• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Minggu, 10 September 2017

Hukum Menjual Patung dan Alat Peraga

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 10.13 No comments

Hukum Menjual Patung dan Alat Peraga

Sebagian Ulama kontemporer membolehkan menggunakan patung alat peraga dalam proses belajar mengajar pada materi yang memang membutuhkan patung peraga, seperti:
Menjelaskan organ tubuh bagian dalam, jantung, hati, limpa, dan lain-lain pada meteri pelajaran biologi. Mereka mengkiayaskannya dengan boneka mainan anak-anak. Kalau saja boneka dibolehkan bagi anak-anak untuk mainan apalagi patung organ tubuh manusia dalam rangka proses belajar mengajar tentu 
dibolehkan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani berkata: “Sekalipun kami berpendapat bahwa menggambar dan membuat patung hukumnya haram, akan tetapi kami berpandangan boleh bila gambar dan patung tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat dan tidak ada sarana lain yang mampu menggantikan perannya seperti gambar dan patung yang memang diperlukan dalam ilmu kedokteran (sebagai alat peraga)”. (Adabuzzafaf hal. 106)

Tetapi, Lembaga fatwa kerajaan Saudi Arabia tetap mengharamkan patung dan gambar yang digunakan dalam proses belajar mengajar, berdasarkan keumuman hadits-hadits yang melarang patung dan gambar. Dan pengecualian hanya untuk mainan anak-anak saja, tidak bisa dikiyaskan dengan kebutuhan lainnya.
Menurut pendapat kedua maka haram hasil keuntungan menjual patung dan gambar makhluk hidup yang digunakan sebagai alat peraga dalam proses belajar dan mengajar.
[ditulis ulang dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, oleh Dr. Erwandi Tarmizi, MA. hal 134]

sumber: www.hidayahsalaf.blogspot.co.id

Selasa, 22 Agustus 2017

Larangan Mencukur Rambut dan memotong kuku dalam Kurban

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 10.47 No comments
Larangan Mencukur Rambut dan Memotong Kuku Bagi Yang Ingin Berqurban


Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) pernah ditanya, “Katanya ada hadits yang menjelaskan bahwa siapa yang ingin berqurban atau keluarga yang diniatkan pahala untuk berqurban, maka ia tidak boleh mencukur bulu, rambut kepala dan juga memotong kuku sampai ia berqurban. Apakah larangan ini umum untuk seluruh anggota keluarga (yang diniatkan dalam pahala qurban), baik dewasa atau anak-anak? Ataukah larangan ini berlaku untuk yang sudah dewasa saja, tidak termasuk anak-anak?”

