 no.416].
2.
(( اِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَة ٌ ))

"Perselisihan Umatku adalah Rahmat"
Tidak ada asalnya. Al-'Allamah Ibnu Hazm berkata di dalam kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam 5/64 setelah mengisyaratkan bahwasanya dia itu bukanlah hadits: "Ini adalah termasuk perkataan yang paling rusak, karena seandainya ikhtilaf (perselisihan) itu rahmat niscaya ittifaq (kesepakatan) itu adalah kemurkaan, dan hal ini tidaklah patut dikatakan oleh seorang muslim".
"Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."[QS. An-Nisa': 82]
Dan ayat di atas telah gamblang mengkhabarkan bahwa ikhtilaf itu bukanlah dari Alloh datangnya, maka mengapa hal itu dijadikan sebuah syari'at yang dengannya akan membendung beberapa permasalahan di dalam beragama?.[Lihat silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al-Maudhu'ah 1/141 oleh Imam Al-Bani].
Adapun hadits yang sah datangnya dari Nabi  berbunyi:
(( الجَمَاعَةُ رَحْمَة ٌوَالفُرْقَة ُ عَذَابٌ ))
"Jama'ah itu adalah Rahmat sedangkan Furqoh(Perpecahan) itu adalah Adzab".
Hasan. Lihat As-Sunnah oleh Ibnu Abi 'Ashim 93, dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Al-Imam Al-Bani 2/272.
3.
(( مَنْ غَسَلَ مَيْتًا فَأدَّى فِيْهِ الأمَانَةَ يَعْنِي سَتَرَ مَا يَكُوْنُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ ))
"Barangsiapa yang memandikan mayit kemudian menunaikan amanat yakni dia menutupi apa-apa yang ada pada mayat
tersebut maka dosanya(bersih) bagaikan hari dia dilahirkan oleh ibunya".
Dhaif Jiddan(Lemah sekali). [Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al-Maudhu'ah 3/369 no.1225, dan Dhaif At-Targhib wa At-Tarhib 2/208 oleh Imam Al-Bani].
abu Abbas

Terbunuhnya Khubaib Bin Adi

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.32 No comments
MEMETIK PELAJARAN DARI PERISTIWA TERBUNUHNYA SAHABAT KHUBAIB BIN 'ADI 
-----------------------------------------------------------------------

Ketika kita membuka lembaran sejarah kehidupan Rasululloh  bersama para sahabatnya akan kita temukan sebuah gambaran yang dipenuhi dengan mutiara kemuliaan serta lika-liku kehidupan yang mencengangkan bagi siapa yang merenunginya. Demikian, karena garis edar kehidupan mereka berada di bawah bimbingan dan naungan ilahi yang tercermin dalam perilaku dan budi pekerti mereka yang teramat mulia sehingga tidak akan pernah lapuk dan tidak pula akan pernah lekang meski zaman akan terus bergulir. Alloh  berfirman dalam surat Yusuf: 111

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal".


Satu diantara lembaran-lembaran tersebut adalah peristiwa terbunuhnya sahabat Khubaib bin 'Adi  dalam sebuah tregedi memilukan namun meninggalkan goresan pelajaran yang tak terhingga nilainya bagi umat Islam yang mendambakan kemuliaan di dunia dan akhirat.

PENGGALAN KISAH
Memasuki tahun ke-4 hijriyah tepatnya pada bulan shofar , Sekelompok kaum yang berasal dari suku Adhol dan Qoroh datang ke hadapan Rasululloh  guna meminta agar dikirimkan orang yang akan mengajarkan mereka agama Islam. Melihat sikap antusias mereka untuk mengenal agama Islam, Rasululloh  memilih sepuluh orang sahabatnya untuk mengemban tugas yang mulia ini, diantaranya adalah; 'Ashim bin Tsabit, Martsad bin Abi Martsad, Abdulloh bin Thoriq, Zaid bin Datsinah, Khubaib bin 'Adi, dan beberapa orang sahabat lainnya yang kemudian beliau menunjuk 'Ashim bin Tsabit sebagai ketuanya (menurut salah satu pendapat).
Setelah segala perbekalan dan kebutuhan selama perjalanan dipersiapkan, merekapun mengayuh langkah untuk melaksanakan tugas ini dengan ditemani rombongan dari kedua suku tersebut. Namun manakala mereka sampai di sebuah tempat yang bernama Ar-Roji (daerah pinggiran Hijaz) yang merupakan sumber dan mata air bagi suku Hudzail, Sekelompok kaum tadi (Adhol dan Qoroh) melakukan pengkhianatan dengan meminta bantuan suku Hudzail untuk mengepung dan menghabisi utusan Rasululloh  yang berakhir dengan terbunuhnya delapan orang diantara mereka, termasuk ketuanya yakni 'Ashim bin Tsabit.

