• Mempersiapkan suasana yang benar. Keluarkanlah gambar-gambar yang ada di rumah yang akan dipakai untuk mengobati agar para malaikat berkenan memasukinya. 2. Mengeluarkan dan membakar penangkal atau jimat yang ada pada penderita, ...

  • Dari Abdullah bin Abu Bakr, bahwasanya di dalam surat yang disebutkan oleh Rasulullah kepada Amr bin Hazm; “Tidaklah yang menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang bersih”. HR. Malik secara mursal, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban......

  • bolehkah seorang suami meninggalkan istrinya untuk bekerja selama dua tahun ke luar negeri? Bagaimana dengan hadits tentang seorang wanita yang mengeluh kepada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassalam ketika ditinggal jihad oleh suaminya? ..

  • Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat..

  • Bagi orang Islam, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk amal dan beribadah. Seiring dengan kemajuan teknologi, ibadah tersebut pun dapat ditunjang secara langsung maupun tidak langsung dengan teknologi yang tersedia, seperti kumpulan aplikasi Android gratis di bawah ini contohnya. ...

  • Pertanyaan: Kami mendengar ada keyakinan yang mengatakan bahwasanya tidak boleh menikah, melakukan khitan dan lain sebagainya pada bulan Safar. Mohon penjelasan tentang hal ini menurut pandangan Islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Anda semua. Jawaban......

Minggu, 28 September 2014

Hukum berkurban dengan kerbau

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 17.24 No comments

Hukum Berkurban dengan Kerbau

Disebutkan di dalam kitab Masail Al Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rohuyah 8/4027 :

“Saya katakan: Kerbau cukup bagi 7 orang”

Penta’liq mengatakan: Kerbau adalah termasuk sapi.
[Lisan Al ‘Arob 4122, Al Mishbah Al Munir 1/108]

Al Baihaqi berkata: “Kerbau-kerbau pada sembelihan dan kurban sama seperti sapi memenuhi kriteria dan umurnya. Satu kerbau cukup bagi 7 orang dikarenakan kerbau bagian dari sapi.
[Kasyful Qona’ 2/533]

Demikian juga hal yang sama dijelaskan di dalam kitab ;

Ad Din Al Kholis 1/163
Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu 3/272
Al Mausu’ah Al Fiqh Al Kuwaitiyah 8/158  
Tahqiq di Fiqh As Sunnah 1/365
Mukhtashor Al Qindil Fi fiqh Ad Dalil 1/3

Dan lainnya

Dua orang berkurban Kerbau

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 16.20 No comments
Dua orang berkurban Kerbau 

اطلعنا على الطلب المقيـد برقم 200 المتضمن :- ما الحكم الشرعي في اشتراك شخصين في شراء عجل جاموس للتضحية به في عيد الأضحى؛ كل شخص عن أسرته؟
 أمانة الفتوى : الجواب: يجوز شرعًا اشتراك أكثر من شخص إلى سبعة في كل من البدنة والبقرة، وهذا قول جمهور العلماء؛ لما روى أحمد والترمذي وحسنه والنسائي وابن ماجه عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: «كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَحَضَرَ الْأَضْحَى، فَاشْتَرَكْنَا فِي الْبَقَرَةِ سَبْعَةٌ وَفِي الْبَعِيرِ عَشْرَةٌ» ، وروى الإمام مالك في الموطأ وأحمد ومسلم وأبو داود والترمذي وابن ماجه عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال: «نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِالْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ». قال الإمام الترمذي: والعمل على هذا عند أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وآله وسلم وغيرهم. ومما ذكر يعلم الإجابة عن السؤال. والله سبحانه وتعالى أعلم.

Memperhatikan permohonan fatwa No. 200 tahun 2004, yang berisi:

    Apa hukum dua orang yang menyembelih kurban berupa seekor kerbau jantan, yang setiap orang dari mereka adalah atas nama keluarganya?

