• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Selasa, 25 Agustus 2015

hukum memakai cincin

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 09.01 No comments
SEPUTAR HUKUM MEMAKAI CINCIN


Berikut ini beberapa permasalahan seputar hukum memakai cincin :

PERTAMA : Hukum memakai cincin.

Ibnu Umar radhiallahu 'anhu berkata :

اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فُصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin dari emas, beliau menjadikan mata cincinnya bagian dalam ke arah telapak tangan, maka orang-orangpun memakai cincin. Lalu Nabi membuang cincin tersebut dan memakai cincin dari perak" (HR Al-Bukhari no 5865)
Ibnu Umar juga berkata :
اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق وكان في يده ثم كان بعد في يد أبي بكر ثم كان بعد في يد عمر ثم كان بعد في يد عثمان حتى وقع بعد في بئر أريس نقشه محمد رسول الله

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin dari perak, cincin tersebut berada di tangan Nabi, lalu setelah itu berpindah ke tangan Abu Bakar, setelah itu berpindah ke tangan Umar, setelah itu berpindah ke tangan Utsman, hingga akhirnya cincin tersebut jatuh di sumur Ariis. Cincin tersebut terpahatkan Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5873)

Anas bin Maalik radhiallahu 'anhu berkata :
لما أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى الروم قيل له إنهم لن يقرءوا كتابك إذا لم يكن مختوما فاتخذ خاتما من فضة ونقشه محمد رسول الله

"Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada Romawi, maka dikatakan kepada beliau : "Sesungguhnya mereka (kaum Romawi) tidak akan membaca tulisanmu jika tidak distempel". Maka Nabipun memakai cincin dari perak yang terpahat "Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5875)

Para ulama telah berselisih pendapat, apakah memakai cincin hukumnya sunnah ataukah hanya sekedar mubah (diperbolehkan)?. Sebagian ulama berpendapat bahwa memakai cincin hukumnya sunnah secara mutlak. Sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah bagi para raja dan sultan yang membutuhkan stempel cincin sebagaimana kondisi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, adapun selain para raja dan sultan maka hukumnya hanyalah mubah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah menggunakan cincin tersebut untuk berhias, akan tetapi karena ada keperluan. Dan sebagian ulama lagi memandang hukumnya makruh bagi selain raja dan sulton, terlebih lagi jika diniatkan untuk berhias.

Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata :

"Yang merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan ulama terdahulu dan yang sekarang yaitu bolehnya memakai cincin perak bagi sultan dan juga yang selainnya. Dan tatkala Imam Malik mengetahui sebagian orang memandang makruh hal ini maka beliaupun menyebutkan dalam kitab Muwattho' beliau…dari Sodaqoh bin Yasaar ia berkata, "Aku bertanya kepada Sa'id ibn Al-Musayyib tentang memakai cincin, maka beliau berkata : Pakailah dan kabarkan kepada orang-orang bahwasanya aku telah berfatwa kepadamu akan hal ini"…

Tatkala sampai kepada Imam Ahmad tentang hal ini (yaitu bahwasanya memakai cincin bagi selain sultan hukumnya makruh, maka Imam Ahmad pun terheran" (At-Tamhiid 17/101)

Pendapat yang hati lebih condong kepadanya adalah sunnahnya memakai cincin secara mutlak. Dalilnya adalah meskipun sebab Nabi memakai cincin adalah karena untuk menstempeli surat-surat yang akan beliau kirim kepada para pemimpin Romawi, Persia, dan lain-lain, akan tetapi dzohir dari hadits Ibnu Umar di atas bahwasanya para sahabat juga ikut memakai cincin karena mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal para sahabat bukanlah para sulton, dan mereka tidak membutuhkan cincin untuk stempel. Wallahu a'lam bis showab.



KEDUA : Ditangan yang mana dan jari yang mana memakai cincin?

Sebagian ulama berpendapat akan disunnahkan memakai cincin di tangan kiri, dan sebagian yang lain berpendapat di tangan kanan. Dan pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan dibolehkan di kanan atau di kiri.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Semua hadits-hadits tersebut  (yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kiri dan juga hadits-hadits yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kanan-pen) sanadnya shahih" (Zaadul Ma'aad 1/139).

Syaikh Al-'Utsaimin berkata, "Yang benar adalah sunnah menggunakan cincin di tangan kanan dan juga di tangan kiri" (Asy-Syarh Al-Mumti' 6/110).