Adapun dua sahabat lainnya yaitu Zaid bin Datsinah dan Khubaib bin 'Adi, maka mereka ditawan dan diperjual belikan sebagai seorang budak di kota Mekah hingga jatuhlah Zaid bin Datsinah ke tangan Sofwan bin Umayyah lantas membunuhnya sebagai balas dendam atas kematian ayahnya pada perang Badar. Adapun Khubaib bin 'Adi maka beliau dibeli oleh Bani Harits (anak keturunan Harits bin Amir bin Naufal yang dibunuh oleh Khubaib bin 'Adi pada perang Badar).
Kini Khubaib bin 'Adi tinggal seorang diri dalam kurungan Bani Harits untuk menerima siksaan demi siksaan yang kemudian akan hukum mati oleh orang-orang kafir Quraisy. Hari yang ditentukan pun tiba, beliau diseret ke sebuah tempat lapang yang bernama Tan'im (lokasi Universitas 'Aisyah sekarang) untuk di hukum mati di depan masa, namun sebelum dimulai beliau mengajukan satu permintaan: "Bila kalian berkehendak, biarkan aku melakukan sholat dua roka'at dulu" , ucap beliau. Dan merekapun membiarkannya hingga selesai dalam waktu yang relatif cukup singkat kemudian berucap: "Andaikata kalian tidak akan mengira bahwasanya aku takut mati, tentulah aku akan sholat kembali". Setelah itu beliaupun mengucapkan sebuah syair yang semakin membuat mereka geram dan menjadikan darah-darah mereka panas mendidih. Ucap beliau:
* وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِماً **
عَلى أَيِّ شِقّ كَانَ لِلَّهِ مَصْرَعِي
* وَذلِكَ في ذَاتِ الإِلهِ وَإِنْ يَشَأْ **
يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلوٍ مُمَزَّعِ **
"Sungguh tiada aku peduli bila aku terbunuh sebagai seorang muslim. Di bagian manapun kematianku datang menjemput, bila semua itu semata karena Alloh demikian itu hanya untuk Dzat Ilahi, dan jika Dia berkehendak, Dia akan memberkahi setiap potongan tubuhku yang tercincang".[HR. Bukhori no. 3045]
Abu Sufyan (yang kala itu masih kafir) berkata kepadanya: "Apakah kamu suka jika seandainya Muhammad kami penggal batang lehernya lantas engkau kami bebaskan hingga bisa bersenang-senang dengan keluargamu?". Mendengar kelancangan Abu Sufyan akan diri Nabi Muhammad, tanpa gentar sedikitpun beliau berkata:
لا واللهِ ، ما يسرُّني أني في أهلي ، وأنَّ محمداً في مكانهِ الَّذِي هُوَ فيه تُصيبُهُ شَوْكَةٌ تُؤذِيه.
"Tidak, Demi Alloh sunnguh aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan bersama keluargaku sedangkan Muhammad di tempatnya terusik oleh sepotong duri yang mengganggunya" . Kemudian setelah beliau selesai mengucapkan kalimat tersebut, merekapun menyeretnya menuju sebatang kayu untuk disalib kemudian memotong satu persatu anggota tubuh beliau hingga beliau  menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan ridho kepada Alloh . Mengenai peristiwa ini Sa'id bin Amir bin Hudzaim berkata: "Aku menyaksikan peristiwa terbunuhnya Khubaib bin 'Adi, dan sungguh orang-orang kafir Quraisy mencincang tubuh beliau" . Inilah tragedi pilu yang dialami oleh sahabat Kubaib bin 'Adi dalam memegang teguh agama yang mulia ini.

MUTIARA KISAH
Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Alloh  dalam ayat sebelumnya bahwasanya di dalam kisah orang-orang sholeh sebelum kita terdapat pelajaran yang terhingga nilainya bagi siapa yang mau menghayati dan memahaminya tak terkecuali pada kisah Khubaib bin 'Adi di atas. Berikut ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini diantaranya:

1. Kewajiban mencintai Rasululloh  di atas segalanya. Satu diantara tanda dan bukti sempurnanya iman seseorang adalah apabila ia mampu mencintai Rasululloh  di atas cinta dan loyalitas kepada orangtua, anak dan istri, serta harta benda lainnya.
Rasululloh  bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.
"Tidaklah sempurna keimanan seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orangtua, anak dan manusia seluruhnya". [HR. Bukhori dan Muslim]
2. Ujian adalah sebuah kepastian manakala seseorang telah mengikrarkan keimanannya kepada Alloh dan RasulNya, maka satu hal yang perlu disadari yaitu bahwasanya ujian dan cobaan pasti akan menghampirinya. Hal ini Alloh tegaskan dalam firmanNya:
  "Apakah manusia itu mengira akan dibiarkan mengatakan kami telah beriman sedangkan mereka tidak diuji lagi?. Sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka maka dengannya Alloh mengetahui orang-orang yang jujur dan orang-orang yang dusta".[QS. Al-'Ankabut: 2-3]
3. Tegar di atas al-Haq (kebenaran). Mengenai hal ini sahabat Khobbab bin Arot pernah mengadu pada Rasululloh  akan perihal beratnya ujian yang beliau alami dari orang-orang kafir Quraisy, maka Rasululloh  berkata untuk membangkitkan semangat para sahabtnya supaya mereka tetap kokoh menggenggam agama ini dengan menceritakan ujian dan cobaan yang menimpa orang-orang soleh terdahulu. Di Sabda beliau : "Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada diantara mereka yang dipendam di dalam tanah kemudian diletakkan gergaji di atas kepalanya, namun semua itu tidak membuat mereka berpaling dari agamanya dan ada pula diantara mereka yang disisir dengan sisir besi sehingga daging mereka tepisah dari tulangnya namun ujian itu tidak juga membuat mereka meninggalkan agamanya. Dan sungguh (wahai sahabatku) Alloh akan menyempurnakan perkara (agama) ini hingga kalian akan menyaksikan ada orang yang berjalan dari Shon'a menuju Hadromaut tidak merasa takut kecuali kepada Alloh atau dari serigala yang akan m
emakan kambing-kambing mereka, akan tetapi kalian terburu-buru".[HR. Bukhori]
Kaum muslimin inilah sabda Rasululloh  kepada sahabatnya Khobbab bin Arot untuk membangkitkan semangatnya dalam memegang teguh agamanya meski badai ujian terus datang menerpa ayunan langkahnya. Dan dengan segala keterbatasan, mungkin hanya ini yang dapat kami ketengahkan pada lembaran kali ini, sekiranya goresan pena ini bisa menjadi pendorong bagi kita dalam menjalani agama yang mulia ini, terlebih bagi kita yang hidup di penghujung zaman dengan keterasingan Islam yang kian memuncak. Semoga

Ditulis oleh: Zakariya Abu Kholid At-Turi
Catatan dari Redaksi: Bahwasanya kisah ini kami hadirkan bukan dengan tujuan untuk membela gerakan Amrozi, Imam Samudra Cs yang memiliki pemahaman khowarij seperti tokoh-tokohnya; Salman Al-'Audah, Dr. Safar Hawali, Dr. Abdulloh Azzam, Usamah bin Laden, dan semisalnya. Bahkan kisah ini sebagai hujjah untuk menjelaskan kesalahan gerakan mereka. perhatikan manhaj (sikap/ metode cara beragama) salaf yang sejati dari sahabat Sa'id bin Amir bin Hudzaim  yang hanya diam (dengan menimbang maslahat dan mafsadat) ketika melihat kezholiman itu disamping ia tetap mengingkari di dalam hatinya dan tidak mengangkat senjata terlebih lagi mengadakan pengeboman di sana-sini secara tidak haq.
Muroja'ah oleh: Ust. Mizan Qudsiyah, Lc.