Jawaban Dewan Fatwa;    
Secara syar’I boleh menggabungkan hingga tujuh orang dalam kurban berupa seekor unta dan sapi. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Pendapat mereka berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ahmad, Tirmidzi – dan dia menshahihkannya—, Nasa`I dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas Radhiyallohu’anhu., dia berkata, "Pada suatu ketika kami bersama Rasulullah Shallallohu’alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Kemudian tiba Hari Raya Idul Adha. Lalu tujuh orang dari kami bergabung menyembelih seekor sapi dan sepuluh orang dari kami bergabung menyembelih seekor unta".

    Imam Malik di dalam kitab al-Muwaththa', Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallohu’anhu, dia berkata, "Ketika di Hudaibiyah, kami bersama Rasulullah Shallallohu’alaihi wa sallam menyembelih kurban berupa seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang". Imam Tirmidzi berkata, "Menurut para ulama dari kalangan sahabat Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam dan yang lainnya, yang diamalkan sesuai dengan hadis ini.
    Dari penjelasan di atas dapat dipahami jawaban dari pertanyaan di atas.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

http://www.dar-alifta.org/

Rabu, 17 September 2014

hadits seputar dzulhijjah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 06.53 No comments


HADITS-HADITS AMALAN DI BULAN DZULHIJJAH

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".
[HR. Abu Dawud no. 2440 dishahihkan oleh Al Albani, Ibnu Majah no. 1727, Ibnu Hibban no. 324, Ahmad no. 1968, Al Baihaqi no. 8652, dll]

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Dari Umar Radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".
[HR. Ahmad no. 6154]



عَن أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 "Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa kecil yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".

[HR. Bukhori no. 1773, Muslim no. 3355, al Baihaqi no. 1778, Thobroni no. 905, Malik no. 767, an Nasa’I no. 2629, dll]

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
"Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".
[HR. Muslim no. 2803]

عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Dari Anas berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu".
[HR. Bukhori no. 5565, Buslim no. 5199, Ahmad no. 13234, Tirmidzi no. 1494, Nasa’I no. 4387 dan dishahihkan oleh al Albani]

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ ».

Dari Ummu Salamah Radhiyallhu 'anha bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya".
[HR. Muslim no. 5234]

عن البراء قال : سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يخطب فقال ( إن أول ما نبدأ من يومنا هذا أن نصلي ثم نرجع فننحر فمن فعل فقد أصاب سنتنا)
Dari al Barro’ berkata; “Saya mendengar Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam berkhutbah: “Sesungguhnya hal pertama yang kami mulai dari hari (idul adha) kita ini, agar melaksanakan sholat kemudian kami kembali dan menyembelih. Barangsiapa yang mengerjakannya maka ia   mencocoki sunnah kami”
[HR. Bukhori no. 908]

Alkatib: Abu Abdillah Riza

Selasa, 16 September 2014

Ma'had Imam Syafi'i Brebes

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 04.58 No comments
Ma'had Imam Syafi'i Brebes

Visi:

1.       Membentuk generasi Tholibul Ilmi yang Robbani, Bermanhaj Salaf (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) dalam semua Aspek Kehidupannya.

2.       Mewujudkan Lembaga Pendidikan Islam yang Diakui dan Bermutu dalam Lingkup Nasional.

   Misi:

1.       Menyelenggarakan Pendidikan Islam berkualitas dalam ilmu, Amal dan Akhlak yang Bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.
2.       Mencetak Para Huffazh Al Qur’an Yang Menguasai Bahasa Arab dan ‘Ulum Syar’iyah yang mampu mendidik dan Berdakwah.
3.       Menyelenggarakan Pendidikan Pengetahuan umum, Ketrampilan dan Enterpreneurship yang memadai.
4.       Mengembangkan Pendidikan Islam yang berorientasi Akhlakul karimah, Sopan Santun, Kasih Sayang dan Masa Depan Yang Mampu Bersaing dalam dunia Global.