Diantara hadits-hadits tersebut adalah :

Anas bin Malik berkata :

كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلىَ الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

"Cincin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sini –Anas mengisyaratkan ke jari kelingking dari tangan kirinya" (HR Muslim no 2095)

Anas juga berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya" (HR Muslim no 2094)

(lihat pembahasan tentang permasalahan ini di http://islamqa.info/ar/ref/139540)

Hadits Anas di atas juga menunjukkan bahwa disunnahkan untuk memakai cincin pada jari kelingking.



KETIGA : Bolehkah memakai cincin di jari tengah dan telunjuk?

Telah lalu bahwasanya sunnah bagi lelaki untuk memakai cincin pada jari kelingking, demikian pula ia dibolehkan memakai cincin pada jari manis, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Adapun memakai cincin pada jari telunjuk dan jari tengah maka ada larangan yang datang. Ali bin Abi Tholib radiallahu 'anhu berkata :

نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي أُصْبُعَيَّ هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَال : فأومأ إلى الوسطى والتي تليها

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarangku untuk memakai cincin di kedua jariku ini atau ini". Ali mengisyaratkan kepada jari tengah dan yang selanjutnya (yaitu jari telunjuk)." (HR Muslim no 2078)

Para ulama berselisih pendapat tentang larangan pada hadits ini apakah larangan tahrim (haram) ataukah hanyalah larangan makruh??. Para ulama juga sepakat bahwa larangan ini hanya berlaku bagi kaum lelaki, adapun para wanita bebas untuk memakai cincin di jari mana saja, karena para wanita dibolehkan untuk berhias.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل فى الخنصر وأما المرأة فانها تتخذ خواتيم فى أصابع قالوا والحكمة فى كونه فى الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد لكونه طرفا ولأنه لايشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ويكره للرجل جعله فى الوسطى والتى تليها لهذا الحديث وهى كراهة تنزيه وأما التختم فى اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان وهما صحيحان

"Kaum muslimin telah berijmak akan sunnahnya lelaki memakai cincin di jari kelingking, adapun wanita maka boleh memakai cincin-cincin di jari-jari mereka. Mereka berkata hikmahnya memakai cincin di jari kelingking karena lebih jauh dari pengotoran cincin karena penggunaan tangan, karena jari kelingking letaknya di ujung, dan juga jari kelingking tidak mengganggu aktivitas tangan. Hal ini berbeda dengan jari-jari yang lainnya.

Dan dimakruhkan bagi seorang lelaki untuk memakai cincin di jari tengah dan juga jari yang setelahnya (jari telunjuk), dan hukumnya adalah makruh tanzih. Adapun memakai cincin di tangan kanan atau tangan kiri maka telah datang dua hadits ini, dan keduanya shahih" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/71)



KEEMPAT : Diharamkan bagi lelaki memakai segala bentuk perhiasan yang terbuat dari emas

Telah jelas dalam hadist Ibnu Umar di atas bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuang cincin emasnya, karena cincin emas haram dipakai oleh lelaki. Bahkan bukan hanya cincin, segala perhiasan yang terbuat dari emas dilarang dipakai oleh lelaki.

عن عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّ النَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ ، وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : ( إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي)

"Dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil kain sutra lalu meletakkannya di tangan kanan beliau, dan mengambil emas lalu beliau letakan di tangan kiri beliau, lalu beliau berkata : "Kedua perkara ini haram bagi kaum lelaki dari umatku" (HR Abu Dawud no 4057, An-Nasaai no 5144, dan Ibnu Maajah no 3595, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Bahkan para ulama menyebutkan bahwa cincin yang ada polesan emasnya pun tidak boleh digunakan oleh lelaki.

An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأما خاتم الذهب فهو حرام على الرجل بالاجماع وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا لو كانت سن الخاتم ذهبا أو كان مموها بذهب يسير فهو حرام لعموم الحديث ... ان هذين حرام على ذكور أمتى حل لإناثها

"Adapun cincin emas maka hukumnya haram bagi lelaki menurut kesepakatan (ijmak para ulama), demikian pula jika sebagian cincin tersebut emas dan sebagiannya perak. Bahkan para ashaab (para ulama syafi'iyah) berkata jika seandainya mata cincinnya terbuat dari emas atau dipoles dengan sedikit emas maka hukumnya juga haram, berdasarkan keumuman hadits…."Sesungguhnya kedua perkara ini (kain sutra dan emas) haram bagi kaum lelaki dari umatku dan halal bagi kaum wanitanya" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/32)