Jawab:
Kami tidak mengetahui lafazh hadits sebagaimana yang penanya sebutkan. Lafazh yang kami tahu sebagaimana shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al Jama’ah kecuali Al Bukhari yaitu dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika kalian telah menyaksikan hilal Dzul Hijah (maksudnya telah memasuki satu Dzulhijah, pen) dan kalian ingin berqurban, maka hendaklah shohibul qurban membiarkan (artinya tidak memotong) rambut dan kukunya.”[1]
Dalam lafazh lainnya,
مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.”[2]
Maka hadits ini menunjukkan terlarangnya memotong rambut dan kuku bagi orang yang ingin berqurban setelah memasuki 10 hari awal bulan Dzulhijah (mulai dari tanggal 1 Dzulhijah, pen).
Hadits pertama menunjukkan perintah untuk tidak memotong (rambut dan kuku). Asal perintah di sini menunjukkan wajibnya hal ini. Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang wajib ini. Sedangkan riwayat kedua adalah larangan memotong (rambut dan kuku). Asal larangan di sini menunjukkan terlarangnya hal ini, yaitu terlarang memotong (rambut dan kuku). Kami pun tidak mengetahui ada dalil yang memalingkan dari hukum asal yang melarang hal ini.
Secara jelas pula, hadits ini khusus bagi orang yang ingin berqurban. Adapun anggota keluarga yang diikutkan dalam pahala qurban, baik sudah dewasa atau belum, maka mereka tidak terlarang memotong bulu, rambut dan kuku. Meraka (selain yang berniat qurban) dihukumi sebagaimana hukum asal yaitu boleh memotong rambut dan kulit dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang memalingkan dari hukum asal ini.
Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz sebagai Ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai Wakil Ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Mani’ dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan sebagai Anggota.
[Diambil dari Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal lIfta’, soal ketiga dari Fatwa no. 1407, 11/426-427, Darul Ifta’]
Penjelasan Larangan Memotong Rambut dan Kuku[3]
Para ulama berselisih pendapat mengenai orang yang akan memasuki 10 hari awal Dzulhijah dan berniat untuk berqurban.
[Pendapat Pertama]
Sa’id bin Al Musayyib, Robi’ah, Imam Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian murid-murid Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa larangan memotong rambut dan kuku (bagi shohibul qurban) dihukumi haram sampai diadakan penyembelihan qurban pada waktu penyembelihan qurban. Secara zhohir (tekstual), pendapat pertama ini melarang memotong rambut dan kuku bagi shohibul qurban berlaku sampai hewan qurbannya disembelih. Misal, hewan qurbannya akan disembelih pada hari tasyriq pertama (11 Dzulhijah), maka larangan tersebut berlaku sampai tanggal tersebut.
Pendapat pertama yang menyatakan haram mendasarinya pada hadits larangan shohibul qurban memotong rambut dan kuku yang telah disebutkan dalam fatwa Lajnah Ad-Daimah di atas.
[Pendapat Kedua]
Pendapat ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan murid-muridnya. Pendapat kedua ini menyatakan bahwa larangan tersebut adalah makruh yaitu makruh tanzih, dan bukan haram.
Pendapat kedua menyatakannya makruh dan bukan haram berdasarkan hadits ‘Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu pernah berqurban dan beliau tidak melarang apa yang Allah halalkan hingga beliau menyembelih hadyu (qurbannya di Makkah). Artinya di sini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan sebagaimana orang yang ihrom yang tidak memotong rambut dan kukunya. Ini adalah anggapan dari pendapat kedua. Sehingga hadits di atas dipahami makruh.
[Pendapat Ketiga]
Yaitu pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya menyatakan tidak makruh sama sekali.
Imam Malik dalam salah satu pendapat menyatakan bahwa larangan ini makruh. Pendapat beliau lainnya mengatakan bahwa hal ini diharamkan dalam qurban yang sifatnya sunnah dan bukan pada qurban yang wajib.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, berdasarkan larangan yang disebutkan dalam hadits di atas dan pendapat ini lebih hati-hati. Pendapat ketiga adalah pendapat yang sangat-sangat lemah karena bertentangan dengan hadits larangan. Sedangkan pendapat yang memakruhkan juga dinilai kurang tepat karena sebenarnya hadits ‘Aisyah hanya memaksudkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perkara yang sifatnya keseharian yaitu memakai pakaian berjahit dan memakai harum-haruman, yang seperti ini tidak dibolehkan untuk orang yang ihrom. Namun untuk memotong rambut adalah sesuatu yang jarang dilakukan (bukan kebiasaan keseharian) sehingga beliau masih tetap tidak memotong rambutnya ketika hendak berqurban.
Apa yang dimaksud rambut yang tidak boleh dipotong?
Yang dimaksud dengan larangan mencabut kuku dan rambut di sini menurut ulama Syafi’iyah adalah dengan cara memotong, memecahkan atau cara lainnya. Larangan di sini termasuk mencukur habis, memendekkannya, mencabutnya, membakarnya, atau memotongnya dengan bara api. Rambut yang dilrang dipotong tersebut termasuk bulu ketiak, kumis, bulu kemaluan, rambut kepala dan juga rambut yang ada di badan.
Hikmah Larangan
Menurut ulama Syafi’iyah, hikmah larangan di sini adalah agar rambut dan kuku tadi tetap ada hingga qurban disembelih, supaya makin banyak dari anggota tubuh ini terbebas dari api neraka.
Ada pula ulama yang mengatakan bahwa hikmah dari larangan ini adalah agar tasyabbuh (menyerupai) orang yang muhrim (berihrom). Namun hikmah yang satu ini dianggap kurang tepat menurut ulama Syafi’iyah karena orang yang berqurban beda dengan yang muhrim. Orang berqurban masih boleh mendekati istrinya dan masih diperbolehkan menggunakan harum-haruman, pakaian berjahit dan selain itu, berbeda halnya orang yang muhrim.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] HR. Muslim no. 1977.
[2] HR. Muslim no. 1977.
[3] Kami olah dari Shahih Muslim, An Nawawi, 6/472, Mawqi’ Al Islam.