PROGRAM PENDIDIKAN:
  
 1.       Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) -Home Schooling.

 2.       Ibtidaiyyah Tahfizhul Qur’an, setingkat SD -Home Schooling.

  3.       Mutawasithah Tahfizhul Qur’an, setingkat SLTP -Boarding School.

  4.       Tadribud Du’at Tahfizhul Qur’an (TD TQ) setingkat Diploma 2 -Boarding School.


Program Tadribud Duat (Pengkaderan Da'i) masih dibuka dan menerima santri Mustami'


Biaya Pendidikan:


1. Uang Bulanan (pilih): a. Rp. 200.000,-
                                          b. Rp. 250.000,-
                                          c. Rp. 300.000,-

2. Gratis, dengan memberikan infaq SARPRAS yang dapat dicicil selama setahun.
                    a. Rp. 1.500.000,-    
                    b. Rp. 2.000.000,-
                    c. Rp. 2.500.000,-

3. Gratis bagi yang tidak mampu.

bebas uang Pendaftaran.


Selasa, 09 September 2014

ARTI NAMA-NAMA BULAN

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 17.56 No comments

ARTI NAMA-NAMA BULAN Dalam Kalender Hijriyyah

OLEH: USTADZ AHMAD SABIQ
ABU YUSUF

Sebagaimana yang telah kita singgung pada rubrik Kajian Keluarga, sebelum Islam datang, di tanah Arab telah dikenal adanya sistem kalender berbasis campuran antara bulan (Qomariyyah)  dan matahari (Syamsiyyah). Tahun baru mereka selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas (sekitar September).
Nama bulan-bulan dalam kalender Arab adalah: Muharrom, Shofar, Robi’ul Awwal, Robi’ul Akhir, Jumadal Ula, Jumadal Akhiroh, Rojab, Sya’ban, Romadhon, Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah. Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari, sehingga setahun ada 354 hari, 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi‘ yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzulhijjah.

Untuk menentukan bulan ekstra tersebut terkadang mereka berselisih pendapat sehingga terkadang juga menjadi salah satu pemicu munculnya masalah antara kabilah-kabilah Arab. Namun setelah Islam datang, Alloh ‘azza wa jalla mengharamkan bulan ekstra tersebut. Alloh ‘azza wa jalla berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ _إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُواْ يُحِلِّونَهُ عَاماً وَيُحَرِّمُونَهُ عَاماً لِّيُوَاطِؤُواْ عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللّهُ فَيُحِلُّواْ مَا حَرَّمَ اللّهُ زُيِّنَ لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu. Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Alloh beserta orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Orang-orang yang kafir, disesatkan dengan mengundur-undurkan itu. Mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Alloh haramkan, lalu mereka menghalalkan apa yang diharamkan-Nya. (Setan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. at-Taubah [9]: 36-37)