Salaf dan Kasih Sayang

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.29 No comments
MENGHIDUPKAN KASIH SAYANG…
--------------------------

Ungkapan rasa gembira dan tasbih patut kita utarakan dengan semakin banyaknya saudara-saudara kita yang mulai kembali berusaha meniti jalan kebenaran. Semakin membanjirnya majelis-majelis ilmu yang kita lihat di beberapa tempat adalah salah satu bukti nyata semakin banyaknya para penuntut ilmu.
Mereka para penuntut ilmu itu berusaha terus-menerus dan begitu semangatnya dalam menuntut ilmu. Akan tetapi hal yang perlu kita ingatkan adalah agar mereka bersemangat juga dalam mengamalkannya, karena pada hari ini betapa banyak sekali orang yang berdakwah akan tetapi sangat sedikit sekali orang yang benar-benar mancurahkan perhatian untuk mengamalkannya. Salah satu contoh ada segelintir orang yang dengan bermodalkan semangat untuk masuk ke sebuah sekolah dia tidak malu untuk memalsukan berkas-berkasnya dengan merubah tanggal lahir menjadi lebih muda agar memenuhi syarat-syarat penerimaan siswa/ mahasiswa.
Dari kenyataan yang ada ini, ada hal yang perlu kami tekankan dan ingatkan terus menerus, khususnya pada diri kami dan saudara-saudara kami agar kita jangan melupakan suatu hal yang penting dan merupakan kewajiban, yaitu mengamalkan ilmu disamping kita mempelajari dan mendakwahkannya, yakni jangan sampai semangat menuntut ilmu dan berdakwah dapat mengalahkan semangat dalam mengamalkan ilmu, karena Alloh  telah mengancam orang-orang yang berilmu dan berdakwah akan tetapi tidak mengamalkannya.

Alloh  berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tidak kamu kerjakan”. [QS. Ash-Shof: 2].
Berpijak dari kenyataan ini, maka kita juga patut bersedih karena sebagian para penuntut ilmu kita jumpai sudah bertahun-tahun menuntut ilmu akan tetapi mereka bakhil untuk meneteskan air matanya karena Alloh , mereka bakhil dalam mengamalkan ilmunya, mereka bakhil untuk mengunjungi saudaranya, bahkan hal yang sangat menyedihkan ketika kita akan bawakan perkataan para salaf tentang ditinggalkannya sunnah-sunnah mereka langsung menolak tidak mau mendengar bahkan menolak untuk berkunjung. Maka berhati-hatilah orang yang meremehkan dan menyelisihi syari’at akan ditimpa oleh fitnah dan adzab yang pedih.
Alloh  berfirman:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [QS. An-Nur: 63].
Nabi  pernah bersabda tatkala menyebutkan tentang larangan meremehkan sesuatupun dari syari’at walaupun hal yang kita anggap kecil di mata kita.
عن أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِىَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- (( لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ )).
Dari Abu Dzar berkata; Nabi  pernah berkata kepadaku: “Janganlah kamu meremehkan sesuatupun dari kebaikan, walaupun dengan kamu menjumpai saudaramu dengan wajah yang ceria”. [HR. Muslim 8/37 no. 6857, At-Tirmidzi 4/274 no. 1833, Ahmad 3/344 no. 14751, dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami’ no. 7634].

Bukankah kita pernah mendengar sebuah pepatah yang mengatakan Tak kenal maka tak sayang ? maka demikianlah hal dan kenyataannya apabila kita tidak saling kenal antara satu dan lainnya. Bukankah Alloh  dan RasulNya  menganjurkan kepada kita semua untuk saling berkasih sayang? Berkasih sayang kepada siapa saja; kepada orang Islam ataupun kafir, yang berilmu ataupun awam, kaya ataupun miskin, bahkan kepada hewanpun seperti kambing kita dianjurkan untuk mengasihinya.
Nabi  bersabda:
)) وَ الشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَها رَحِمَكَ اللهُ ((
“Seekor kambing apabila kamu menyayanginya, maka Alloh akan menyayangimu”. [HR. Bukhori di dalam Al-Adabul Mufrod no. 373, Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jamus Shogir hal. 60, Ahmad 3/436, 5/34, Al-Hakim 3/586, Ibnu ‘Adi di dalam Al-Kamil 259/2, Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah 2/302, dan Ibnu ‘Asakir 6/257/1. dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah 1/33 no. 26].
Allohumma, perhatikanlah hadits di atas, alangkah luas dan dalamnya ilmu di dalam Islam ini dan alangkah banyaknya pahala di dalamnya. Maka seorang Ahlussunnah ketika mereka mendengar sebuah hadits, mereka berusaha untuk mengamalkan sesuai kemampuannya dan tidak meremehkan sebuah haditspun ketika riwayat dan tafsirnya telah benar dan jelas serta tidak adanya pertentangan dengan riwayat yang lain.
Maka apabila kasih sayang itu tidak dapat terwujud kecuali dengan kita menyambung tali silaturahmi maka wajib hukumnya untuk kita berkunjung kepada saudara kita.
Para ulama mengatakan:
))مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ((
“Apabila suatu yang wajib tidak dapat terwujud(sempurna) kecuali dengan suatu cara, maka cara itu dihukumi wajib pula”. [dilihat di dalam Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil haq min ‘Ilmil Ushul 2/194 oleh Imam As-Syaukani, Al-Asybah Wan Nazhoir 2/90 oleh Imam As-Subki, Al-Bahrul Muhith 1/192 oleh Az-Zarkasyi, Risalah Jami’ah fi Ushulil Fiqh 1/18 oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, At-Taqlid wal Ifta` wal Istifta` 1/155 oleh Syaikh Abdul Aziz Ar-Rojihi, dll]