Karenanya para ulama memfatwakan bahwa jam tangan yang terdapat padanya  emas maka tidak boleh digunakan oleh lelaki.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

الساعة المطلية بالذهب للنساء لا بأس بها، وأما للرجال فحرام

"Jam yang dipoles dengan emas boleh bagi wanita, adapun bagi para lelaki maka haram" (Majmuu' Al-Fataawa Syaikh Utsaimin 11/62)

(Lihat juga Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah di http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9372&back=true)



KELIMA : Bolehkah memakai cincin dari besi dan tembaga?

Dalam hadits Abdullah bin 'Amr bin al-'Aash bahwasanya

رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat salah seorang sahabat memakai cincin dari emas, maka Nabipun berpaling darinya, lalu sahabat tersebut pun membuang cincin tersebut, lalu memakai cincin dari besi. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Ini lebih buruk, ini adalah perhiasan penduduk neraka". Maka sahabat tersebut pun membuang cincin besi dan memakai cincin perak. Dan Nabi mendiamkannya" (HR Ahmad 6518, Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no 1021,  dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan para pentahqiq Musnad Ahmad)

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa cincin besi merupakan perhiasan penduduk neraka, ini merupakan 'illah (sebab) pengharaman penggunaan cincin besi. Dan kita ketahui bahwasanya para penghuni neraka diikat dengan rantai dan belenggu, dan yang kita ketahui biasanya rantai dan belenggu terbuat dari besi (lihat 'Aunul Ma'buud 11/190). Allah juga berfirman :

وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi" (QS Al-Haaj : 21)

Dan dari sini juga bisa kita pahami bahwasanya larangan memakai cincin besi mencakup laki-laki dan perempuan, karena keduanya dituntut untuk tidak menyerupai penduduk neraka.

Dari sini juga kita pahami bahwasanya jika cincin tersebut tidak terbuat dari besi murni maka tidaklah mengapa (lihat Fathul Baari 10/323).

Sebagian ulama juga mengharamkan cincin yang terbuat dari tembaga karena tembaga juga merupakan perhiasan penduduk neraka. Allah berfirman :

فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ

"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka" (QS Al-Haaj : 19)

Sa'id bin Jubair menafsirkan pakaian dari api tersebut dengan نُحَاس"tembaga yang dipanaskan" (Lihat Tafsir At-Thobari 18/591 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/406)

Demikian juga firman Allah

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى

"Pakaian mereka adalah dari qothiroon" (QS Ibrahim : 50)

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhumaa menafsirkan qothiroon dengan nuhaas "tembaga yang panas" (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/522 dan Ad-Dur Al-Mantsuur 8/581)



Catatan : Adapun kisah seorang sahabat yang hendak menikahi seorang wanita lantas ia tidak memiliki harta yang bisa dijadikan mahar, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya : اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ "Carilah (untuk bayar mahar-pen) meskipun sebuah cincin dari besi" (HR Al-Bukhari no 5135), maka kisah ini tidak bisa ditentangkan dengan hadits di atas, karena beberapa sisi :

-         Hadits tentang mahar ini bukanlah nash yang tegas akan bolehnya memakai cincin besi, karena bisa jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah agar sang wanita memanfaatkan harga cincin besi tersebut (lihat Fathul Baari 10/323)

-         Dan jika kita menempuh metode tarjiih maka kita mendahulukan hadits larangan memakai cincin besi karena adanya kaidah bahwa "Larangan didahulukan dari pada pembolehan", karena hukum bolehnya memakai cincin besi bersandar kepada hukum asal yaitu bolehnya. Dan hukum haramnya pengharaman cincin besi adalah hukumnya yang menunjukkan adanya perubahan, maka dalam tarjiih, perubahan hukum didahulukan daripada hukum asal.



KESIMPULAN :

-         Memakai cincin hukumnya sunnah (minimal hukumnya mubah dan tidak makruh)

-         Para lelaki tidak boleh menggunakan cincin dari emas atau yang ada campuran emasnya atau polesan emas, dan boleh menggunakan cincin dari perak dan juga batu-batu mulia dan permata. (Lihat fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah di http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9376)

-         Bagi wanita boleh memakai cincin dari emas dan perak di jari mana saja, karena para wanita dituntut untuk berhias

-         Tidak boleh menggunakan cincin dari besi baik lelaki maupun wanita, karena itu merupakan perhiasan penduduk neraka.

