• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Senin, 27 Juni 2016

keutamaan lailatul qadar

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.37 No comments
Keutamaan Malam Lailatul Qadar

1.       Malam waktu diturunkannya Al Qur’an (QS. Al Qadr: 1)
2.       Malam yang berkah (QS. Ad Dukhan: 2)
3.       Malam waktu dituliskannya ajal dan rezeki para hamba selama setahun (QS. Ad Dukhan: 3)
4.       Malam yang paling utama dikarenakan pahala amal kebajikan lebih dari seribu bulan (QS. Al Qadr: 3)
5.       Turunnya para malaikat ke bumi dengan membawa kebaikan, berkah, rahmat dan ampunan (QS. Al Qadr: 4)
6.       Pengampunan atas dosa-dosa bagi orang yang beribadah dan mengharap pahala dari Allah (“Barangsiapa yang beribadah pada malam lailatul qadar didasari iman dan mencari pahala maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni”Muttafaq’alaihi)

Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Riza dari situs http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=2357


Tarbiyah anak, antara teori dan bukti

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.02 No comments
Tarbiyah Anak, antara Teori dan Bukti
ditulis oleh Abu Abdillah Riza

Segala puji hanya bagi Allah, semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw sebagai sebaik-baik contoh bagi umatnya dalam segenap bidang kehidupan, juga kepada keluarga serta para Sahabat dan pengikut setia Beliau.
Orang tua dan para pendidik mendapatkan ganjaran pahala yang besar jika mereka tulus ikhlas berusaha mencontoh Nabi shallallahu’alaihi wasallam mereka yang mulia dalam hal tarbiyah kepada anak secara khusus dan umat secara umum.

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia”. HR at-Tirmidzi no. 2685 dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” no. 7912 dishahihkan oleh Imam Al Albani 

Melihat ironi zaman sekarang ini dimana maksiat dan kemungkaran lainnya terlalu banyak bermunculan yang dilakoni tua dan muda, kaum adam maupun kaum hawa. Padahal telah banyak pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan, tenaga pendidik, media atau sarana pendidikan lebih memadai, orang-orang yang bertitel, parenting-parenting maupun seminar dan lainnya akan tetapi sedikit dari mereka yang benar-benar mengikuti dan iltizam secara ilmu dan praktek dalam hal tarbiyah mengaca kepada sunnah Nabi dan para Sahabat yang telah Allah ridhoi.

Anak-anak ibarat kaset kosong, diisi dengan musik maka ia akan menjadi atau seperti penyanyi, begitu juga sebaliknya apabila diisi dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka ia akan menjadi atau seperti Ulama.
Anak-anak jika terlalu dimanja dan dibiarkan tanpa dididik maka akan tetap bengkok, terlalu keras dan membenci anak juga membuat mereka lari dan tidak bisa mengaji.

Maka seorang pendidik harus memiliki 3 unsur pokok dalam mentarbiyah anak:

1.       Orang tua atau pendidik harus bertakwa dan lebih dahulu, mengamalkan sebelum mengajarkan anak-anak mereka.
Misalnya orang tua terlebih dahulu belajar agama, bertakwa dengan mengamalkan syariat dan meninggalkan maksiat. Contoh lain sebelum menegaskan kepada anak-anaknya untuk menghafal Al Qur’an Hadits juga bahasa Arab, maka orang tua atau pendidik harus memberi contoh terlebih dahulu.
Allah Ta’ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. QS. at-Tahrîm: 6   
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." QS. As-Shaff: 2-3

2.       Berlemah lembut dalam mengajarkan dan menasehati anak-anak terutama ketika mereka masih kecil.
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Jika Allah menginginkan kebaikan bagi sebuah anggota keluarga maka Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka”. HR. Ahmad 6/71, 6/104-105, hadits shahih
Orang tua atau pendidik hendaknya memahami fiqih berlemah lembut dalam tarbiyah. Disamping ia memahami karakter masing-masing anak demikian juga mental dan motorik mereka.
Nasehat lebih baik daripada memukul. Selama dalam tarbiyah ataupun perbaikan tidak memerlukan pemukulan maka janganlah memukul. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam sendiri bila harus memilih antara dua pilihan maka beliau memilih yang paling mudah selama bukan dosa. HR. Bukhari 3560 dan Muslim 2327 dari ‘Aisyah secara marfu’
Maka kita sebaiknya menggunakan kata-kata nasehat jika ingin memperbaiki perilaku anak atau dengan menggunakan dorongan dan motivasi.
Bila kata-kata yang baik tidak berpengaruh maka kita gunakan kata-kata yang berisi teguran dan ancaman sesuai dengan kesalahan anak. Bila juga tidak bermanfaat maka saatnya memukul. Untuk itu kondisi tabiat anak berbeda-beda.
Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat mata untuk menghukum dan menegurnya. Isyarat mata ini memberikan pengaruh yang kuat pada dirinya dan menjadi sebab berhenti dari kesalahan yang ia lakukan.
Diantara mereka ada yang jika Anda membuang muka darinya maka dia segera paham maksud Anda dan berhenti dari kesalahannya.
Diantara mereka ada yang berubah dengan kata-kata baik. Maka gunakan kata-kata yang baik untuk anak yang seperti ini.
Dan diantara mereka tidak ada yang membuatnya sadar kecuali harus dengan pukulan dan perlakukan keras. Maka untuk anak tipe seperti inilah kita lakukan pemukulan dan berlaku keras. Akan tetapi sesuai dengan kebutuhan saja serta tidak menjadikannya kebiasaan. Seperti halnya seorang dokter yang memberi suntikan kepada pasiennya walaupun suntikan itu menyakitkan akan tetapi suntikan itu sebatas kadar penyakitnya saja.
3.       Bersikap tegas bahkan dibolehkan memukul mereka jika dibutuhkan dengan pukulan mendidik yang tidak membahayakan.     
Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan melarang dari mengerjakan kerusakan di bumi. Kecuali sebagian kecil diantara orang-orang yang telah Kami selamatkan diantara mereka.” QS. Hud: 16