Sabtu, 22 Juli 2017

Arti Hadits Setiap Anak dilahirkan di atas Fitrah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 12.17 No comments

Arti Hadits Setiap Anak dilahirkan di atas Fitrah

Fatwa Nomor6334
Pertanyaan: Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasranihttp://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF Dan di dalam hadits lain dikatakan http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Menetapkan rejekinya, amalnya dan nasibnya kelak apakah akan menjadi orang celaka atau bahagiahttp://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF Mohon perincian dan penjelasan tentang kedua hadits tersebut serta apa perbedaan antara keduanya?
Jawaban: Pertama, hadits http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah hingga lisannya bisa berbicara. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF Diriwayatkan oleh al-Baihaqi
(Nomor bagian 3; Halaman 525)
dan ath-Thabrani di dalam al-Mu`jam al-Kabiir. Imam Muslim meriwayatkan dengan redaksi http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Setiap manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF Sedangkan ImamBukhari meriwayatkan dengan redaksi http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, seperti hewan yang melahirkan anaknya, apakah kamu pernah melihat hewan yang dilahirkan tersebut tidak mempunyai telinga?!http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF
Ini artinya bahwa berdasarkan fitrahnya, manusia mempunyai potensi untuk menerima Islam, akan tetapi untuk merealisasikannya ia harus mempelajarinya. Maka orang yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi golongan orang-orang yang bahagia, Allah menyediakan baginya orang yang mengajarkan jalan kebenaran, sehingga ia pun benar-benar siap menjadi orang yang bahagia. Sedangkan orang yang diabaikan oleh Allah dan Dia jadikan orang yang sengsara, maka Allah membuat sebab yang mengubah fitrahnya dan menyimpangkan tekadnya, seperti kedua orang tua yang membuat anak mereka menjadi orang Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Kedua: Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas`ud radhiyallahu `anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam --beliau adalah sosok yang jujur dan dapat dipercaya-- bersabda http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk setetes mani. Kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya, lantas ia meniupkan ruh kepadanya. Malaikat tersebut diperintahkan untuk menetapkan empat perkara; menetapkan rejekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan penghuni surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, lantas dia melakukan perbuatan penghuni neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, lantas dia melakukan perbuatan penghuni surga maka masuklah dia ke dalam surga.http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF
(Nomor bagian 3; Halaman 526)
Arti dari ditetapkannya nasib celaka dan bahagia adalah keduanya telah ditetapkan secara azali sesuai ilmu Allah dan bahwa akhir dari kehidupan adalah sesuai dengan apa yang ada di dalam ilmu Allah.
Ketiga: Jika merenungi makna hadits yang pertama dan kedua dengan memperhatikan obyek pertanyaan, maka tidak ada kontradiksi antara keduanya. Karena berdasarkan fitrahnya, manusia memiliki potensi untuk mengikuti kebaikan, sehingga apabila dalam ilmu Allah dan dalam akhir hidupnya dia termasuk golongan orang-orang yang bahagia, maka Allah menyiapkan untuknya orang yang menunjukkan jalan kebenaran kepadanya. Namun apabila dalam ilmu Allah ia termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara, maka Allah menyiapkan orang yang mengalihkannya dari jalan yang benar, menemaninya dan mendukungnya ke jalan kesesatan, serta terus menyertainya hingga hidupnya ditutup dengan akhir yang buruk.
Terdapat banyak teks agama yang menyebutkan tentang ketetapan Allah yang telah terdahulu tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Ali radhiyallahu `anhu dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda: http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H2.GIF Tidak ada seorang pun dari manusia yang dilahirkan melainkan Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau neraka, dan telah Allah tetapkan sebagai orang yang sengsara atau orang yang bahagia." Lalu seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, jika demikian apa tidak sebaiknya kita diam saja mengikuti ketetapan yang telah digariskan untuk kita dan kita tidak perlu beramal?" Maka Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, "Berbuatlah, karena setiap orang telah dimudahkan untuk melakukan apa yang telah ditetapkan padanya. Golongan orang-orang yang bahagia, mereka dimudahkan untuk melakukan amal perbuatan orang-orang yang bahagia. Sedangkan golongan orang-orang yang sengsara, mereka dimudahkan untuk melakukan amal perbuatan orang-orang yang sengsara." Kemudian beliau membaca ayat: http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-B1.GIF Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, (5) dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-B2.GIF ( Al-Lail: 4-5 ).http://www.alifta.net/_layouts/images/UserControl-Images/MEDIA-H1.GIF
(Nomor bagian 3; Halaman 527)
Di dalam hadits ini dijelaskan bahwa bahagia dan celaka telah ditetapkan sejak dahulu kala dan keduanya ditetapkan berdasarkan amal perbuatan. Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa setiap manusia dimudahkan untuk melakukan amal perbuatan yang menjadi sebab bahagia atau celaka.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Minggu, 11 Juni 2017