-         Disunnahkan bagi lelaki memakai cincin di jari kelingking baik di tangan kanan atau di tangan kiri.

-         Dibolehkan juga bagi lelaki untuk memakai cincin di jari manis, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Hanya diharamkan (atau dimakruhkan menurut sebagian ulama) jika menggunakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah

Masih banyak hukum-hukum dan perkara-perkara yang berkaitan dengan cincin, silahkan baca di (http://www.saaid.net/Doat/yahia/59.htm)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 17-04-1434 H / 27 Februari 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Rabu, 15 Juli 2015

AIR MATA BAHAGIA DI HARI RAYA

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 02.59 No comments




Segala puji bagi Alloh dengan limpahan nikmat-Nya terkhusus nikmat dimudahkannya kita memasuki bulan Ramadhan dan hari Raya Idul Fithri. Semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam, keluarga beserta Para Sahabat yang setia.

Para Pembaca yang berbahagia,
Berjuta kenangan indah dengan segala kebaikan, keutamaan, dan nikmatnya ibadah telah terukir pada bulan Ramadhan yang takkan terlupakan sepanjang masa menjadikan Ramadhan bulan yang agung dan selalu dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya bagi orang-orang yang beriman.

Berjuta kenangan terindah karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia ketika mereka dulunya tersesat.

Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.QS. Al Baqarah: 185

Berjuta kenangan terindah karena Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya syetan-syetan.
Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila telah datang Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu”. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, dll)

Berjuta kenangan terindah karena Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan dimana pahala ibadah dilipat gandakan menjadi seribu bulan.

Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. QS. Al Qadr: 1-5

Dan masih banyak lagi berjuta kenangan terindah tak terlupakan yang telah dikabarkan oleh Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shallallohu’alaihi wa sallam.

Maka beruntunglah orang-orang beriman yang dapat merasakan manisnya kenangan-kenangan terindah tersebut ketika terkumpul di dalam sanubarinya dua hal yang dituntut oleh Syariat, yang pertama yakni berharap agar seluruh amal kebaikan yang dia usahakan dapat diterima oleh Alloh Ta’ala, dan yang ke dua yakni khawatir apabila amal-amal yang telah ia usahakan tidak diterima di sisi Alloh Ta’ala.

Seorang yang beriman tidak perlu bersedih dengan kepergian Ramadhan akan tetapi hendaklah ia jelang dan hadapi bulan-bulan berikutnya dengan berusaha istiqomah seperti yang ia telah amalkan pada bulan Madrasah yakni bulan Ramadhan. Seorang yang beriman hendaklah selalu memohon kepada Alloh Ta’ala agar ia dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.
Imam Ibnu Rajab berkata di dalam kitab Lathaiful Ma’arif  1/232: “Sebagian Salaf (Ulama Sholih terdahulu-pen) mereka berdoa memohon kepada Alloh selama 6 (enam) bulan agar bertemu dengan bulan Ramadhan kemudian berdoa juga 6 (enam) bulan berikutnya agar Alloh menerima ibadah mereka”.
Mu’alla bin Al Fadhl berkata: “Mereka (para Salaf)  berdoa kepada Alloh selama 6 (enam) bulan agar Alloh mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan".   [Ad Durrul Mantsur  1/454 oleh As Suyuthi, Wazhaif Ramadhan hal. 21]

Zakat Fitrhi Sebagai Pembersih

Saatnya kaum muslimin sedikit berbagi makanan pokok kepada orang-orang miskin ketika menjelang lebaran sebagai pembersih dari kesalahan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan.
Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ زكَاةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنَ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ .
 “Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri gunanya sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan maksiat, juga untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat (ied) maka ia zakat yang diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka ia adalah sedekah biasa dari beberapa macam sedekah”.  [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani]

Bahagia di Hari Raya

Ketika hari Raya telah tiba Alloh Ta’ala mengizinkan kaum muslimin untuk bergembira dan bersenang-senang sesuai batas-batas syar’i, yakni dikarenakan Fadhilah (karunia) dan Rahmat dari Alloh Ta’ala. Sebagaimana mereka juga berbahagia dengan ibadah-ibadah lainnya terutama yang diamalkan oleh kaum muslimin pada bulan suci Ramadhan.
Alloh Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". QS. Yunus: 58