Ketahuilah dan ingatlah bahwa Nabi kita yang mulia  pernah mengeluarkan sebuah perkataan yang patut kita camkan.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- )) أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِى قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِى فِى هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّى أَحْبَبْتُهُ فِى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ ((.
Dari Abu Hurairoh , dari Nabi : “Bahwasanya ada seorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa yang lain, maka Alloh mengutus seorang malaikat kepadanya di jalannya. Maka malaikat itu datang kepadanya dan berkata; ‘hendak kemanakah kamu?’ Orang itu menjawab; ‘Saya hendak menuju saudaraku di desa ini. Malaikat berkata; ‘apakah kamu memiliki suatu kesenangan untuknya yang kamu jaga?’ orang itu berkata; ‘Tidak, melainkan Saya hanya mencintainya karena Alloh ‘Azza wa Jalla. Malaikat itu berkata; ‘Ketahuilah bahwasanya Saya ini diutus oleh Alloh untuk menemuimu dan bahwasanya Alloh sungguh mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu”. [HR. Muslim 8/12 no. 6714, Ahmad 2/408 no. 9280, Ibnu Hibban 2/331 no. 572. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohihut Targib wat Tarhib 2/348 no. 2577 dan di dalam Misykatul Mashobih 3/85 no. 5007].

Maka dari hadits ini dapat kita ambil pelajaran diantaranya; pertama, bahwasanya disyari’atkannya bagi kita untuk berziarah mengunjungi teman atau saudara, kedua; ikhlas di dalam berkunjung kepada teman atau saudara semata-mata karena Alloh  dan bukan untuk kepentingan-kepentingan dunia lainnya, karena kita jumpai sebagian para penuntut ilmu mereka mengadakan safari dakwah untuk suatu keperluan bukan tujuan untuk berziarah.

Alloh  berfirman di dalam hadits qudsi:
(( وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ ، وَالمُتَجَالِسِيْنَ فِيَّ ، وَالمُتَبَاذِلِيْنَ فِيَّ ،وَالمُتَزَاوِرِيْنَ فِيَّ ))
“KecintaanKu wajib diperoleh oleh; orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang duduk bermajelis karena Aku, orang-orang yang saling berkorban(dengan jiwa raganya) karena Aku, dan orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku”. [HR. Ahmad 5/233/274, Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jamul Kabir 20/80,81, Al-Hakim Di dalam Al-Mustadrok 4/186, Ibnu Hibban di dalam Shohih nya 2/335 no. 575. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami’ no. 4331]

Maka seharusnya bagi seorang yang benar-benar beriman kepada Alloh  dan hari akhir memperhatikan hal yang sangat mulia ini dengan menyisihkan sedikit kesibukannya dan menjauhkan diri dari kebakhilan akan waktunya maka dari itu kalau tidak mampu mengunjungi saudara setiap tiga hari, maka hendaklah setiap pekan, atau setiap bulan, setiap tahun dan seterusnya atau apabila tidak bisa maka sekali seumur hidup atau kalau tidak bisa maka tunggulah sampai malaikat maut mengunjungimu untuk menjemput ajalmu.

Perhatikanlah para salaf mereka dapat menyisihkan waktu untuk berkunjung kepada saudaranya walaupun harus menempuh jarak yang jauh sekalipun karena boleh jadi kebaikan yang ada pada saudaranya belum didengarnya bahkan sampai-sampai ada sahabat yang jika belum mendengarkan hadits atau kebaikan dari saudaranya mengatakan; “Saya khawatir apabila saya meninggal lebih dahulu atau kamu yang meninggal”. [dilihat di dalam Al-Adabul Mufrod 1/337 oleh Imam Bukhori]
Sebuah contoh tauladan sebagaimana yang dilakukan oleh Imam besar, Imam yang tawadhu’, Imam Ahlissunah, Imam Ahmad tatkala safar dari Baghdad menuju daerah yang jauh bernama Ar-Ray hanya sekedar untuk ingin mengunjungi seseorang yang shaleh, zuhud, dan mengikuti kebenaran.
Hendaklah kita saling menyambung komunikasi dan tali silaturahmi dengan memperhatikan adab-adab yang telah diajarkan oleh Islam serta menjauhkan hal-hal yang dapat menimbulkan adanya permusuhan, memutus tali persaudaraan, kebencian, dan saling membelakangi.

Nabi  bersabda:
((لاَ تُقَاطِعُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَكُونُوا إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ((
“Janganlah kalian saling memutus, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian dengki, dan jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh”. [HR. Muslim 2563].
Wallohu a’lam. (Abu Abdillah).

Ketinggian Alloh

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.22 No comments
KETINGGIAN ALLOH DAN DALIL-DALILNYA
-----------------------------------

Segala puji bagi Alloh Rabb semesta alam dan semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Nabi Muhammad, amma ba’du;


Ketinggian Alloh ('uluw) adalah salah satu sifat dzatiah (yaitu sifat yang tetap pada dzat Alloh). Sifat ini terbagi menjadi dua:
Pertama: Ketinggian sifat. Artinya: tidak ada satu sifat sempurnapun kecuali Alloh memi-liki sifat yang lebih tinggi dan sempurna darinya.
Kedua: Ketinggian dzat. Artinya bahwa Alloh tinggi dengan dzat-Nya di atas sege-nap makhluk-Nya.
Hal ini disyaratkan oleh Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', akal dan fitrah.
Sesungguhnya Al-Qur'an dan As-Sunnah penuh dengan dalil yang secara jelas dan tegas menetapkan ketinggian Alloh dengan dzat-Nya di atas makhluk-Nya. Di antaranya:
Terkadang menyebutkan ketinggian, kebe-radaan di atas, istiwa' (bersemayam) di atas Asry dan keberadaan-Nya di atas langit. Se-perti firman-Nya:
Dan Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255).
Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi. (Al-A'laa: 1).
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka. (An-Nahl: 50).
Alloh Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy. (Thaahaa: 5).
Apakah kalian merasa aman terhadap Alloh yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kalian? (Al-Mulk: 16).