Makanan berbuka Rasulullah yang jarang diketahui

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 15.50 No comments
Kebiasaan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam yang  jarang diketahui dalam berbuka

وكان - صلى الله عليه وسلم - أحيانًا يُفطر على السويق؛ فعن عبدالله بن أبي أوفى - رضي الله عنه - قال: كنا مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم - في سفر، فقال لرجل: ((انزل فاجدَح لي))، قال: يا رسول الله، الشمس، قال: ((انزل فاجدح لي))، قال: يا رسول الله، الشمس، ((انزل فاجدح لي))، فنزل فجدَح له، فشرب، ثم رمى بيده ها هنا ثم قال: ((إذا رأيتُم الليل أقبل من ها هنا، فقد أفطر الصائم))؛ متفق عليه

Dari ‘Abdullah bin Abu Aufa radliallahu ‘anhudhiyallahu’anhu berkata; Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan dan Beliau berpuasa. Ketika matahari terbenam, Beliau berkata kepada sebagian rombongan; “Wahai fulan, turun dan siapkanlah bubur gandum buat kami”. Orang yang disuruh itu berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita menunggu hingga sore”. Beliau berkata: “Turunlah dan siapkan bubur gandum buat kami”. Orang itu berkata, lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kita menunggu hingga sore”. Beliau berkata, lagi: “Turunlah dan siapkan bubur gandum buat kami”. Orang itu berkata, lagi: “Sekarang masih siang”. Beliau kembali berkata: “Turunlah dan siapkan bubur gandum buat kami”. Maka orang itu turun lalu menyiapkan minuman bubur gandum buat mereka. Setelah minum lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apabila kalian telah melihat malam sudah datang dari arah sana maka orang yang puasa sudah boleh berbuka “.
(Muttafaq 'Alaihi)

قال النووي: (الجدح): خلط السويق بالماء وتحريكه حتى يستوي

Imam Nawawi berkata: "Al Jadh adalah Mencampur gandum dengan air kemudian diaduk hingga rata".
Lihat Syarh Muslim oleh An Nawawi 7/209 & Fathul Bari 4/197
Abu Abdillah Riza

Senin, 01 Mei 2017

Bacaan manasik umroh ringkas

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 19.18 No comments
BACAAN MANASIK UMROH

1.      Berihram dari miqat untuk dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ عُمْرَةً
“labbaik ‘umroh” (aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah

2.      Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan umrah karena sakit atau adanya penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan setelah mengucapkan kalimat di atas dengan mengatakan,
اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
“Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, tempat tahallul di mana saja Engkau menahanku).

3.      Membaca Talbiyah (hukumnya sunnah)
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).

4.      Masuk Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid (hukumnya sunnah):
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).
Mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah). HR. Muslim no. 713
اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ.
“Allahumma Antassalam wa minkassalam fahayyina Rabbanaa bissalaam” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan dari-Mu keselamatan, serta hidupkanlah kami, wahai Rabb kami dengan keselamatan). HR. Al Baihaq, hadits hasan

5.      Ketika bertepatan dengan Hajar Aswad
بِسْمِ الله, اللهُ أَكْبَر
“Bismillahi Allahu Akbar” (Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar)

6.      Berdo’a di antara dua rukun (rukun Yamani dan Hajar Aswad)
رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka)

7.      Selesai Thawaf ketika menuju Maqam Ibrahim 
وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى


“Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat) (QS. Al Baqarah: 125).
Shalat sunnah thawaf dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim, pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, membaca surat Al Kaafirun dan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah, membaca surat Al Ikhlas

8.      Kemudian, menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i umrah dan jika telah mendekati Shafa, membaca,
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Innash shafaa wal marwata min sya’airillah”  (Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).
Lalu mengucapkan,
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
“Nabda-u bimaa bada-allah bih”.

9.      Menaiki bukit Shafa, lalu menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya-jika hal itu memungkinkan-, kemudian membaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian. HR. Muslim no. 1218
Ketika sampai di bukit Marwa membaca bacaan yag sama seperti di bukit Shofa

10.  Ketika sa’i,tidak ada dzikir-dzikir tertentu, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki.
Boleh menambahkan bacaan seperti berikut:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah), tidaklah mengapa  karena telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya ketika sa’i.


elatsaryrz@gmail.com



Cari Artikel Hidayahsalaf