Hari Raya Iedul Fithri adalah bentuk kasih sayang Alloh Ta’ala kepada kaum muslimin, mereka menampakkan kesenangan dan kebahagiaan dengan makan dan minum serta bermain-main bersama kerabat dan teman-teman.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلِأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Dari Anas berkata, ‘Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam memasuki Madinah, sedangkan penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main padanya. Beliau berkata: “Aku menjumpai kalian sedangkan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain-main padanya, Maka sesungguhnya Alloh telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya yakni hari Raya Fithri dan Hari Raya Sembelihan (Adha)”. [HR. Ahmad 3/103,178,230, Abu Dawud 1134, An Nasa’I 3/179, dan Al Baghawi 1098].

Bahkan dari hadits Aisyah Radhiyallohu’anha pernah menyebutkan dua orang gadis mendendangkan alunan suara dengan iringan rebana pada hari Raya yang hal itu disaksikan langsung oleh Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam menunjukkan bolehnya bagi kaum seperti mereka dan tidak selainnya dikarenakan hari Raya adalah hari bersenang-senang, makan minum, dan bermain.
Ketika hal itu diingkari oleh Abu Bakar, maka Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam seraya menjelaskan; “wahai Abu Bakr, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari Raya, dan inilah Hari Raya kita”. [HR. Bukhori dan Muslim].

Adapun dendangan dan lantunan lagu-lagu dengan kata-kata yang tidak pantas dan mengarah kepada cinta dan maksiat serta menampakkan kemungkaran maka hal ini diharamkan. [Ahkamul ‘Iedain hal. 17 oleh Syaikh ‘Ali Hasan Al Halabi Al Atsari]

Bermain-main, menampakkan kegembiraan, berkumpul dan saling berkunjung kepada sesama kerabat dan teman hal ini asalnya mubah (boleh).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dan di dalam hadits ini (hadits ‘Aisyah) terdapat beberapa faidah diantaranya; disyariatkannya berlapang dada kepada keluarga pada hari-hari Raya dengan berbagai macam hal yang dapat mewujudkan hati yang lapang dan badan yang sehat dari ibadah itu. Dan menjauhkan diri dari hal itu lebih utama. Dan di dalamnya (hadits) bahwasanya menampakkan kegembiraan ketika hari-hari Raya termasuk Syiar agama”. [Fathul Bari 2/443, Ahkamul ‘Iedain hal. 18]

Kaum muslimin pada hari Raya menampakkan hal-hal yang menyenangkan tersebut karena Rahmat Alloh Ta’ala dan sebagai perwujudan syukur mereka akan nikmat Alloh Ta’ala yang begitu indah.

Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:

 لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengannya; ketika berbuka ia gembira, dan ketika berjumpa dengan Tuhannya ia gembira dengan puasanya”. [HR. Bukhori & Muslim].
Ibnu Rajab mengomentari hadits tersebut mengatakan: “Adapun kegembiraan orang yang berpuasa ketika berbuka dikarenakan jiwa itu tabiatnya condong kepada makanan, minuman, nikah (hubungan suami istri). Maka apabila suatu saat ia tidak mendapatkan hal itu atau dilarang kemudian dibolehkan pada waktu lainnya maka ia gembira dari tadinya dilarang terlebih lagi ketika ia sangat butuh kepada hal tadi”. [Durus Ramadhan hal.13]

Beliau (Ibnu Rajab) juga berkata: “Adapun kegembiraannya ketika berjumpa dengan Tuhannya, gembira karena mendapatkan pahala yang tersimpan di sisi Alloh”. [Durus Ramadhan hal.14]
Bahkan ada diantara kaum muslimin termasuk orang awam yang saking gembiranya dengan mudah bagi mereka meneteskan air mata dan tidak dapat menahannya di hari Raya yang penuh dengan kegembiraan yang dihalalkan oleh Syariat. Demikianlah mudahnya syariat Islam agama Fitrah yang sempurna dan paripurna ini yang dimana tangisan seperti itu tidaklah bertentangan dengan agama Fitrah yakni Islam.