Nama-nama bulan Arab tersebut disesuaikan dengan kondisi alamiah saat itu atau kondisi sosial bangsa Arab saat itu. Bulan pertama dinamai Muharrom, sebab pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan. Dan pada bulan Oktober daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai Shofar (kuning). Pada bulan November dan Desember terjadi musim semi (robi‘) sehingga berturut-turut dinamai Robi’ul Awwal dan Robi’ul Akhiroh. Januari dan Februari adalah musim dingin (jumad atau “beku”) sehingga dinamai Jumadal Awwal dan Jumadal Akhiroh. Kemudian salju mencair (Rojab) pada bulan Maret. Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya’ban (syi’b=lembah), saat manusia turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau mengembala ternak. Pada bulan Mei suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada bulan Juni. Itulah bulan Romadhon (pembakaran) dan Syawwal (peningkatan). Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang istirahat duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini dinamai Dzulqo’dah (qo’id=duduk). Akhirnya, Agustus dinamai Dzulhijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrohim ‘alaihis salam.[1]
Dalam website resmi Taqwim Ummul Quro, kalender hijriyyah resmi yang digunakan di Arab Saudi, disebutkan bahwa arti nama-nama bulan hijriyyah adalah:
  1. MUHARROM: bulan pertama pada kalender hijriyyah. Dinamakan dengan Muharrom karena bangsa Arab saat itu mengharamkan perang pada bulan ini.
  2. SHOFAR: dinamakan dengan Shofar karena perkampungan Arab Shifr (kosong) dari penduduk, karena mereka keluar untuk perang. Ada yang mengatakan bahwa dinamakan dengan Shofar karena dulunya bangsa Arab memerangi berbagai kabilah sehingga kabilah yang mereka perangi menjadi shifr (kosong) dari harta benda.
  3. ROBI’ AWWAL: dinamakan demikian karena saat penamaan bulan ini bertepatan dengan musim semi.
  4. ROBI’ TSANI (AKHIR): dinamakan demikian karena bangsa Arab saat itu mengembalakan hewan ternak mereka pada rerumputan. Dan ada yang mengatakan bahwa dinamakan demikian  karena  bulan  ini  bertepatan  dengan musim semi.
  5. JUMADA ULA: dinamakan demikian karena saat penamaan bulan ini jatuh pada musim dingin, dimana air jumud (beku)
  6. JUMADA AKHIROH (TSANIYAH): dinamakan demikian karena saat penamaan bulan ini jatuh pada musim dingin, dimana air jumud (beku)
  7. ROJAB: dinamakan bulan Rojab karena bangsa Arab melepaskan tombak dari besi tajamnya untuk menahan diri dari peperangan.
  8. SYA’BAN: dinamakan demikian karena bangsa Arab saat itu berpencar ke berbagai tempat untuk mencari air.
  9. ROMADHON: dinamakan demikian karena saat penamaan jatuh pada musim panas.
  10. SYAWWAL: dinamakan demikian karena saat itu unta betina kekurangan air susu.
  11. DZULQO’DAH: dinamakan demikian karena bangsa Arab duduk dan tidak berangkat untuk perang, karena bulan ini termasuk bulan haram yang tidak boleh perang.
  12. DZULHIJJAH: dinamakan demikian karena bangsa Arab melaksanakan ibadah haji.[2]
Sumber: majalah al-Mawaddah vol. 36, hal. 12-13 suplemen


Meninggal di laut diganti tanah

Posted by Abu Abdillah Riza Firmansyah On 17.44 No comments

Meninggal di laut diganti tanah

Kita ketahui bersama bahwa seorang muslim yang ingin bersuci (berwudhu atau mandi junub) dan tidak menemukan air atau tidak bisa menggunakan air, maka ia bertayammum dengan memakai tanah sebagai pengganti air.  Akan tetapi sekarang sebaliknya, ada suatu keadaan bahwa seseorang itu menggunakan air sebagai pengganti tanah…  Bagaimana hal ini bisa terjadi…?

Jawabannya: Jika seseorang meninggal di atas kapal laut dan daratan masih jauh sekali jaraknya. Dikhawatirkan si mayit tersebut akan berubah atau membusuk, maka disyariatkan untuk segera memandikan, mengkafani dan menyolatinya. Lalu di ikatkan dengan suatu pemberat dan diturunkan atau ditenggelamkan di lautan untuk penguburannya sebagai pengganti penguburan di tanah daratan.  Berkaitan dengan hal ini, seorang penyair mengatakan: 
ومن مات في بحر قد عز دفنه *** ففي البحر يلقى وهو بالترب بدلا
“Siapa yang meninggal di lautan tidak mungkin dikuburkan, maka di lautan itulah diturunkan sebagai pengganti tanah daratan.” (Ad-Durorul Bahiyyah, hal. 8)

Ashhabulhadits.wordpress.com

Cari Artikel Hidayahsalaf