Adapun dari As-Sunnah:
وَ الْعَرْشُ فَوْقَ ذَلِكَ وَ اللهُ فَوْقَ الْعَرْشِ
"Dan Arsy berada di atasnya, dan Alloh ber-ada diatas Arsy."
أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَ أَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kalian mempercayaiku aku se-dang aku adalah kepercayaan Alloh yang ada di atas langit?"
Terkadang menyebutkan naik dan terang-katnya sesuatu menuju-Nya, seperti::
Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik (Faathir: 10).
Malaikat-malaikat dan jibril naik (menghadap) kepada Alloh. (Al-Ma’arij: 4).
Tetapi, Alloh telah mengangkatnya (Isa) kepadaNya. (An-Nisa': 158).
Dan sabda Nabi :
وَ لاَ يَصْعَدُ إِلَى اللهِ إِلاَّ الطَّيِّبُ
“Tidaklah naik menuju Alloh kecuali hal yang baik.”
ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
“Kemudian mereka yang telah menginap di te ngah-tengah kalian naik menuju Rabb mereka.”
يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَ عَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ
“Diangkat kepadaNya amalan malam hari sebelum amalan siang hari, dan amalan siang hari sebelum amalan malam hari.” [Diriwayatkan oleh Ahmad].
Terkadang menyebutkan turunnya sesuatu dariNya, dan lain-lain. Seperti firman-Nya:
(Al-Qur’an) Diturunkan dari Rabb semesta alam. (Al-Waqi'ah: 80).
Katakanlah: “Ruhul Qudus (jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Rabbmu.” (An-Nahl: 102).
Dan sabda Nabi :
يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ
“Rabb kami turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.”
Dan masih banyak lagi ayat-ayat serta hadits-hadits lainnya yang mutawatir dari Nabi .
Adapun ijma': Sesungguhnya para sahabat, Tabi'in yang mengikuti mereka dengan ke baikan serta para imam Ahli Sunnah berse pakat bahwa Alloh Ta'ala berada di atas la ngit-Nya, di atas Arsy-Nya. Banyak sekali ucapan mereka tentang hal ini. Al-Auza'i ber kata: “Kami dan Tabi'in sepakat berkata: “Se-sungguhnya Alloh Ta'ala dzikruh berada di atas Arsy-Nya, dan kami mengimani sifat-si fat yang tercantum dalam As-Sunnah.”
Al-Auza'i mengucapkan hal ini setelah mun culnya Mazhab Jahmiyah yang meniadakan sifat Alloh dan ketinggian-Nya; agar orang-orang mengetahui bahwa Mazhab Salaf ber lawanan dengan Mazhab Jahmiyah.
Tidak seorangpun dari kalangan Salaf pernah mengatakan bahwa Alloh tidak di atas langit. Tidak pula mengatakan bahwa Alloh dengan dzat-Nya berada di setiap tempat. Tidak pula mengatakan bahwa semua tempat dibanding kan dengan Alloh adalah sama. Tidak pula mengatakan bahwa Alloh tidak berada di da-lam atau luar alam, tidak bersambung dan ti-dak terputus. Dan tidak pula mengatakan bahwasanya tidak diperbolehkan mengi-syaratkan dengan anggota tubuh ke arah Alloh, bahkan sebaliknya makhluk yang pa-ling mengenal-Nya (Rasulullah) telah mengi-syaratkan ke arah-Nya ketika Haji Wada' pada hari Arafah. Beliau mengangkat jari te lunjuknya ke arah langit dan berkata: "Ya Alloh, saksikanlah." Mempersaksikan Rabb-nya atas ikrar umatnya bahwa dia telah me-nyampaikan risalah.
Adapun akal: Sesungguhnya setiap akal se-hat mingisyaratkan wajibnya ketinggian Alloh dengan dzat-Nya di atas makhluk-Nya, dari dua sisi:
Pertama: 'Uluw (Tinggi) adalah sifat sem purna, dan Alloh Ta'aala wajib memiliki ke-sempurnaan mutlak dari segala segi, sehing-ga wajib menetapkan sifat 'uluw bagi Alloh.
Kedua: Lawan dari tinggi adalah rendah, dan rendah adalah sifat kekurangan, sedang Alloh suci dari segala sifat kekurangan, se-hingga wajib mensucikan-Nya dari sifat ren-dah dan menetapkan lawannya yaitu tinggi.
Adapun fitrah: Sesungguhnya Alloh Ta'aala memberi fitrah kepada seluruh makhluk, baik yang arab maupun non arab, bahkan binatang, untuk beriman kepada-Nya dan mengimani ketinggian-Nya. Tidak seorang hambapun menghaturkan do'a atau beri badah kepada Rabbnya melainkan dia mera-sakan adanya keharusan untuk memohon ke atas dan menghadapkan hatinya menuju la-ngit, tidak melirik kekiri dan ke kanan. Tidaklah menyimpang dari konsekuensi fit-rah ini melainkan orang yang dipalingkan oleh syaitan dan hawa nafsu.
Pernah Abul Ma'ali Al-Juwaini berkata da-lam majlisnya: "Alloh telah ada dan tidak ada sesuatu apapun, dan Dia sekarang tetap berada di atas tempat-Nya yang dulu." (Dia mengungkapkan pengingkaran atas berse-mayamnya Alloh di atas Arsy). Maka Abu Ja'far Al-Hamadani berkata: "Tidak usah me-nyinggung Arsy – karena hal itu ditetapkan oleh nash – tapi tolong beritahu kami tentang keharusan yang kami rasakan dalam hati. Tidak ada seorang berakalpun berkata: 'Yaa Alloh' kecuali dia merasakan dalam hatinya keharusan untuk memohon ke atas, tidak melirik ke kiri atau ke kanan. Bagaimana kami menepis hal ini?" Abul Ma'ali lantas berseru sambil menampar wajahnya sendiri, katanya: "Al-Hamadani telah membuatku bi ngung, Al-Hamadani membuatku bingung.”
Adapun firman Alloh Ta'ala yang berbunyi:
         
Dan Dia-lah Alloh, baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan. (Al-An'am: 3).
Dan firman-Nya:
            