Al Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh menyebutkan di dalam Zadul Ma’ad  bahwasanya tangisan itu terbagi menjadi 10 (sepuluh) macam:
1.       Tangisan Khauf (takut) dan Khosyah (Khawatir)
2.       Tangisan Rahmat (kasih sayang) dan kelembutan
3.       Tangisan cinta dan rindu
4.       Tangisan gembira dan senang
5.       Tangisan keluh kesah dari adanya rasa sakit dan tidak mampu menahannya.
6.       Tangisan sedih
7.       Tangisan karena lemah
8.       Tangisan nifaq
9.       Tangisan sandiwara
10.   Tangisan ikut-ikutan.
Syaikh Sholih bin ‘Awad Al Maghamisi hafizhahullohu Ta’ala  pernah ditanya tentang apa hukum bersedih dari berpisah dengan Ramadhan, ia berkata: “Tidak selayaknya bersedih dari berpisah dengan Ramadhan karena Alloh Ta’ala berfirman (artinya): “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. Maka Alloh memerintahkan kita untuk bertakbir, dan takbir tidaklah terjadi melainkan karena bahagia.

Takbir Sebagai Wujud Rasa Syukur di Hari Raya

Gema takbir berkumandang pada hari Raya sebagai wujud rasa syukur kita kepada Alloh Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. QS. Al Baqarah: 185

Di dalam sebuah Atsar  dari Az Zuhri bahwa Nabi shallallohu’alaihi wa sallam:
كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ قَطَعَ التَّكْبِيْرَ
“Adalah beliau keluar pada hari Raya Fithri kemudian bertakbir sampai tiba di lapangan tempat shalat dan sampai menunaikan shalat, maka apabila beliau telah tunaikan shalat beliau berhenti bertakbir”. [HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al Mushonnaf dan Al Mahamili di dalam Kitab Sholat Al ‘Idain dengan sanad yang shohih akan tetapi mursal akan tetapi ia memiliki saksi-saksi yang menguatkannya, lihat Al Silsilah Al Ahadits Ash Shohihah 170]

Al Imam Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahulloh  berkata: “Di dalam hadits itu terdapat dalil tentang disyariatkannya takbir dengan jahar sebagai kebiasaan kaum muslimin di jalan menuju lapangan tempat shalat walaupun sebagian orang ada yang meremehkan sunnah ini”. [Ahkamul ‘Iedain 27]

Syaikh ‘Ali Hasan Al Halabi Al Atsari hafizhahulloh menyebutkan: “Jahar yang tidak dibolehkan di sini adalah jahar dengan satu suara dan berjamaah sebagai yang diamalkan oleh sebagian kaum muslimin”. [Ahkamul ‘Iedain hal. 28]

Tentang kapan dimulainya takbir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata: “...dan disyariatkan bagi setiap orang untuk menjaharkan takbir ketika keluar ke (lapangan) ied, dan ini adalah kesepakatan Imam yang empat”. [Majmu’ al Fatawa 24/220]
Dari Ibnu Mas’ud berkata ketika menerangkan sifat takbir yang terkandung di dalamnya dakwah Tauhid: “Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa ilaaha illallohu wallohu Akbar, Allohu Akbar walillahil Hamd”. HR. Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan sanad yang shohih

Berharap Diterimanya Amal Ibadah di Bulan Ramadhan

Para Ulama’ terdahulu (Salaf) berharap agar amal ibadah yang mereka selama bulan Ramadhan diterima oleh Alloh Ta’ala sehingga diantara mereka saling mendoakan agar diterima.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang ucapan selamat di hari Raya: “Adapun ucapan selamat pada hari Raya sebagian mereka dengan sebagian lainnya ketika berjumpa setelah shalat ied: “Taqabbalallohu minna wa minkum (semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan juga kalian), dan semoga Alloh menyempurnakan bagimu, atau semisalnya. Maka hal ini telah diriwayatkan oleh sekelompok Shahabat bahwasanya mereka mengamalkannya, adapun sebagian Imam meringnkan hal itu seperti Ahmad dan selainnya. Akan tetapi Ahmad berkata: “Saya tidak memulai kepada seorangpun, apabila ada orang yang memulainya maka akan Saya jawab, karena menjawab ucapan selamat adalah wajib. Adapun memulai dengan ucapan selamat itu bukanlah sunnah yang diperintahkan dengannya tidak juga dilarang. Barangsiapa yang mengamalkannya maka ia adalah pemberi tauladan, dan orang yang meninggalkannya juga sebagai tauladan, Wallohu A’lam”.
Dan telah dibawakan oleh Al Jalal as Suyuthi di dalam Risalahnya Wushul Al Amani Bi Ushul At Tahani beberapa atsar dari Salaf tentnag penyebutan ucapan selamat, dan telah dicetak pada Al Hawi Lil Fatawi 1/81,82.