Bila kerusakan dan kezhaliman yang timbul dari ulah si anak tidak dapat hilang kecuali dengan pemukulan maka saat itu juga dia harus dipukul pada tempat selain wajah. Hal yang paling penting yakni harus memperhatikan syarat-syarat bolehnya memukul diantaranya; tidak terburu-buru, tidak didasari oleh emosi atau hati sedang kacau, tidak memukul wajah, pukulan pertama pada anak kecil dengan pelan kemudian ditambah sedikit demi sedikit sesuai usia mereka, memukul ketika berusia sepuluh tahun, dan semisalnya (lihat kembali penjelasan pada point ke 2 sebagai tambahan).
Sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam, Perintahkanlah anakmu shalat pada usia tujuh tahun dan pukullah dia karena (meninggalkan)nya pada usia 10 tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.(HR. Abu Daud no. 495 dengan sanad hasan)
Terkadang sebagian orang terutama di negeri kita beralasan bahwa pemukulan anak tidaklah mendidik dan anak dapat menjadi stress dan kurang mentalnya jika dipukul. Sebagian lagi mengatakan bahwa ini kan orang Arab ya wajar sedangkan kita bukan orang Arab.
Ketahuilah saudaraku, bahwa Allah Ta’ala Dzat yang Maha Mengetahui kemampuan, mental, dan segala sesuatu. Dan ingatlah bahwa Allah Ta’ala ketika melihat dan menyeleksi semua hamba, maka Allah Ta’ala memilih dari kalangan bangsa Arab Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam sebagai Nabi yang harus dan mutlak dicontoh tanpa harus ditolak dengan argumen dan perasaan hawa nafsu kita.
Sungguh ada beberapa riwayat dari Para Ulama’pewaris para Nabi di kalangan Sahabat seperti Abu Bakr Ash Shiddiq dan Ibnu Abbas, juga para Tabi’in dan Atba’ Tabiin dalam hal ketegasan ini jika dibutuhkan.  Wallahu A’lam










Selasa, 07 Juni 2016

kesalahan di bulan ramadhan (3)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 08.56 No comments

HINDARI KESALAHAN2 BERIKUT INI MENJELANG RAMADHAN:

3. Tidak peduli dengan hitungan bulan Sya’ban, ini adalah Kesalahan. Termasuk hal yang wajib bagi kaum muslimin agar menghitung jumlah hari bulan Sya’ban guna menyongsong bulan Ramadhan. Dikarenakan jumlah satu bulan terkadang 29 hari, terkadang 30 hari.
Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Umar رضي الله عنهما  berkata; Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda:
الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً ، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ

Bulan itu(bulan Sya’ban)  dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila tertutup mendung, sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi tiga  puluh hari.”  HR. Bukhori 1808

Dan juga sabda Beliau صلى الله عليه وسلم :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ
“Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim 1081]
 Diterjemahkan oleh Ust. Riza Firmansyah dari kitab Min Akhtho-ina Fi Romadhon oleh Syaikh al Ghufaili, طبعة دار الشريف


Kesalahan di bulan ramadhan (2)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 08.54 No comments
HINDARI KESALAHAN2 BERIKUT INI MENJELANG RAMADHAN:

2. Puasa satu atau dua hari sebelum masuk bulan Ramadhan dengan alasan kehati-hatian, atau dengan tujuan menyambut bulan Ramadhan. Hal itu masuk ke dalam puasa hari Syak (ragu) menurut istilah para Ulama, ini merupakan KESALAHAN. Berdasarkan riwayat Abu Hurairah -رضي الله عنه berkata; Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ , أَوْ يَوْمَيْنِ إلاَّ رَجُلاً كَانَ يَصُومُ صَوْماً فَلْيَصُمْهُ
“janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika ia kebetulan berpuasa pada hari itu maka hendaklah ia berpuasa”. HR. Muslim
Adapun jika ia menggantikan puasa Ramadhan tahun lalu maka tidaklah mengapa, bahkan ia wajib mengqadha puasanya. Akan datang perinciannya insya Allah.