Dan Dia-lah Ilah di langit dan Ilah di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Az-Zukhruf: 84).
(Kedua ayat ini) tidaklah memiliki makna bahwa Alloh berada di bumi sebagaimana Dia berada di atas langit. Barang siapa me-miliki anggapan seperti ini atau menukilnya dari salah seorang Salaf maka dia telah keliru dengan anggapannya dan berdusta dengan penukilannya.
Makna ayat pertama adalah: Bahwa Alloh di sembah di langit dan di bumi. Seluruh peng huni langit dan bumi menghamba kepada-Nya dan menyembah-Nya. Atau bisa pula dimaknakan: Alloh berada di atas langit, ke-mudian Dia memulai kalimat baru dengan firman-Nya:
Dan di bumi Dia mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian lahirkan. (Al-An'am: 3).
Artinya: Alloh mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian tampakkan di bumi, sesungguhnya keting-gian-Nya di atas langit tidaklah mengha langi-Nya untuk mengetahui apa yang ka-lian sembunyikan dan apa yang tampakkan di bumi.
Adapun makna ayat kedua: Bahwa Alloh adalah Ilah (yang disembah) di langit dan Ilah di bumi. Uluhiyah-Nya tetap di langit dan di bumi, meskipun Dia berada di atas la ngit. Sama artinya dengan ucapan seseorang: "Fulan adalah amir (pemimpin) di Makkah dan amir di Madinah; yaitu kepemim pinannya tetap di dua daerah tersebut, meski pun dia berada di salah satu dari kedua dae rah tersebut. Ini adalah ungkapan yang be-nar, baik di timbang dari segi bahasa mau pun ‘urfi. WAllohu a'lam.
Turunnya Alloh Ke Langit Dunia:
Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah  di sebutkan bahwa Nabi  bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ
"Rabb kami turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terkhir dan berkata "Siapakah yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan? Siapakah yang meminta pada-Ku niscaya Aku penuhi? Siapakah yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni?"
Hadits ini telah diriwayatkan dari Nabi  oleh sekitar dua puluh delapan orang sha-habat  dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah se-pakat untuk menerimanya.
Turunnya Alloh ke langit dunia adalah salah satu sifat fi'liyah yang berhubungan dengan kehendak dan hikmah-Nya. Turunnya Alloh adalah hakikat (bukan majaz), sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Tidak dibe-narkan merubah maknanya menjadi: Pe rintah-Nya turun, rahmat-Nya turun atau sa-lah satu dan malaikat-Nya turun. Hal ini ba til dilihat dari beberapa sisi:
Pertama: Penafsiran itu menyelisihi konteks hadist, karena Nabi  menyadarkan "Turun" kepada Alloh. Sesungguhnya sesuatu itu ha nya disandarkan kepada pelaku yang me nimbulkannya atau melakukannya. Sehingga jika dialihkan kepada selain pelakunya, hal tersebut merupakan penyelewengan yang menyelisisi hukum asal.
Kedua: Menafsirkannya dengan makna ter sebut membuat kesimpulan bahwa ada ba gian yang terbuang dari hadits tersebut. Se dang hukum asalnya tidak ada yang ter buang alias lengkap.
Ketiga: Turunnya perintah-Nya atau rahmat-Nya tidak terbatas pada bagian malam ter sebut saja, namun perintah dan rahmat-Nya turun setiap waktu.
Jika ada yang berkata: Maksudnya adalah pe rintah khusus dan rahmat khusus, sehingga tidak mesti turun setiap waktu.
Jawabannya: Baik, anggap saja asumsi dan ta’wil ini benar. Namun coba perhatikan, hadits di atas mengisyaratkan bahwa batas turunnya adalah langit dunia (langit per-tama), lantas faidah apakah yang kita dapat kan dari turunnya rahmat ke langit dunia sampai-sampai Nabi  mengabarkannya ke pada kita?!
Keempat: Hadist di atas mengindikasikan bahwa yang turun tersebut berucap: "Siapa yang berdo'a kepada-Ku akan Aku penuhi? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni?” Hal ini tidak mungkin di ucapakan oleh seorangpun kecuali Alloh .
Menggabungkan Antara Nash-Nash Ten tang Ketinggian Alloh Dengan Dzat-Nya Dengan Nash-Nash Tentang Turunnya Alloh Ke Langit Dunia:
Ketinggian Alloh adalah salah sifat dzatiyah-Nya yang tidak mungkin terpisah kan dari-Nya. Sifat ini tidaklah menafikan kandungan nash-nash tentang turunnya Alloh ke langit dunia. Penyatuan antara ke-dua sifat ini dapat dilakukan sebagai berikut:
Pertama: Bahwa nash-nash (Al-Qur'an dan As-Sunnah)lah yang menyatukan antara keduanya, sedang nash-nash (Al-Qur'an dan As-Sunnah) tidaklah mengandung suatu hal yang mustahil.
Kedua: Bahwasanya Alloh, tidak ada suatu apapun yang menyamai-Nya dalam seluruh sifat-Nya, sehingga turunnya Alloh tidak sama seperti turunnya makhluk. Karenanya tidak bisa dikatakan bahwa hal ini menafikan ketinggian-Nya serta membatalkannya. Walllaahu a'alam.

(Dinukil dari: Fathu Rabbil Bariyyah Bitalkhis Al-Hamawiyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahulloh).
Abu abbas

MEMILIH GURU

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.19 No comments
HATI-HATILAH MEMILIH GURU
-------------------------

Sesungguhnya segala puji hanya milik Alloh; kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh niscaya tiada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya niscaya tiada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq melainkan Alloh semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul utusan-Nya. Amma ba’du:
Wasiat dan Pelajaran Berharga Salafus Sholih:

Muhammad bin Sirin Rohimahulloh berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka hendaklah kalian meneliti dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Beliau Rohimahulloh juga berkata: “Dahulu mereka (Salafus Sholih) tidak pernah menanyakan tentang isnad (rangkaian para penyampai hadits secara berantai sampai kepada sumbernya). Namun tatkala terjadi fitnah (ketidak jelasan), mereka berkata: “Sebutkan dari siapa saja kalian menukil.” Maka diteliti, jika sumbernya berasal dari Ahlus Sunnah mereka menerima haditsnya. Jika berasal dari Ahli Bid’ah mereka tidak mengambil haditsnya.”
Abuz Zinad Rohimahulloh berkata: “Di Madinah aku bertemu dengan seratus orang (ulama), semua mereka orang yang dipercaya namun hadits tidak diambil dari mereka. Sebab dikatakan bahwa mereka bukan ahlinya.”