Demikian pula Ibnu hajar menyebutkan bahwa para Shahabat Nabi shallallohu’alaihi wa sallam mengucapkan Taqabbalallohu minna wa minka. [Fathul Bari 2/446]
Di dalam Wazhaif Ramadhan Ibnu Rajab berkata: “Para Salaf, mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyempurnakan dan memperbaiki amalan mereka. Kemudian setelah itu mereka sangat memperhatikan agar amalan mereka diterima, mereka takut jika amalannya tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”. QS Al Mu’minun: 60
Diriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata: “Hendaklah kalian lebih memperhatikan agar amalan kalian diterima (setelah beramal), daripada perhatian kalian terhadap amalan kalian (tatkala sedang beramal). Apakah kalian tidak mendengar firman Alloh:
“Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27

Dari Fadhalah ia berkata: “Saya mengetahui, bahwa Alloh menerima amalan saya walaupun sekecil biji sawi lebih saya sukai daripada dunia dan seisinya karena Alloh berfirman: “Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27”.
Abu Darda’ berkata: “Saya mengetahui, bahwa Alloh telah menerima dariku satu shalat saja lebih aku sukai daripada bumi dan seisinya, karena Alloh berfirman: “Sesungguhnya Alloh hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. QS. Al Maidah: 27”. [Tafsir Ibnu Katsir]
Malik bin Dinar berkata: “Perasaan takut jikalau amalan tidak diterima, lebih berat daripada beramal”.
‘Atha’ As Sulami berkata: “Waspadalah, jangan sampai amalanmu bukan karena Alloh”.
Abdul Azizi bin Abi Ruwwad berkata: “Aku mendapati mereka (para Salaf) sangat bersungguh-sungguh tatkala beramal shalih. Namun jika mereka telah selesai beramal, mereka ditimpa kesedihan dan kekhawatiran apakah amalan mereka diterima atau tidak?”
Oleh karena itu para Salaf setelah enam bulan berdoa agar dipertemukan oleh Alloh dengan Ramadhan. Mereka juga berdoa setelah Ramadhan selama enam bulan agar amalan mereka diterima oleh Alloh.

Istiqomah Setelah Ramadhan Berlalu

Terkadang ada yang merasa rindu dengan kepergian Ramadhan padahal Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam telah memberikan solusi yang tepat untuk mengobati rasa rindu tersebut yakni dengan melaksanakan puasa selama enam hari di bulan syawal sehari setelah hari Raya.
Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti oleh puasa enam hari pada bulan syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa selama setahun”. [HR. Muslim 3/169, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dll]

Tanda-tanda Diterimanya Ibadah Puasa Ramadhan

Syaikh Abdur Razzaq Al Badr di dalam khutbahnya membawakan perkataan para Ulama tentang tanda-tanda diterimanya amal ibadah puasa dan menegakkan ibadah shalat pada bulan Ramadhan yaitu; Hendaklah keadaan seorang hamba setelah bulan Ramadhan lebih tenang, bersyukur, berbuat baik dan patuh kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Apabila seorang hamba dalam keadaan tersebut maka inilah tanda-tanda diterimanya amal dan kebaikan. Adapun sebaliknya wahai para hamba Alloh, apabila keadaan seorang hamba yang tadinya di bulan Ramadhan taat beribadah kemudian meninggalkannya, kembali bermaksiat, maka hal itu bukanlah tanda kebaikan. Ulama’ Salaf terdahulu ketika dikabarkan tentang keadaan sebagian orang yang bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan dan ketika berlalu mereka meremehkan ibadah, berkata Salaf: ‘Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Alloh melainkan ketika Ramadhan”.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menggugah kembali semangat kita dalam beribadah di bulan syawal dan bulan-bulan indah lainnya. Dan semoga Alloh Ta’ala menerima amal ibadah kita semua dan mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan serta rintihan istighfar dan permohonan ampun dari kekeliruan kita dan kelemahan kita sebagai manusia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wallohu Ta’ala A’lam. 

Abu Abdillah Riza

Referensi:
-          Al Qur’an dan Terjemahannya
-          Ahkamul ‘Iedain
-          Durus Ramadhan
-          Lathaiful Ma’arif
-          Maktabah Syamilah
-          Beberapa situs berbahasa Arab seperti; ahlalhdeeth.com –saaid.net –islamek.net -dll    



Cari Artikel Hidayahsalaf