Diterjemahkan oleh Ust. Riza Firmansyah dari kitab Min Akhtho-ina Fi Romadhon oleh Syaikh al Ghufaili, طبعة دار الشريف

Senin, 30 Mei 2016

Kesalahan2 di Bulan Ramadhan (1)

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 08.55 No comments
HINDARI KESALAHAN2 BERIKUT INI MENJELANG RAMADHAN:

1. Tidak mau tahu tentang Fadhilah/ keutamaan Bulan Ramadhan. Sebagian orang -illa man rahimahullohu- menyambutnya seperti bulan-bulan biasa lainnya, hal ini adalah KESALAHAN.
Riwayat shahih Nabi -صلى الله عليه وسلم- bersabda:
"Apabila telah datang Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu surga dan syetan-syetan dibelenggu". di dalam sebuah riwayat "dirantai".
[HR. Bukhori & Muslim]


Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin-رحمه الله تعالى-berkata:
"Maksud dari dibukakannya pintu-pintu surga pada bulan ini (Ramadhan) dikarenakan banyaknya amal-amal sholih, sekaligus sebagai penyemangat bagi orang-orang yang beramal sholih. Maksud dari Ditutupnya pintu-pintu neraka dikarenakan sedikitnya/ berkurangnya maksiat-maksiat dari orang-oran yang beriman. Dan dibelenggunya Syetan-syetan sehingga tidak mampu lepas sebagaimana pada waktu-waktu lainnya (selain Ramadhan)."
Majalis Syahri Romadhon Hal. 14


Diterjemahkan oleh Ust. Riza Firmansyah dari kitab Min Akhtho-ina Fi Romadhon oleh Syaikh al Ghufaili, طبعة دار الشريف

Kamis, 07 April 2016

Kaporli: Jenggot & celana cingkrang bukan ciri Teroris

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 03.53 No comments
Kapolri Jendral Polisi Badrodin Haiti kembali menegaskan bahwa ciri teroris itu bukan jenggot dan bercelana cingkrang.
Orang berjenggot dan bercelana cingkrang bukan ciri teroris” ujar Jendral Barodin ini disampaikan saat memberikan sambutan dalam Tabligh Akbar Indonesia Bersholawat  Badrodin Haiti pada saat pengajian dengan tema “Negeriku Bersholawat” yang diisi oleh Ustadz. DR. Syafiq Riza Basalamah di masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 2 Januari 2016.
Jendral Badroudin juga memaparkan bahwa potensi terorisme bisa muncul dari agama manapun, tidak benar jika teroris itu disangkut pautkan dengan Islam.
Contoh yang sangat terlihat adalah ketika kejadian di Tolikara, untuk mengetahui seseorang itu teroris atau bukan harus dengan berdialog dan mengetahui pola pikirnya, jika radikal maka dia teroris

Minggu, 13 Maret 2016

Kitab Al Ibanah disahkan oleh Para Ulama'

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 07.43 No comments


 Keotentikan kitab Al Ibanah oleh Abul Hasan Al Asy'ari





Al-Hafizh Ibnu Asakir, seorang ulama yang paling tahu tentang Imam Abul Hasan,  ini dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari   halaman 28, 128- 136, 171.
  
Al Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Al Husain bin Ali Al Baihaqi Asy Syafi’i (458 H), di dalam kitab Al I’tiqod wa Al Hidayah ila Sabil Ar Rosyad halaman 31.

Al Hafizh Adz Dzahabi di dalam kitab Al ‘Uluw Lil ‘Aliy Al Ghoffar halaman 278.

Ibnu Farhan Al Maliki di dalam kitab Ad Dibaj halaman 193-194 berkata: “Abul Hasan Al Asy’Ari memiliki kitab-kitab seperti kitab Al Luma’ Al Kabir, Al Luma’ As Shoghir, dan kitab Al Ibanah  fi Ushul Ad Diyanah”.

Abu Al Fallah Abdul Hayy bin Al ‘Imad Al Hanbali di dalam kitab Syadzarat Adz Dzahab fi A’yan man Dzahab halaman 303.

As Sayyid Murtadho Az Zubaidi di dalam kitab Ithaf As Sadah Al Muttaqin Bi Syarh Asror Ihya’ ‘Ulum Ad Din Juz 2 halaman 2.

[ Lebih luasnya lihat penjelasan Fadhilah Asy Syaikh DR. Abdur Rahman Al Mahmud di dalam kitab Mauqif Ibn Taimiyah min Al Asya’Iiroh 1/348 ]


diterjemahkan oleh Abu Abdillah www.hidayahsalaf.blogspot.com

Cari Artikel Hidayahsalaf