Ketiga ucapan ini terdapat dalam Mukaddimah Shahih Muslim, Bab Bayan Annal Isnad Minad Diin.
Dari ketiga riwayat ini bisa diambil beberapa faidah di antaranya:

1. Telitinya para ulama Salaf dalam mengambil ilmu. Padahal mereka adalah para ulama besar. Zaman mereka dekat dengan zaman Rosululloh  dan para sahabat .
2. Mereka selalu mengambil ilmu dari ahlinya. Meskipun seseorang dikenal amanah, namun jika bukan ahlinya maka mereka tetap tidak mengambil ilmu darinya. Lantas bagaimana jika orang tersebut suka berbohong demi sampai kepada tujuannya? Atau mengorbankan Sunnah demi memuluskan niat yang ingin dicapainya?

Karena itu, berangkat dari wasiat dan pelajaran berharga para panutan kita ini kami katakan:
Hati-Hatilah Terhadap Hal-Hal Berikut:
A. Orang yang menggugurkan sebagian Sunnah untuk mencapai tujuan. Dengan alasan untuk berlemah lembut atau maslahat dakwah.
Contohnya:
- Toleran dalam membahas akidah, seperti tidak menyinggung masalah di mana Alloh.
- Ikut terseret dalam amalan bid’ah, seperti memimpin doa setelah selesai acara-acara dan menghadiri Maulid.
Ini menunjukkan kekurang fahamannya tentang Manhaj Dakwah. Adakah maslahat yang lebih besar daripada memperkuat akidah, terutama dalam masalah “Di mana Alloh” yang orang model ini dan kita sama-sama mengetahui penyimpangan mayoritas kaum muslimin di dalamnya? Padahal Rosululloh  menjadikan masalah ini sebagai tolak ukur keimanan seseorang, sebagaimana hadits yang sudah sering kita dengar dan baca. Tentang budak Mu’awiyah bin Hakam As-Sullami  yang ditanya tentang dua hal: Di mana Alloh dan siapakah Muhammad ? Ketika jawabannya Alloh di atas langit dan Muhammad adalah Rosul utusan Alloh, Rosululloh  bersabda:
أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
“Merdekakanlah dia, sesungguhnya dia wanita yang beriman.” (Shahih Muslim: 836).
Dan adakah mudharat yang lebih besar dari matinya sebuah Sunnah dan hidupnya sebuah Bid’ah? Jangan sampai ada yang mengganggap bahwa Hikmah dalam Dakwah menuntut untuk selalu toleransi selama itu mendatangkan maslahat dakwah, sebagaimana anggapan sebagian da’i yang bermodal semangat namun ilmu kurang. Sungguh ini merupakan cela dalam bermanhaj. Banyak sekali contoh perkara-perkara yang tidak ditolerir oleh Nabi . Silahkan baca tafsir surat Al-Kafirun. Kemudian ketika orang-orang Quraisy meminta supaya dikhususkan tempat duduk mereka dari kaum muslimin yang lemah-lemah, turunlah ayat 52 surat Al-An’am. Kemudian kisah Abu Bakr  yang tidak mentolerir orang-orang yang menolak untuk membayar zakat, padahal masa itu masa genting di mana banyak bangsa arab yang murtad. Namun ternyata Abu Bakr  tetap memutuskan untuk memerangi mereka. Dan masih banyak lagi contoh dalam Sejarah hidup Nabi  dan para Sahabat . Silahkan dikaji.
B. Enggan menamai diri Salafi dan memfatwakan agar tidak usah menggunakan istilah Salafi, dengan alasan bahwa hal tersebut bisa membuat orang lari dari dakwah. Atau merupakan salah satu bentuk pengkotakan umat.
Apakah istilah Salafi yang merupakan penisbatan diri kepada Salafus Sholih  merupakan suatu hal tercela?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahulloh berkata dalam Majmu’ Fatawa (IV/ 149): “Tidaklah tercela orang yang menampakkan Madzhab Salaf dan menisbatkan diri kepadanya. Bahkan wajib menerima hal itu darinya dengan ittifaq (kesepakatan ulama). Karena sesungguhnya tidaklah Madzhab Salaf melainkan kebenaran.”
Sesungguhnya penisbatan kepada Salaf perkara yang harus, agar jelas mana salafi yang haq dengan yang hanya berkedok di belakangnya. Agar tidak ada kesamaran bagi setiap orang yang mengikuti jejak Salaf. Jika madzhab-madzhab menyimpang dan kelompok-kelompok sesat dan menyesatkan bertaburan di mana-mana, maka Ahlul Haq (orang-orang yang berpegang kepada kebenaran) menyiarkan nisbat mereka kepada Salaf dengan tujuan untuk berlepas diri dari orang-orang yang menyelisihi mereka. Alloh ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya  dan kaum mukminin: Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Alloh).” (QS. Ali Imron: 64).
Jika orang yang seperti di atas pemikirannya adil, kenapa dia tidak menghapus istilah-istilah seperti Asy-Syafi’iyah, Al-Malikiyah, An-Nahdhiyah dst yang tentunya dia sendiri tidak mungkin mengatakan penisbatan mereka lebih mulia dari penisbatan kepada Salafus Sholih .
Kemudian perlu orang macam ini membuka mata, bahwa Dakwah Sunnah – walhamdulillah – telah menyebar dan telah dikenal orang. Maka masih takutkah Anda memperkenalkan diri wahai saudaraku?
C. Orang yang tidak menghargai orang-orang berilmu.
Rosululloh  bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua di antara kami, tidak mengasihi anak kecil di antara kami dan tidak mengenal hak orang alim di antara kami.” (HR. Al-Hakim dengan sanad yang hasan. Takhrij At-Targhib: I/ 46).
‘Aun bin Abdillah Rohimahulloh berkata: “Dikatakan bahwa jika engkau bisa hendaklah engkau menjadi orang alim. Jika tidak bisa maka jadilah penuntut ilmu. Jika engkau bukan penuntut ilmu maka cintailah mereka (ulama dan penuntut ilmu). Jika engkau tidak mencintai mereka maka janganlah membenci mereka.” (Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah An-Nasa’i dalam Kitabul Ilmi, Atsar nomor 2).
Namun hadirlah segelintir orang di zaman ini memperkeruh kejernihan hubungan murid dengan gurunya. Mereka menyebut ustadz-ustadz dengan julukan-julukan yang buruk, atau sifat-sifat yang buruk, atau dengan mengatakan “Si Fulan” atau dalam bahasa lomboknya “Lo Fulan” atau dengan hanya menyebut namanya saja dengan maksud merendahkan. Padahal dari ustadz-ustadz tersebutlah orang-orang ini mengenal Sunnah. Wallohul Musta’an.
D. Orang yang menyerukan tatsabbut (meniliti) ketika ada seorang dari kalangan Ahlul Ilmi memberikan kritik ataupun memberikan peringatan kepada umat akan suatu kesalahan yang berkaitan dengan seseorang atau kelompok.
Ucapan ini (ajakan untuk tatsabbut) merupakan “Ucapan yang haq namun dimaksudkan untuk kebatilan.” Sebab ucapan ini mengandung beberapa kerusakan di antaranya:
1. Menolak berita yang disampaikan oleh seorang yang terpercaya meskipun dari kalangan Ahlul Ilmi. Padahal kaidah mengatakan: “Hukum asal seorang ulama adalah ‘adil (tidak fasik).” Yang artinya apa yang mereka sampaikan bisa dipercaya.berdasarkan sabda Rosululloh :
يَحْمِلُ هَذَا الدِّيْنَ مِنْ كُلِّ خَلْفٍ عُدُوْلُهُ
“Yang membawa agama ini dari setiap generasi adalah orang-orang yang adil (tidak fasik).” (Hadits hasan lighairihi riwayat Al-Uqaili dalam Dhu’afa’ul Kabir: I/ 26 dan Ibnu Abi Khuzaimah dalam Al-Jarh Wat Ta’dil: II/ 17. Lihat: Basha’ir Dzawis Syaraf).
2. Menolak Khabar Ahad (berita yang hanya disampaikan oleh satu orang saja).
3. Pada prakteknya, para penyeru tatsabbut ini tidak hanya menolak berita satu orang, namun berita banyak orang dari kalangan Ahlul Ilmi. Tidakkah ini minimal menunjukkan ketidak percayaan kepada Ahlul Ilmi? Lantas siapakah yang bisa dipercaya jika mereka tidak bisa dipercaya?
4. Menimbulkan keraguan dan ketidak percayaan umat terhadap para ulama dan penuntut ilmu yang menyuarakan kebenaran.
E. Orang yang menjauhi para ulama dan penuntut ilmu senior.
Rosululloh  bersabda:
اَلْبَرَكَةُ مَعَ اْلأَكَابِرِ
“Keberkahan itu bersama orang-orang tua.” (Mauridh Azh-Zham’an: I/ 473).
Akibatnya, dia mengambil ilmu bukan kepada ahlinya. Padahal Rosululloh  telah bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ
“Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah menuntut ilmu dari ahli bid’ah.” (Silsilah Hadits Shahih nomor 695).
F. Orang yang tetap menjalin hubungan dengan sosok, lembaga, yayasan atau lainnya yang telah diingatkan oleh para Ahlul Ilmi untuk dihindari. Dan malah membelanya. Penyebab dari hal ini adalah point C, D dan E. Terlebih jika ada kesombongan dan niat yang buruk. Wal ‘iyaadzubillah.
G. Orang yang tidak pernah punya pendirian tetap. Kemarin menentang partai namun sekarang ikut berpartai ria. Kemarin mencela sebuah kelompok yang dikenal menyimpang, namun hari ini bergandengan tangan. Kesimpulannya, sikap berubah sesuai selera dan keadaan. Padahal salah satu tanda pengikut Manhaj Yang Haq adalah tegak di atas manhajnya, baik dalam keadaan senang, susah, giat, terpaksa ataupun ketika hak-haknya dilalaikan. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki pijakan dan asas yang tetap ataupun permanen. Terkadang dia menyeleweng ketika susah, dan terkadang mendengar dan taat ketika lapang. Berdasarkan sabda Rosululloh :
عَلَيْكَ بِالسَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِي عُسْرِكَ وَ يُسْرِكَ وَ مَنْشَطِكَ وَ مَكْرَهِكَ وَ أَثَرَةٍ عَلَيْكَ
“Wajib atasmu untuk mendengar dan taat (kepada penguasa). Baik pada masa sulitmu atau pada masa senangmu. Baik pada waktu engkau giat maupun tidak senang. Dan ketika pemimpinmu lebih mementingkan dirinya dan melupakan hakmu.” (Diriwayatkan oleh Muslim: 3419).
Seruan:
Alloh Ta’ala berfirman:

Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. Al-Anbiya’: 7).
Maka bagi setiap orang yang belum mengetahui hakikat sebuah perkara yang berkaitan dengan agamanya, atau masih ragu di dalamnya, hendaklah dia segera bertanya kepada orang yang berilmu. Semoga Alloh memberikan kita semua taufik untuk membedakan kebenaran dengan kebatilan.
Daftar Pustaka:

1. Shahih Muslim Bisyarhin Nawawi.
2. Al-Ajwibah An-Nafi’ah ‘An As’ilatil Manahij Al-Jadidah. Syaikh Shalih Al-Fauzan.
3. At-Tatsabbut Fis Syari’ah Al-Islamiyah, Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkholi.
4. Maktabah Syamilah: Untuk pencarian hadits.
5. Dan rujukan-rujukan lainnya.

abu abbas

Cari Artikel Hidayahsalaf